
Di ruangan kantor polisi, dua wanita itu tercengang dengan wajah takutnya menjawab serentak, "Tidak, Pak. Kami tidak terlibat."
Wajah pucat Wuri dan juga Sarah membuat polisi di depan mereka sampai menggelengkan kepala.
Hampir empat jam, pertanyaan demi pertanyaan pun akhirnya mulai menunjukkan jalan titik terang.
"Jadi, maksud dari Nyonya Wuri? Suami anda berniat untuk memperdaya tubuh Sendi, apa benar seperti itu?"
Wuri menggelengkan kepalanya. "Bukan memperdaya Pak. Suami saya mengangkat anak agar bisa menjadi penerus perusahaan Densal Company." terangnya meluruskan ucapan polisi di depannya yang terdengar begitu buruk.
Polisi itu menarik napas lalu menghela kasar. "Nyonya Wuri, itu sama saja dengan memperdaya saudara Berson Nicolas. Bahkan kalian hanya membutuhkan tenaganya saja untuk keberlangsungan hidup kalian dengan menikahkan Dina, anak kandung kalian."
Wuri meneguk kasar salivahnya. Memang benar apa yang di ucapkan pria di depannya saat ini. Dina adalah anak kandung dari mereka, namun Deni bersikukuh untuk menjadikan Sendilah sebagai anak kandungnya. Demi bisa menjadi tulang punggung keluarga mereka sekaligus menjadi suami dari anak mereka.
Tidak perlu lagi pikirnya meminta Dina untuk cemas dengan hidupnya di masa depan jika menikah dengan Sendi yang sudah di percayai akan mensejahterakan kehidupannya.
Tok Tok Tok
Suara pintu terdengar dari luar ruangan tersebut.
"Ini Dan, laporannya sudah selesai. Tinggal kesaksian dari Nyonya Sarah lagi." tuturnya menyerahkan berkas yang baru selesai ia print.
Tegar meraih kertas tersebut dan menggelengkan kepala setelah selesai membacanya. "Yasudah, lanjutkan semuanya dengan segera."
Tegar melangkah meninggalkan ruangan itu dan keluar dari kantor tersebut.
"Gila! Ini keluarga benar-benar gila." umpatnya sembari memijat keningnya kala sampai di dalam mobil pribadinya.
Tegar menggerakkan tubuhnya untuk menekan tombol start mobilnya. Mobil pun melesat pergi meninggalkan halaman parkir.
Langit yang tampak cerah satu hari ini terlihat mulai bergeser menjadi sedikit gelap. Awan putih mulai berubah perlahan menjadi warna jingga.
Netra cokelat itu terpantul dengan indahnya dengan cahaya mentari yang mulai tenggelam. Mengapa hidup tidak semudah itu untuk sempurna pikirnya.
Hampir saja ia bahagia dengan lengkapnya cinta yang begitu tak terduga datang dalam hidupnya, tapi mengapa seakan Tuhan mengatakan jika kau belum cukup dengan ujian yang telah ku berikan.
"Tuhan, apakah ini hukuman untukku? karena sudah meninggalkanmu?"
Pelukan hangat kembali membuatnya begitu terkejut. Ruth melihat tangan kekar berbulu sudah melingkar dengan sempurna di perutnya dari arah belakang.
"Ikut aku," bisik Dava di telinga sang istri sembari memberikan tiupan halus.
Sontak, Ruth merasakan dengan jelas seluruh bulu di tubuhnya berdiri dengan cepat.
"Dav..." tuturnya.
__ADS_1
"Ayo." Dava melepaskan pelukan itu dan langsung menggandeng tangan sang istri.
"Kemana?" Ruth bertanya sembari mengikuti terus langkah sang suami.
"Pakai ini." pintah Dava memberikan sebuah gaun mewah dengan bungkusan kotak yang di desain begitu cantik. Tak pula ia lilitkan tali pita berwarna pink yang menambah kesan romantis tentunya.
Ruth mengernyit kala menerima benda itu. "Cepat pakailah. Aku tunggu di luar. Okey?" Dava meninggalkan Ruth tanpa mendengar teriakan sang istri yang sudah ia tutupi pintu kamar.
Di dalam kamar, Ruth memperhatikan setiap inci gaun tersebut. Benar-benar indah, matanya yang kecokelatan pun tampak tersilaukan dengan beberapa manik yang bertengger di kain indah itu.
"Untuk apa aku memakai ini?" tanyanya pada dirinya sendiri.
Tangan lentiknya terus menatap gaun itu hingga langkah kakinya bergerak menuju ke arah cermin besar di kamar tersebut.
Akhirnya dengan pikiran yang masih bimbang, perlahan ia mulai mengganti pakaian di tubuhnya dan memakai gaun pemberian sang suami. Benar-benar cocok. Sangat indah.
Di putar tubuhnya di depan cermin, ada lekukan bibir ia berikan kala menatap tubuh cantik miliknya yang sangat sempurna.
"Kok bisa pas begini yah?" tanyanya lirih. Ruth tersadar akan satu hal, bibirnya di bungkam oleh tangan lentik itu.
"Oh...jangan-jangan ini yang di ukur sama orang itu...astaga bagaimana aku lupa? Tapi...untuk apa gaun semahal ini ku pakai yah?" matanya terus memperhatikan di ikuti dengan tangan yang bergerak memeriksa setiap lekukan tubuhnya.
Tok Tok Tok
"I-iya...tunggu sebentar." Ruth berteriak. Bahkan ia lupa jika kamarnya itu kedap suara.
"Aaaaaa..." teriaknya saat hendak menarik resleting di punggungnya agar tertutup sempura, namun Dava sudah lebih dulu masuk.
