
Penyelundupan perlahan-lahan hampir berhasil hingga beberapa penjaga bisa mereka atasi. Membuatnya tidak sadarkan diri dengan memukul satu persatu punggung.
Rafael memberikan perintah anggotanya untuk mulai masuk satu persatu setelahnya.
"Bagaimana ini, Komandan?"
"Sepertinya mereka telah merancang ini semua dengan baik." sahut dua orang anggota yang melihat ada alarm yang terpasang di sudut atas salah satu pintu lebar yang tertutup.
Rafael mencermati sejenak, matanya melirik beberapa sudut yang terhubung dengan kabel. "Mereka tidak hanya memasang alarm saja..." Rafael melirik saluran kabel yang tertempel di atas tiang bangunan tua itu.
"Bom," ucap salah satu anggota kala melihat kerlap kerlip cahaya yang sudah siap untuk meledak dalam hitungan mundur.
"Waktu kita tidak banyak. Hadapi mereka, dan aku yang akan mengambil target kita." Rafael memberikan perintah dengan wajah yang sangat serius.
Ini adalah salah satu resiko pekerjaan mereka kali ini. "Tapi, Komandan..." mereka bahkan tidak bisa menerima peintah dari sang atasan saat mengetahui kali ini adalah nyawa target dan juga komandan mereka akan menjadi taruhannya.
"Cepat lakukan! Ini perintah." ucap Rafael hendak mendorong pintu tersebut.
"Tidak. Biarkan saya yang mengatasi ini, Komandan..." ucap anggota lainnya lagi.
Rafael bingung, ia serba salah memilih jalan kali ini. Satu-satunya orang yang memiliki kemampuan menganalisis bom hanya dirinya. Tetapi waktu bom yang membuat mereka kesulitan untuk membagi tugas.
"Jika aku yang mengatasi bom, aku tidak akan pernah tahu apakah pekerjaanku saat ini berhasil atau gagal. Tetapi jika aku yang masuk ke dalam, setidaknya nyawa kalian tidak akan terancam. Dan tugasku sebagai komandan kalian tidak akan salah untuk memimpin kalian dan menjadi yang terdepan. Cepat, menjauh dari sini!" Rafael tidak ingin membuang waktu lebih banyak lagi untuk berdebat.
Satu persatu dari anggota mereka saling menatap. Mereka sangat tidak rela jika komandan mereka yang sangat baik pada mereka selama ini akan mempertaruhkan nyawa dengan sia-sia.
Brak!! Pintu terbuka dengan cepat.
"Dana!!" teriak Rafael sangat terkejut saat melihat aksi nekat sang anggota.
"Lakukan, Komandan!" teriakan serentak para anggota kepolisian yang bersamanya saat ini.
__ADS_1
Rafael yang di dorong kasar oleh sang anggota terpaksa bergerak cepat untuk memanjat tempat bom terpasang saat ini. Ia tidak akan menyia-nyiakan kenekatan sang junior kali ini.
Nyawa dua orang ada di tangannya.
"Sialan! Bagaimana bisa seorang komandan di perintah seperti ini?" umpat Rafael di sela-sela aksi memanjatnya dengan keringat dingin yang sudah mengucur deras.
Sementara yang lain di depan pintu sudah mendapat serangan lagi dari pasukan yang baru bermunculan saat melihat aksi nekat sang polisi tersebut.
Satu-satunya orang yang bisa mereka sandera untuk melemahkan tuntutan keluara Surya Dinata, adalah korban yang ada di dalam. Korban yang sudah belasan tahun mereka sekap.
Tit Tit Tit Tit
Hitungan dari benda itu terus berjalan, Rafael yang kini sudah sampai di atas tiang bangunan tua itu mengusap keringatnya yang hampir masuk ke dalam mata.
"Ayo Raf, fokuslah! Ayo, Please pakai instingmu dan keyakinanmu..." Ia memejamkan mata sedetik dan memperhatikan beberapa kabel itu.
Tangannya sudah tampak menggenggam alat pemutus kabel di depannya.
