
Kedua kelopak mata yang tertutup perlahan mulai memperlihatkan pergerakan yang lemah. Setelah beberapa menit tak sadarkan diri, kini Dava dan sang bunda akhirnya bisa menghela napas mereka.
Di sini, kamar yang selalu terisi dengan tawa dan canda bahagia terlihat menyedihkan. Air mata di kedua pipi Tarisya jatuh seketika. Ia tidak tega melihat penderitaan sang anak yang terjadi saat ini.
"Maafkan, Bunda. Jika bunda tahu kedatangan Bunda justru membawa luka untuk kalian semua...Bunda akan memilih untuk mengakhiri perjuangan hidup Bunda selama di sekap anak-anakku." rintihnya dalam hati menatap pilu anak wanita satu-satunya di antara dua anak laki-laki.
"Sayang, Shandy." tuturnya memeluk Ruth saat baru membuka matanya perlahan.
Samar-samar mata cokelat itu melihat dua sosok yang tampak menatapnya juga. Ia pun dapat melihat dengan jelas siapa yang ada di kamarnya.
"Hehehe...Dav, bahkan saat seperti ini pun aku masih memimpikanmu. Aku tidak percaya ini, Dav. Kau bahkan tidak lagi perduli padaku, kan?" Ia terkekeh kala menyadari sosok sang suami yang terasa seperti halusinasinya saja.
Dava tak bisa berkata apa-apa. Ia menatap nanar sang istri yang kini sudah menjadi adiknya seutuhnya. Sementara Tarisya yang memeluk tubuh anaknya jadi melepaskan pelukan itu. Ia menatap wajah pucat yang terbaring lemah di kasur.
"Shandy, kau tidak bermimpi, Nak. Bagaimana mungkin suamimu tidak perduli lagi padamu? Kami semua perduli padamu, Shandy." terangnya sembari menangkup wajah sang anak agar mau menatapnya.
Namun Ruth masih saja menatap Dava tanpa memalingkan pandangannya.
"Bagaimana bisa aku bermimpi di kamar? Sedangkan tadi aku ingat benar jika aku masih duduk di taman?" Ia terus meracau tak pada dirinya sendiri.
Dava benar-benar tidak tahan melihat kesedihan sang istri, baru satu malam mereka berpisah keadaan sudah seperti hancur lebur. Bagaimana mereka bisa menghadapi semuanya dengan jalan yang berbeda kedepannya.
"Ruth," Dava menghambur memeluk sang adik usai Tarisya memundurkan tubuhnya karena bingung harus bagaimana lagi bicara pada anaknya.
Tubuh tegap pria itu bergetar kala melampiaskan seluruh rasa sakitnya di dalam pelukan itu. Ia tak perduli dengan sang bunda dan ayah yang kini berada di kamar itu juga. Hatinya benar-benar tidak bisa melihat wanita yang begitu ia cintai serapuh ini.
"Ku mohon jangan seperti ini, Sayang. Jangan membuat dirimu sakit, Ruth. Aku mohon." tangis Dava begitu pilu terdengar.
Ia beberapa kali mengusap kepala sang istri yang terbaring.
__ADS_1
Di saat itu juga, indera penciuman Ruth menghirup aroma tubuh yang sangat ia kenal. Baru pada saat itulah ia sadar dari lamunannya. Ia melihat wajah dari sisi samping, rahang tegas yang tampak bergemerutuk dan kulit putih yang begitu memerah.
"Dav,"
"Dava," tangisnya pun terdengar kala menyadari kehadiran sang suami yang nyata berada di kamarnya saat ini.
ia berusaha sekuat tenaga memeluk tubuh tegap itu, air matanya kembali mengalir dengan deras hingga suara tangisan yang terdengar jelas perlahan berubah menjadi suara yang terbungkam oleh dada bidang.
"Ku mohon, Dav jangan tinggalkan aku. Aku tidak akan sanggup pisah darimu. Aku tidak bisa..." tuturnya sembari terisak-isak.
"Maafkan aku, Sayang. Maafkan hubungan darah kita ini. Maafkan Tuhan untuk perpisahan kita nanti." Dava berucap sambil menangis. Ia tidak akan bisa melawan takdir dan mengikuti dosa untuk selamanya.