Matanya membulat, tenggorokannya begitu terasa sulit saat ingin meneguk salivahnya. Dava bahkan tak bergeming dari posisinya sedari tadi. Punggung putih mulus tanpa satu titik pun noda di sana benar-benar ingin di sentuhnya saat itu juga.
"Dava...mengapa masih di situ. Tolong keluarlah sebentar lagi." pintah Ruth namun masih tak di dengan oleh pria itu.
"Haloww...Dava!"
"Ah...iya. Ada apa, Ruth? Kau perlu bantuanku?" tanya Dava seraya menggelengkan kepalanya agar tersadar dari lamunannya.
Ruth yang malu, langsung menutup pintu. Hingga Dava pun ikut terdorong keluar kembali.
Lima belas menit berlalu. Kini pintu kamar pun terbuka.
Dava menatap tubuh molek yang berlenggang anggun ke arahnya saat ini. Cantik, sangat cantik. Meski di wajah itu tak terlihat polesan make up sama sekali.
"Sudah ku pakai. Sekarang apa boleh aku menggantinya?" tanya Ruth berdiri di hadapannya.
__ADS_1
Dava tersenyum hangat dan melangkah mendekat pada wanita itu. "Ikut aku."
Begitu banyaknya lilin yang berjajar indah di halaman rumah membentuk sebuah petunjuk di setiap belokan di mulai dari ruang makan.
"Lilin?" lirih Ruth kala melihat benda menyala begitu banyak.
Dava masih terus tersenyum melangkah di depannya dengan menggenggam tangannya tanpa mau melepaskan.
Tiba di taman mini belakang rumah. Ruth mengernyit saat melihat ada sorotan lampu begitu menyilaukan pandangannya.
"Awh..." Tangannya refleks bergerak menutup arah lampu itu.
Instrumen musik biola terdengar menggema di tempat terbuka itu. "Haahhh..."
Sebuah kekaguman yang benar-benar tidak pernah terbayangkan olehnya sore itu. Suaminya memberikan kejutan untuknya ternyata. Apakah ini sebuah mimpi? tidak. Ruth memejamkan matanya dengan paksa lalu membukanya kembali. Ini sangat nyata. Ini benar-benar nyata, Ruth. pikirnya.
Di tatapnya wajah tampan di hadapannya saat ini yang sedari tadi terus menatapnya dengan senyuman hangat. "Ayo, kita nikmati hidangannya." Dava mengajaknya semakin mendekat pada meja yang tersedia tidak begitu banyak hidangan di atasnya. Namun sangat romantis. Kursi terletak hanya dua buah.
Ini tentu bisa menjelaskan tanpa di tanya, jika Dava mempersiapkan kejutan khusus untuk mereka berdua.
"Dava, untuk apa ini semua?" Ruth merasa hari ini bukanlah hari yang spesial. Masih sama dengan hari-hari biasanya. Hari yang penuh dengan banyak masalah.
"Lupakan masalah saat ini. Nikmati apa yang Tuhan suguhkan untuk bisa kita nikmati sejenak. Waktu tidak ada yang tahu, Ruth. Bisa saja satu jam kedepan kita akan sedih, atau bahkan hal lainnya. Ayo." Dava membuatnya tersadar. Benar apa yang Dava ucapkan.
Jangan membuang-buang waktumu hanya untuk memikirkan hal yang belum tentu akan segera berakhir. Sedetik pun waktu sangat berarti untuk kita hargai.
Dava menarik kursi untuk sang istri lalu mempersilahkannya duduk. Kemudian ia duduk tepat di seberang wanita itu.
Matanya bergerak menatap tangan mungil nan lentik di depannya. Digenggamnya untuk memberikan kekuatan.
"Gaun ini..."
"Sssst...aku sengaja memesan gaun ini untuk makan malam bersama dengan para rekan bisnis dari luar negeri. Tapi...berhubung aku sudah tidak bekerja di tempat itu lagi, maka tidak ada salahnya kan jika aku membuatmu memakai untuk malam yang berkesan ini?" Dava mengecup punggung tangan sang istri sekilas.
Ruth tersenyum begitu lebar. Jika mungkin Sendi merupakan pria yang sangat romantis, namun tidak pernah sampai seperti saat ini. Sendi memang sangat penuh dengan kejutan, tapi Ruth baru kali ini benar-benar merasakan di istimewakan.
Dava memang selalu bisa menyentuh hatinya dengan cara sederhana sekalipun. Bahkan hanya dengan sebuah pelukan, ia bisa merasakan mana pelukan yang jauh lebih hangat untuknya.
"Dav, maafkan aku. Karena aku, kau harus ikut hidup susah." Ruth berucap dengan rasa tidak enak hatinya. Ia sungguh tidak bisa memaafkan dirinya atas takdir yang begitu buruk menimpanya hingga harus melibatnya orang-orang di sekelilingnya.
Dava memejamkan matanya sekilas, seakan mengatakan jika dirinya tidak masalah dengan hal itu.
"Aku yang meminta maaf padamu. Bahkan selama ini aku juga ikut menikmati hasil dari kejahatan ayahku, Ruth. Aku tidak tahu harus menebus kesalahan itu dengan cara apa? Sekalipun nyawaku yang kau minta, aku rela. Justru satu nyawaku tidak sebanding dengan nyawa keluargamu yang telah pergi."
__ADS_1
"Huh...sudahlah. Aku tidak mau merusak suasana indah ini. Ayo kita makan bersama. Anggap saja ini adalah hari pertama pernikahan kita. Aku akan memberikan hari-hari indah untuk keluarga kita mulai malam ini, istriku."
Bibir pink milik Ruth mengembang begitu bahagianya mendengar penuturan sang suami. Manik matanya pun sampai tak bisa menahan air mata bahagia itu untuk tidak jatuh.