Perjuangan Cinta Nona Ruth

Perjuangan Cinta Nona Ruth
Chapter 24. Pindah Bekerja Menjadi Sekertaris Suamiku


__ADS_3

Dinginnya cuaca perlahan menjadi hangat, seiring gerakan mentari pagi yang mulai memancarkan teriknya hingga perlahan demi perlahan sudah mencapai titik dimana ia berada kala jarum pendek jam dinding sudah menujuk angka 12.00.


Tak dapat di sangkal lagi, kini perubahan mimik wajah seorang Dava begitu tampak aura teduhnya. Di dalam ruangan yang terlihat megah, dengan tambahan sentuhan berkas-berkas yang tersimpan rapi di atas meja dan banyaknya buku-buku tentang bisnis tertata rapi di rak buku dalam ruangan kerja menambah kesan formal.


Dua manusia yang saling berhadapan terlihat begitu canggung. "Seperti yang ku katakan tadi pagi. Kau sudah tidak boleh bekerja dimana pun selain di kantorku."


Wajah ayu nan anggun yang sedari tadi terdiam di depannya menghela napas kasar kemudian bersuara demi menyampaikan beban di hatinya.


"Dava, ini tidak ada dalam perjanjian pernikahan kita. Aku harus bekerja, baik jika kau tidak ingin aku kerja di kantor itu lagi. Aku juga sudah berencana resign kok."


"Pernikahan kita memang bukan perjanjian, Ruth. Tapi kita menikah tanpa perjanjian perceraian. Itu artinya, kita tetap suami istri yang sah selamanya. Dan aku menjadi suami sekaligus imam mu. Maka dari itu, dengarkan kata-kataku." terang Dava dengan tegas tanpa mau menerima penolakan dari sang istri.


"Ini semua demi Putri. Dan...yah agar aku tidak sia-sia membantumu jika hanya setengah-setengah membantu untuk apa? Sudah, sebaiknya kau menurut saja. Meja kerjamu ada di situ, pergilah bekerja dengan baik untukku." pintah Dava dengan mengalihkan pandangannya pada lembaran berkas di depannya saat ini.


Nerfes yang ia rasakan sejak pagi sangat mengganggu pikirannya. "Tenang, Dava. Kau hanya ingin membantunya. Yah, aku yakin ini karena rasa simpatiku saja padanya. Dia wanita bodoh."


Meski ia berulang kali membolak-balikkan kertas itu, sayangnya perasaan dag dig dug ser masih saja terus berpacu dengan liarnya di dalam dadanya kali ini.


Sedangkan sang istri yang berjalan lemah usai di usir oleh sang suami kini mendaratkan bokongnya di kursi kerja miliknya.


"Em, Dava." panggil Ruth pelan namun terdengar jelas di indera pendengaran sang suami.


Dava menoleh ke arahnya tanpa melepas jemarinya yang masih memegang lembaran kertas. "Hem, ada apa?" tanyanya.


"Pulang dari sini, bolehkah aku ziarah ke makam Ayahku?" tanya Ruth penuh harap.


Dava mengangguk, "Pergilah. Tapi jangan kemana-mana setelah itu. Segeralah pulang." ucap Dava menyetujui.


Ruth mengangguk cepat dan tersenyum. "Terimakasih, yah?"


Tak ada jawaban lagi yang terdengar dari bibir sang suami. Meski dalam hati Dava sangat senang melihat senyuman yang begitu manis dari wajah sang istri.


"Ehem," deheman pria itu membuyarkan tatapan bingung Ruth padanya sejak tadi. Bagaimana tidak bingung? sedari tadi senyuman kecil tampak muncul di mimik wajah Dava secara diam-diam.

__ADS_1


"Huuh...kisah hidupku gini amat yah? Bisa di jadikan judul novel, 'Aku Menjadi Sekertaris Suamiku'. Sudahlah Ruth, mungkin memang ini sudah garis hidup mu." Ia membatin seraya mulai menarik napas dalam-dalam.


Sedangkan di sisi lain, tepatnya di ruangan kerja seorang Sendi Sandoyo.


Manik matanya menatap penuh benci kala melihat meja yang biasanya terlihat wajah cantik selalu menyapanya setiap pagi dan sore ketika pulang kerja kini telah tiada lagi.


"Argh!! Brengs*k!" teriaknya sembari menghamburkan seluruh kertas-kertas yang sudah bertumpuk dengan sampul masing-masing di atas meja kerjanya.


Napas yang terengah-engah itu bahkan mengeluarkan peluh di sekitara dahi putih miliknya. Lebih tepatnya dahi yang sudah tampak memerah usai mengeluarkan segala emosinya.


Tok Tok Tok


Suara ketukan pintu terdengar dari arah luar ruangan.


"Pak, permisi." ucap seorang staf kantor dengan lembut kala melihat kemarah di kedua mata sang pimpinan.


Dava menatapnya tajam sebelum pintu ruangan benar-benar tertutup dengan sempurna.


