Perjuangan Cinta Nona Ruth

Perjuangan Cinta Nona Ruth
Chapter 128. Cinta Yang Begitu Besar


__ADS_3

"Yey...kita sudah sampai, Mah. Sekalang Putli akan jagain Mamah lebih kuat lagi pokoknya." Suara bocah itu terdengar melengking di telinga siapa pun yang ada di dalam mobil saat mereka baru tiba di pelataran rumah mereka.


Dava menoleh kesamping dimana sang istri duduk kini. "Aku akan mengantarmu sampai kamar." ujarnya begegas melepaskan seat belt yang menempel di tubuhnya dan turun setelah membuka pintu mobil.


 Ruth hanya diam menatap pergerakan sang suami. Ia tersenyum saat Putri yang ada di belakang menghampirinya dari sela-sela kursi di depan.


"Mamah, are you okey?" tanyanya dengan lantih berbahasa inggris.


"Wah, anak Mamah mulai fasih bahasanya ya?" Ruth senang mendengar perkataan menggemaskan sang anak.


Putri tersenyum dan mengangguk.


Ruth menoleh saat pintu di sisinya terbuka. Dava segera melepaskan seatbelt di tubuh sang istri dan menggendongnya.


"Ayo, Sayang." ajak Dava pada Putri yang juga akan turun.


Sedangkan Mbok Nan sudah terlihat di depan rumah menuju pintu untuk membukanya.

__ADS_1


"Terimakasih, Mbok." ucap Dava segera membawa Ruth menuju kamar mereka.


Di belakang, Putri juga ikut berlari ingin mengikuti langkah mereka namun Mbok Nan sudah mencegahnya lebih dulu.


"Eh, Putri. Mau kemana? Sini ikut Mbok. Kita harus ganti baju dulu baru boleh dekat-dekat Mamah."


"Emangnya kenapa, Mbok?" tanyanya dengan polos.


"KIta dari rumah sakit. Di sana itu banyak bekas orang sakit. jadi virusnya berbahaya. Makanya kita mandi dan ganti baju dulu. Setelah itu kita bobok sama Mamah. Bagaimana?" Putri tersenyum lebar.


Ia sangat senang mendengar akan tidur bersama Mamahnya lagi malam ini.


Keduanya bergegas mandi dan berganti baju. Sementara Dava kini sudah mencium kening  sang istri yang akan ia tinggal ke kantor.


"Sayang, istirahatlah dengan baik. Aku akan segera kembali. Okey?"


"Iya, Dav. Hati-hatilah. Aku menunggumu." sahut Ruth mengangguk patuh meski tubuhnya masih terasa lemas dan sangat tidak rela jika sang suami harus pergi meninggalkannya.

__ADS_1


Namun, semua ini juga demi perusahaan sang ayah yang Dava bantu kelola.


Dava melangkah pergi dari kamar. Ketika langkah kakinya hampir menggapai pintu kamar itu, ia menghentikannya saat mendengar suara wanita yang sangat mengobrak abrik hatinya saat ini.


"Dav," panggil Ruth lemas.


"Iya, ada apa, Sayang?" Ia kembali berlari mendekat ke tempat dimana sang istri berbaring.


"Tidak, tidak apa-apa. Jangan cemas seperti itu. Kau membuatku merasa bersalah memanggilmu." Ruth menatap tak berdaya pada sang suami.


Tak salah hatinya jatuh pada sosok pria di depannya kini. Hatinya benar-benar penuh cinta dan perhatian.


"Aku hanya memintamu untuk makan malam. Segeralah makan, Mbok Nan sudah memasak kan tadi."


Senyuman teduh pun terbit di wajah Dava kala mendengar begitu perhatiannya sang istri padanya meski saat ini tubuhnya sangat lemas.


Ia meraih tangan yang terasa lemas itu. Di ciumnya punggung tangan lalu turun ke jari-jari lentik sang istri. "Aku akan makan bersama Sendi nanti setelah urusan kantor selesai. Kau jangan lupa untuk makan yang banyak. Okey? Aku akan meminta Mbok Nan menyuapimu. Maaf aku tidak bisa memberikan suapan pada istriku ini sekarang." Dava begitu merasa tidak enak hati jika harus pergi di saat sang istri belum makan malam.

__ADS_1


Ruth langsung menggelengkan kepalanya. "Pergilah, jangan khawatirkan aku. Mbok Nan akan menjagaku dan mengasihiku dengan tulus. Sama sepertimu, Dav. Maafkan aku merepotkan mu tentang kantor Ayah..."


__ADS_2