Perjuangan Cinta Nona Ruth

Perjuangan Cinta Nona Ruth
Chapter 6. Perlakuan Mbok Nan


__ADS_3

Pergerakan tangan saat itu juga terhenti di detik berikutnya. Suara yang sangat memekakkan telinga sukses menjadi penghalang tindakan yang benar-benar terkutuk.


"Berhenti!"


Mendengar keributan suara Dava, Putri yang tertidur langsung terkejut di gendongan Mbok Nan.


"Hiks hiks hiks...Mamah." tangisnya merengek.


"Menjauh dariku. Pergi! Tolong pergilah," ucap Ruth memohon pada Dava.


Tak perduli jika saat ini sudah terlihat darah segar bercucuran di genggaman itu.


"Non Ruth, tangan Tuan berdarah."


Ruth menoleh ke arah genggaman tangannya yang memegang benda tajam. "Siapa kau?"


"Tidak perlu tahu siapa aku, yang jelas anda telah melukai tangan ku." sahut Dava menatap tajam wajah sendu milik Ruth.


Dava melihat Putri yang menangis di dalam pelukan Mbok Nan karena ketakutan. "Mbok, bawa Putri ke kamarnya. Biarkan saya berbicara dengannya sebentar."


"Baik, Tuan." Mbok Nan membawa Putri ke dalam kamar tanpa berani membuka wajah bocah itu sedari tadi.


Ia tahu mata seorang bocah masih sangat polos. Suci dan begitu mudah akan mencari tahu apa yang menjadi rasa penasarannya. Dan saat ini, Putri sangat tidak baik jika melihat tindakan nekat sang Ibu.


Bagaimanapun keadaannya, bunuh diri adalah suatu kesalahan yang sangat sangat di benci sang pencipta.


Seperginya Mbok Nan dan Putri, kini Ruth hanya terduduk lemas.


Ia begitu benci pada hidupnya. Mengapa kehidupan kejam begitu berpihak padanya. Ia benar-benar mengutuk jalur hidupnya saat ini.


Baginya Sendi adalah pria yang begitu mencintainya dengan tulus. Bahkan selama ini, pria itu selalu menentang keras keinginan orangtuanya untuk berpisah dengan Ruth.


Dan sekarang apa yang mereka dapat? sebuah perpisahan yang di inginkan oleh Sendi sendiri. Semua hanya karena kesalahpahaman.


"Bisa saya membantumu?" suara asing yang terdengar jelas dan sangat dekat dengannya tiba-tiba menarik kembali kesadaran Ruth.


Ia menoleh, menatap, dan menyelidik. Siapa pria asing ini? begitu pikirnya.

__ADS_1


"Tidak, pergilah. Dan jangan ikut campur dengan keluargaku." Ruth menolak dengan ketus.


"Baiklah, jika memang kau menolak. Setidaknya jangan menolakku untuk dekat dengan Putri. Kasihan, anak sekecil itu harus berkorban."


Kata-kata awal, memang sangat melegakan. Namun, tidak dengan ucapan Dava di akhir.


"Apa maksud mu? siapa yang mengorbankan Putri? kau hanya orang asing. Pergilah!"


"Tidak, aku hanya ingin menemuinya di lain waktu. Aku harap kau tidak melarang dalam hal itu." sahut Dava bersikeras.


Entah mengapa rasanya ia sangat gemas dan selalu ingin lebih dekat dengan bocah mungil di Putri.


Setelah sesi tawar menawar yang tiada hasil, kini Dana dan Ruth saling diam. Ruth tampak duduk bersandar di kursi, dengan tatapan kosong. Sementara Dava terus menatapnya semakin dalam.


Rasa simpatik, tertarik dan entah rasa apalagi. Begitu sulit di jelaskan. Ia tidak tega melihat wanita di depannya ini menangis tanpa suara.


Memang terkadang menangis dengan meraung tidak baik. Tapi bukankah itu jauh lebih baik, dari pada melihat tangisan yang tidak bersuara? namun jelas melukiskan betapa sakitnya tangisan itu.


"Ruth, apa kau putus asa?" tanya Dava yang entah sejak kapan sudah lebih dekat dan tak berjarak lagi.


Di sudut kamar ini, Dava terus semakin menguatkan pelukannya pada Ruth. Sementara di pintu kamar terlihat dua manik mata sudah membulat sempurna.


"Hah? pelukan...apa TG itu kenal dengan Non Ruth? Semoga iya dan semoga juga mereka berjodoh hehehe. Aamiin Ya Allah." ucap Mbok Nan yang berdoa di dalam hati dan perlahan menutup kembali pintu kamar tersebut.


TG, adalah Tuan Ganteng. Yah, setidaknya gelar itu bisa menjadikan Dava sebagai pria yang bergelar beda dari yang lain.


