Perjuangan Cinta Nona Ruth

Perjuangan Cinta Nona Ruth
Chapter 161. Permohonan Ruth


__ADS_3

"Awh..." Suara rintihan keras terdengar menggema.


Dua tangan besar serentak mencengkeram kedua lengan yang hampir saja terjatuh itu kala menabrak tubuhnya tanpa sengaja.


Dua pasang mata yang tak pernah bersitatap itu sejak beberapa bulan lamanya, akhirnya kini bertemu di tengah ruang rumah yang tampak tidak begitu luas.


Tatapan hangat yang sudah tak pernah lagi di dapatkan oleh sosok wanita bermata cokelat itu kini kembali ia rasakan. Tatapan dalam dan jelas terlihat cinta yang begitu besar di kedua mata hitam milik Dava, sang kakak.


"Kak," lirihnya dengan bibir yang terasa sangat kaku ingin menyebut panggilan 'kak.


Sosok yang di sebutnya masih diam membisu dengan wajah sedikit menunduk demi mensejajarkan pandangannya. Wanita cantik yang selalu ia buat tersenyum, kini begitu tampak kurus, pucat, dan sangat terlihat tak berdaya bagai manusia tidak ada nyawanya.


"Mengapa kau kurus sekali?" pertanyaan yang terdengar begitu dingin namun penuh dengan beribu kekhawatiran di dalamnya.


Ruth tahu makna pertanyaan itu, namun ia tidak ingin menjawabnya saat ini. Suasana hatinya begitu sakit pagi ini setelah mendengar ucapan sang bunda di taman tadi.


Pandangan mata cokelat itu menurun dan memilih menunduk, ia diam membisu sembari menunggu dua genggaman di lengannya itu lepas.


Sungguh, melihat wajah tak bersemangat seperti itu hati Dava begitu menjerit sakit. Ia benar-benar tidak menyangka dengan menyibukkan diri di kantor sampai tak pernah bersitatap dengan sang adik, ia justru di kejutkan dengan pemandangan wajah bak mayat hidup.


Mereka berdua benar-benar memilih untuk tidak bertemu selama beberapa bulan ini. Setiap kali ia pulang dari kantor semua penghuni di rumah sudah terlelap. Sedangkan ia berangkat kerja sebelum semua keluarga terbangun.


Sungguh miris kehidupan Dava, tanpa ia sadari apa yang ia lakukan saat ini sama seperti yang Sendi lakukan sebelumnya. Demi melupakan wanita yang ia cintai dan menyembuhkan luka di hatinya, ia memilih hari siang untuk bekerja dan malam juga akan tetap menjadi siang baginya.


Dan hari ini, seperti permintaan Sendi agar ia berangkat bersamaan karena ada yang ingin ia bicarakan di rumah. Ternyata Dava harus mendapatkan momen bertemu dengan sang adik. Padahal sejak subuh tadi ia berusaha menghindari Ruth yang berada di taman dan memilih berolah raga di luar lingkungan rumah.


"Jeff," panggil suara wanita yang begitu lembut.


Segera, Dava melepaskan genggaman tangannya dan beralih menatap sosok wanita yang tak lain adalah sang bunda.


Seketika itu juga Ruth berlari menuju kamarnya dan mengunci pintu kamarnya. Di sana tak ada yang tahu jika ia menangis sejadi-jadinya.


Duduk bersandar di kaki ranjang sembari meremas dadanya yang begitu sesak. Sesekali ia menghantukkan kepalanya ke tembok rumah.


"Mengapa? mengapa Tuhan? Mengapa kau takdirkan hatiku selalu jatuh pada orang yang salah? Apa yang kau inginkan?!" Ia berteriak menangis.


Entah mengapa pikirannya begitu sering tertuju pada arah tempat ia dulu sering melakukan solat lima waktu bahkan solah tahajud.


Setiap kali ia bersedih, kegiatan itu selalu menjadi pengobat hatinya yang gundah. Ketenangan selalu ia dapatkan dengan mencurahkan perasaannya pada sang kuasa di kala menengadah mengucap doa-doanya.

__ADS_1


"Apa ini hukuman untukku karena telah meninggalkan Mu?" Sejenak ia mengusap air matanya dan tertunduk.


Sedangkan di luar kamar, kini Dava sudah duduk di sofa bersama yang lainnya atas perintah sang Bunda.


"Bunda mohon, Nak. Kuatkan hatimu...jika kau selalu menaruh perasaan itu pada adikmu, sampai kapan pun adikmu tidak akan bisa lepas darimu." mohon Tarisya dengan begitu sungguh-sungguhnya.


Ia juga sangat sedih tiap kali bangun dan ingin tidur tidak bisa melihat kehadiran anak pertamanya di rumah mereka. Mau sampai kapan ia terus melihat penderitaan kedua anaknya yang saling menghindar itu? Bahkan di usianya yang senja kini, keluarganya masih belum bisa menemukan ketenangan satu sama lain.


"Jika Bunda dan Ayah sudah tiada...apakah kalian akan tetap seperti ini? Setidaknya biarkan Bunda dan Ayah tenang di atas sana kelak ketika melihat kalian telah hidup bahagia dengan pasangan kalian masing-masing..."


"Pasangan? Tidak, Bunda. Aku sama sekali tidak sanggup jika melihat Ruth akan mendapatkan pengganti diriku. Aku sungguh tidak sanggup melihatnya, Bunda." Dava yang mendengar ucapan sang Bunda kembali di landa perasaan panik.


Ketakutannya akan kehilangan cinta dari Ruth sang adik benar-benar tidak sanggup ia terima.