Tek! Bunyi suara kabel terputus.
Dan di saat yang bersamaan, bom itu berhenti berbunyi.
"Huh!" Rafael menghela napasnya kasar.
Ia tersenyum melihat anggotanya di bawah sana sudah berdiri berjajar rapi dengan acungan jempol di tangan mereka masing-masing.
Rafael mengernyit saat melihat wajah pria dan wanita tua. Matanya menatap dua orang itu. Jika yang wanita, tentu ia sudah bisa menduga berkat hasil dari laporan rekannya. Namun, pria itu ia sungguh tidak menyangka jika ia juga masih ada dan berada di tempat yang mereka tuju.
Segera, Rafael merosot dari tiang dan berjalan mendekat kepada dua orang asing yang satunya di bopong oleh anggota bernama Dana, dan pria tua yang baru ia lihat sudah di gendong oleh tiga orang anggotanya.
"Si-apa kalian?" pertanyaan dengan suara terbata terucap dari bibir wanita tua itu.
__ADS_1
Rafael berusaha tenang dan tersenyum. "Kami dari kepolisian, Ibu. Harap tenang, anda aman bersama kami." tutur Rafael beucap dengan tenang.
Wanita itu menggeleng dan meneteskan air matanya yang berkelopak sudah biru. "Anakku...dimana anakku?" tangisnya saat melihat hanya ia dan sang suami yang saat ini berada di kumpulan pria-pria bertubuh tegak itu.
"Tenang, Ibu. Ayo kita harus segera membawa mereka..." tutur Rafael yang melihat jam di tangannya sudah masuk dalam jadwal persidangan.
"Tapi komandan...keadaan Bapak ini sangat lemah." sahut salah satu anggotanya mencegah langkah mereka.
Pria kurus, rambut putih, dan wajah yang sangat kurus. Rafael menatap iba, matanya sampai terasa panas menahan kesedihan di sana. Ia sungguh tak sampai hati melihat keadaan orangtua di depannya kali ini.
"Dia sepertinya sudah terkena struk, Komandan." lanjutnya lagi.
Rafael akhirnya memutuskan untuk membawa kedua korban itu ke rumah sakit.
"Baiklah. Kalian ke rumah sakit sekarang. Dan aku yang akan pergi ke pengadilan sendiri."
Namun, lagi-lagi langkahnya terhenti saat mendengar suara salah satu anggotanya. "Komandan, ini..." tangannya terulur menyerahkan salah satu berkas yang ia temukan di dalam laci ruangan tadi. Ternyata salah satu anggotanya masih ada yang berada di dalam ruangan itu.
"Bagus, ini sangat memperkuat." ucap Rafael melihat surat tentang kepemilkan saham yang di miliki oleh perusahaan Densal Company dari perusahaan D Group.
"Ternyata ini trik mereka untuk mengakuisisi perusahaan itu. Bahkan selama bertahun-tahun tidak ada yang mencurigai kasus perusahaan ini? Benar-benar gila." Rafael sampai menggelengkan kepalanya melihat surat yang sudah di tanda tangani oleh kedua korban yang baru saja mereka selamatkan.
"Yasudah. Kita berpisah di sini." Pintah Rafael mengingat ia sudah menghubungi pihak pengacara dari keluarga korban.
"Siap, Komandan!"
Selama perjalanan, berulang kali Rafael menghubungi Dava namun tak mendapat jawaban sama sekali. Tangannya memijat keningnya berulang kali hingga akhirnya ia menyerah.
"Astaga...bagaimana aku lupa? Ini persidangan istrinya. Tidak mungkin dia tidak ikut hadir juga. Baiklah aku akan memberitahunya di sana." tutur Rafael kembali fokus menyetir mobil offroad yang ia bawa.
"Yah, mungkin karena Ruth yang stress sampai dia tidak bisa mengangkat panggilanku. Huh...Dava aku tidak tahu bagaimana nasibmu selanjutnya..."
__ADS_1
Flashback off