Pintu tertutup dengan rapat, dan terkunci sempurna di sana.


Ruth yang sejak tadi memberontak ingin lepas, akhirnya menyerah. Tenaganya, hatinya, dan pikirannya sudah habis terkuras. Kini ia hanya bisa pasrah.


Sementara Dava, merasa ada kenyamanan dalam pelukan itu. Bahkan kini kedua mata elang pria itu sudah tertutup terbawa suasana.


Niat hati ingin menenangkan, mengapa jadi ia yang merasa tenang saat ini.


Sementara suasana yang berbeda di luar rumah malam itu.


"Pak," panggil Mbok Nan berlari kecil ke arah mobil yang masih terparkir sempurna di depan rumah sang majikan.

__ADS_1


"Iya Mbok. Ada apa? Loh Tuan Dava mana?" tanya sang supir.


"Tuan, oh namanya Tuan Dava? itu beliau katanya tidak ingin pulang. Bapak di suruh pulang saja. Dan jemput besok pagi di sini. Sana cepat pulang yah Pak." pintah Mbok Nan yang sedikit mendorong Pak Landu ke dalam mobil usai ia membuka pintu mobil bagian kemudi.


"Loh, Mbok. Tapi-"


"Sudah, sana pulang. Nanti Tuan Dava marah. Mau sampean di pecat?" tanya Mbok Nan setengah mengancam.


"Yasudah, saya pulang. Tapi jangan ngusir-ngusir gini Mbok." sahut Pak Landu sedikit kesal bercampur bingung.


"Heh... untuk yang punya rumah cantik. Jadi nggak perlu khawatir lah kalau Tuan di sini. Setidaknya itu bukan ilmu pelet. Tapi, kok tumben sekali Tuan Dava mau tidur di tempat orang? biasanya saja di hotel tunggu waktu mendesak baru mau tidur di hotel." ucapnya di perjalanan kala perasaan bingung masih menghantuinya.


Pria itu masih terus bergeleng-geleng kepala. "Tuan...Tuan. Nggak pernah nyantol sama cewek, sekali nyantol langsung tinggal di rumah. Hehehe. Untung Madam sama Tuan besar masih di luar negeri."


Sementara, setelah kepergian mobil yang di kemudikan Pak Landu. Barulah Mbok Nan tersenyum lebar. Ia mengunci pintu dan menarik kunci pintu rumah utama. Mematikan lampu dan melangkah ke arah kamar Putri.


"Huuuh.... lelahnya." ucapnya sembari merebahkan tubuh rentanya itu ke atas kasur.


"Ya Allah...ampuni saya malam ini. Tapi entah mengapa wajah TG itu benar-benar membuat hati saya meleleh. Semoga beliau adalah malaikat yang engkau kirimkan untuk Non Ruth, Ya Allah."


Perlahan ucapan doa demi doa yang Mbok Nan lantunkan malam itu mulai memejamkan matanya. Membawa tubuh yang letih melayang ke langit ke tujuh.


Tanpa ada yang tahu, jika di kamar sebelah Dava mulai mengetuk, menggedor, dan memutar handle pintu.


"Ruth, tolong bantu buka pintunya. Saya mau ke kamar kecil sebentar." ucapnya kala merasakan ada tamu yang ingin keluar di bawa sana.


Dengan wajah sembabnya, Ruth beralih menatap pria itu. "Itu di sana ada kamar mandi. Pergilah." ucapnya setelah itu kembali menutup matanya dan memeluk bantal di tempat tidur.


Perasaannya mendadak tenang setelah lama mendapatkan pelukan dari seorang Dava. Matanya sedikit terbuka, menatap punggung pria yang kini berjalan ke arah kamar mandi.


"Siapa dia, Tuhan? Mengapa pelukannya saja mampu membuatku tenang seperti ini? satu kata pun tidak ada kami ucapkan. Tapi apa ini? ketenangan ini tidak pernah kudapatkan di pelukan Sendi selama ini?" batin Ruth mulai membandingkan diri Sendi dengan Dava.


Mendadak mata itu terpejam paksa. "Tidak, Ruth. Ini hanya godaan. Percayalah, ini adalah ujian cintamu. Tapi...apa yang harus aku lakukan sekarang? berjuang pun tidak mungkin. Tuan Deni, tidak akan diam saja selama aku masih bersama dengan anaknya."


Pertengkaran batin itu perlahan juga mengantarkan dirinya ke alam mimpi dengan tanda suara dengkuran napas yang mulai teratur.


Tatapan syahdu sepihak melukiskan senyuman di wajah tampan seorang Dava Sandronata. "Manisnya..." ucapnya lirih.

__ADS_1


__ADS_2