Semua yang ada di sofa itu bisa melihat gelagat tidak tenang seorang Dava setelah mendengar penuturan sang bunda.


"Bunda, saya rasa kami harus segera pergi. Dav, apa kau sudah bisa pergi bersiap?" Sendi yang tahu bagaimana hatinya sendiri sampai saat ini pun sangat paham bagaimana hancurnya Dava dan Ruth dan bagaimana sulitnya untuk mengikuti perintah sang bunda.


Ia tidak ingin dengan ucapan bundanya pada Dava, membuat dirinya seakan merasa tersindir juga.


"Baiklah," sahut Dava yang langsung memilih ingin pergi ke kamarnya.


Meninggalkan Sendi, Tarisya, Putri dan juga Dina bersama sang ayah, Tuan Wilson.


Ia benar-benar ingin mengenal lebih dalam sosok Dina ini.


Dengan senang hati, Dina mengangguk pertanda setuju.


Tarisya pun tersenyum melihat kesigapan sang menantu. "Baiklah, kalau begitu tunggu di sini yah? Bunda ingin menemui Shandy dulu."


"Baik, Bunda." sahut Dina mengangguk dan menatap kepergian sang mertua.


"Aku akan segera pergi, jaga Bunda selama pergi bersamamu..." ucap Sendi dengan wajah datarnya.


Matanya sesekali tertuju pada arah kamar sang adik. Ia sangat mencemaskan keadaan Ruth jauh lebih dari yang lainnya. Bisa di katakan lebih tepatnya sama dengan kecemasan yang Dava rasakan pada Ruth.


"Aku di sampingmu, Sen. Aku di sini. Apakah sedikit pun kau tidak bisa menahan pikrianmu untuk adikmu? Apa sebegitu tidak berartinya aku di hatimu?" Kini Dina memilih menundukkan kepalanya.


Ia tidak ingin terus menyakiti hatinya sendiri dengan memperhatikan setiap gerak gerik yang suaminya berikan pada sang adik.

__ADS_1


Di sisi kamar Ruth, terdengar suara ketukan dari arah luar pintu.


Tok Tok Tok


"Nak, buka pintunya. Sayang, Shandy, ini Bunda. Tolong bukakan pintunya, Shandy. Bunda ingin bicara denganmu." tutur kata Tarisya sangat terdengar lembut di telinga anak-anaknya bahkan pada telinga orang lain pun seakan kata-katanya mampu menjelaskan betapa setiap kata yang terucap dari bibirnya penuh dengan kasih dan sayang.


Hening.


Ceklek!


Senyuman kecil terlukis di bibir merah muda milik sang bunda. Di sini, Ruth berdiri dengan mata yang terus menjatuhkan air putih bersih.


"Bunda," tangisnya dan menghambur ke dalam pelukan sang bunda.


Segera Tarisya membalas pelukan sang anak. Ia mengusap kepala Ruth dan melangkah maju perlahan membawa tubuh anaknya masuk ke dalam kamar.


Di dudukkannya tubuh kurus itu tepat pada sisi kasur empuk. "Sayang...lihat badanmu, Nak. Sangat kurus sekali, Bunda juga tersiksa melihat tangismu seperti ini...bagaimana dengan cucu Bunda di dalam, pasti dia jauh lebih kurus darimu, Sayang..." bujuknya dengan penuh pengertian.


Ruth menunduk melihat perutnya yang membuncit namun tidak begitu besar di bandingkan usia kehamilan wanita-wanita di luar sana.


"Kau ingat kata dokter? timbangan bayimu sangat tidak normal, Sayang. Apa kau tidak takut terjadi apa-apa dengannya?" Mendengar penuturan sang bunda, seketika Ruth menggelengkan kepalanya dengan cepat.


Tidak ada satu pun ibu di dunia ini yang tidak takut jika anaknya mengalami hal yang tidak wajar.


"Bunda, Shandy punya satu permohonan jika Bunda setuju akan hal ini..." ia berucap dengan penuh ketegangan.


Ruth mengusap air matanya berkali-kali saat menunggu jawaban sang bunda yang hingga kini terlihat mengernyitkan keningnya.


"Apa itu, Nak? Jika itu dalam jalan yang baik dan benar, dan selagi Bunda mampu menyetujuinya...insya allah Bunda akan setuju."


"Shandy...ingin kembali ke agama islam, Bunda..." Suara bicara Ruth begitu terdengar sangat pelan namun pasti.


Tarisya bisa mendengarnya dengan baik apa yang di ucapkan sang anak.


"Kau ingin...masuk islam?" tanya Tarisya sekali lagi dan Ruth mengangguk mantap.


"Apa itu karena Jeff, Nak?" saat ini sungguh bahagianya seorang ibu ketika mendengar anaknya ingin berada di jalan yang sama dengannya kembali.


Tetapi tetap saja, ia tidak ingin jika semua yang di lakukan Ruth semata-mata hanya karena masalah yang ia hadapi dan membuatnya frustasi.

__ADS_1


Sudah cukup agamanya yang saat ini karena tujuan menikah dengan Dava. Untuk yang berikutnya ia tidak ingin membiarkan anaknya terombang ambing di agama.


Ruth menggelengkan kepalanya. "Tidak, Bunda. Shandy sangat merindukan sholat dan mengaji. Selama ini Shandy tidak menemukan ketenangan karena tidak yakin dengan agama yang Shandy akui. Shandy ingin kembali ke agama yang Shandy yakini, Bunda." ia menjelaskan dengan mantap pada sang bunda.


__ADS_2