"Ada apa?" teriak Dava.


"Kemana Ruht? mengapa jam segini belum juga datang?" tanya Sendi memotong  pembicaraan wanita tersebut.


"Em, maaf Pak saya-"


"Kamu mau bilang tidak tahu? keluar sana!" hardik Sendi begitu memekakkan telinga siapa pun yang mendengarnya.


Wanita itu tersentak kaget dan langsung berlari keluar ruangan dengan langkah cepat. "Sialan, gara-gara Ruth gue jadi yang kena bentakan. Kemana sih tuh anak?" gerutunya terus melangkah menjauh dari ruangan sang atasan.


Tok Tok Tok


Kembali ketukan pintu terdengar dari luar ruang kerja Sendi. "Siapa?" teriak Sendi begitu muak.


Bahkan ia sampai lupa jika ruang kerjanya kedap suara. "Permisi, Pak." sapa seorang pria yang ragu-ragu masuk ke dalam ruangan tersebut.

__ADS_1


"Mampus gue. Ini anak pake acara resign segala lagi. Bisa-bisa gue yang kena imbasnya. Huuh." umpatnya dalam hati kala melihat ekspresi wajah Sendi yang menyatu dengan ruangan kerja yang terlihat berantakan itu.


"Maaf Pak. Ini surat dari Ruth, sekertaris Bapak." terangnya sembari menyodorkan sebuah map berisi surat pengunduran diri.


Sendi merampas surat tersebut sebelum tangan pria bawahan itu sampai menyentuhkan surat pada tangannya sendiri.


Hening. Seketika ruangan tersebut menjadi suasana yang sangat panas. Peluh di kening kedua pria itu sama-sama terus mengucur deras.


"Ruth sudah menikah. Dan suaminya berhak atas wanita seperti Ruth, Sendi. Dia bukan wanita yang pantas untukmu." Suara seorang pria terdengar jelas kala melangkah masuk ruang Sendi tanpa mengetuk pintu lagi.


"Untuk apa anda kemari? Tolong keluar dari ruangan saya!" Sendi terdengar enggan menyebut Tuan Deni sebagai ayahnya lagi.


Hubungannya hancur dengan Ruth adalah atas kerja keras sang ayah tentunya. "Cih, demi wanita itu kau bahkan tidak menganggapku, Sendi? Aku adalah ayahmu. Sampai kapan pun akan tetap seperti itu. Kau sudah menjadi suami Dina. Jangan pernah macam-macam lagi. Kau akan menjadi ayah." tegas Tuan Deni kemudian melangkah pergi dari ruangan kacau tersebut.


"Sampai kapan pun aku tidak akan mengakui dia sebagai istriku!"  umpat Sendi dalam hatinya. Bahkan tangannya sudah mengepal erat.


Jika saja, dirinya tidak meninggalkan Ruth dan menikah dengan Dina, mungkin kisah cintanya tak sesedih saat ini tentunya.


Tuan Deni hanya terkekeh kecut sembari menggeleng-gelengkan kepala saat melangkahkan kakinya meninggalkan ruanga itu.


"Setidaknya saat ini aku masih bisa bernafas lega." tuturnya.


Namun, sayang. Di sisi yang berbeda kini tampak seorang wanita yang begitu kacau terlihat sangat memprihatinkan.


Bibir yang membiru, mata yang sudah berlingkar hitam, rambut yang sudah kaku seperti sapu, baju putih yang sudah berwarna hampir coklat tua, kuku yang sangat panjang dan hitam terus terdengar meraung tanpa bisa berbuat apa pun saat ini.


"Anakku! Anakku! Anakku! Tolong jangan tinggalkan Bunda! Sayang, Bunda mohon jangan tinggalkan Bunda. Bunda tidak salah, Ayah juga tidak salah, Nak!" teriakan yang sangat histeris kini berubah menjadi isak tangis yang memilukan.


Tangan yang sudah terborgol entah berapa tahun, hanya bisa ia peluk demi memberikan kekuatan pada dirinya sendiri.


"Hey wanita tua, diam kau! Mau ku tutup mulutmu?" teriak seorang pria berwajah garang ddengan wajah penuh bulu-bulu halus.


"Kembalikan anakku. Aku mohon, pasti kalian sudah memisahkanku dengan anakku. Tolong Pak. Ku mohon jangan pisahkan kami. Ayah, tolong Bundah Ayah. Mereka jahat. Aaaaahhhh Ayah! Kenapa kau tinggalkan Bunda sendirian di sini, Ayah? hiks hiks hiks." teriaknya menangis memeluk tubuhnya yang sudah semakin kurus.

__ADS_1


Sejenak bayangan masa lalu kembali melintas di ingatannya. Satu-satunya kenangan yang bisa ia abadikan saat-saat terakhir dirinya, suaminya dan dua anaknya saling memeluk kala mereka meloncat dari ketinggian terjun ke laut yang entah berapa meter dalamnya.


__ADS_2