Bagaimana pun ia akan segera meninggalkan sang istri setelah anak yang ada di dalam kandungan sang istri lahir.
Gelengan kepala kuat seakan menjawab jika ia tentu saja menolak keras untuk berpisah. Ia tidak akan bisa berpisah dari suami yang begitu ia cintai, terlebih ada anak yang akan menjadi masa depan pernikahan mereka.
Melihat dua tubuh yang saling berpelukan membuat Tarisya menggelengkan kepalanya dengan air mata yang tak bisa berhenti menetes.
Untuk sejenak ia membiarkan kedua anaknya untuk melepaskan kesedihan itu, meski selanjutnya pun kesedihan mereka tidak akan berakhir begitu saja. Tetapi semua harus tetap di putuskan dengan bijak.
"Ayah, biarkan Bunda antar Ayah ke kamar kita dulu yah? Biarkan mereka berdua sebentar." tuturnya sembari mendorong kursi roda sang suami yang sedari tadi tampak raut wajahnya juga sangat sedih.
"Em...em...em." suara mulut yang terbungkam terdengar begitu menolak untuk di bawa keluar dari kamar itu.
Matanya terus tertuju pada sosok Dava dan Ruth yang saling berpelukan. Tarisya pun tetap bersikeras membawa sang suami keluar.
"Ayah, biarkan mereka berdua dulu. Mereka tidak akan melakukan apa pun. Mereka sudah dewasa. Ayah jangan khawatir yah?" ia membujuk sang suami agar tidak marah membiarkan hubungan kakak beradik itu tetap dekat seperti itu.
"Assalamualaikum," suara pria terdengar dari arah luar rumah.
__ADS_1
Tarisya yang mendengarnya segera meninggalkan sang suami usai memastikan sang suami tidur dengan nyaman di kasur yang sudah cukup lama mereka rindukan.
"Walaikum salam..." ia berjalan cepat dan ternyata yang datang adalah Sendi.
"Berson,"
"Bunda," sapa Sendi juga. Ia tampak memeluk sang bunda dan mencium punggung tangannya.
Meski rasanya begitu canggung bertemu dengan sang bunda, namun hati berkata lain. Sendi merasakan ada ketenangan setiap kali mendapatkan perhatian dan kelembutan dari wanita yang sudah cukup tua di depannya kini.
"Dimana istrimu, Nak?" tanya Tarisya yang memang sudah mendengar jika Sendi memiliki istri.
Seketika Sendi pun terdiam, ia mengingat kejadian sebelum ia pergi ke rumah sang bunda pagi ini.
"Berson," kembali Tarisya meraih pundak kokoh sang anak. Ia melihat ada gurat kesedihan di mata Sendi saat ini saat mendengar sang istri di pertanyakan bundanya.
"Ayo duduk. Biarkan Bunda buatkan susu hangat untukmu..." Tarisya berjalan menuntun sang anak.
Hatinya benar-benar sedih, begitu banyak masalah yang anaknya hadapi saat ini. Mengapa keluarganya sangat di uji di kala mereka semua telah berkumpul.
Kini Tarisya berjalan dengan senyuman yang tegar di wajahnya dan segelas susu hangat di tangannya. Ia duduk di samping Sendi berada saat ini.
"Minumlah. Agar pikiranmu tenang, Jeff dan Shandy masih di kamar. Bunda biarkan mereka untuk menyelesaikan masalah mereka dulu." ujarnya mulai curhat pada sang anak.
Sendi mendengar helaan nafas sang bunda. Jelas ia tahu, betapa lelahnya bundanya kini yang harus melihat anak-anak mereka dengan masalah masing-masing namun tidak dengannya yang justru menolak untuk berbagi cerita pada bundanya.
"Maafkan aku, Bunda. Hari ini Dina tidak bisa datang bersamaku kemari." tuturnya mulai membuka pembicaraan.
"Karena masalah?" tanya Tarisya begitu antusias ingin mendengarkan curahan hati sang anak.
__ADS_1