Perjuangan Cinta Nona Ruth

Perjuangan Cinta Nona Ruth
Chapter 295. Rasa Sungkan Pada Sang Suami


__ADS_3

Tin tin tin


Terdengar suara klakson di depan gerbang rumah mewah bercat putih itu. Tak lama di susul dengan suara pagar besi berukir itu bergeser membuka lebar.


Dua pintu mobil pun terdengar membuka dan menutupnya kembali. "Terimakasih, Pak." tutur Mbok Nan pada sang supir dan langsung mendapatkan balasan senyum serta anggukan ramah.


Di depan sana tampak sang ibu yang berjalan dengan satu rantang di tangan kanannya dan satu tangan lagi memeluk tubuh baby Rava yang ia gendong.


Mata cokelat indah itu tertuju pada bocah yang berlari dengan menundukkan kepala dan hampir saja menubruk tubuhnya.


"Eh Nak?" panggil Ruth dengan reflek menahan tubuh sang anak yang hampir saja menabraknya itu.


"Mamah," suara lirih Putri masih tak mau menatap wajah sang ibu.


"Pelan-pelan jalannya, Sayang. Ada apa? kenapa Mamah tidak melihat wajah ceria itu disana, Nak?" tanyanya dengan perasaan gelussh.

__ADS_1


Mata kecil Putri yang terfokus pada rantang susun di depan sana, akhirnya berpikir dengan cepat. "Itu pasti makan siang buat Ayah. Enggak. Putri enggak mau bikin Mamah jadi batal ketemu Ayah hanya gara-gara teman-teman Putri di sekolah. Kasihan Ayah." gumamnya sembari menahan rasa amarah yang bersarang di kepalanya.


Perlahan namun pasti, bocah itu menengadah dan menatap berani pada sang ibu. Ruth yang semula ingin meminta penjelasan dari Mbok Nan segera menatap kembali pada sang anak.


"Putri tidak apa-apa kok Mamah. Oh iya ini bekal buat Ayah?" seulas senyuman ia terbitkan dengan lebar untuk sang ibu.


"Eh?" Mbok Nan seketika itu juga langsung terkejut melihat ekspresi Putri.


Ruth segera membalas senyuman sang anak tak kalah hangat.


"Iya, Ayah kan selalu minta seperti itu. Makanya Mamah dan Tante Dina mau ke kantor. Putri mau ikut? kalau iya, ayo ganti baju dulu Sayang." tuturnya sembari mengusap kepala baby Rava agar terlelap kembali usai mengalami syok therapy.


"Em iya, Non. Biar Putri sama Mbok Nan saja di rumah dan yang lainnya."


Ruth pun menyetujuinya setelah melihat jam di tangannya sudah hampir jam makan siang. Itu artinya mereka tidak punya banyak waktu lagi saat ini.

__ADS_1


"Baiklah, Mamah pergi sayang. Putri jangan bikin Mbok Nan kecapean yah?" Bibir ranum itu mengecup kedua pipi dan puncak kepala sang anak.


"Mah, tunggu!" panggilnya saat Ruth sudah melangkah melewatinya dan Mbok Nan.


"Putri mau cium dedek sebentar." ia berlari menggapai letak ibunya dan sang adik.


***


"Bagaimana Putri sudah pulang, Sayang?" kini di ruangan, tampak Dava yang menikmati makan siangnya dengan di suapi oleh sang istri, sementara Rava begitu tenang dalam gendongan sang ayah.


"Iya, pas sekali saat aku dan Dina baru mau keluar rumah, Dav." jawabnya nampak memikirkan sesuatu saat menjawab pertanyaan sang suami. Dan hak itu tertangkap oleh penglihatan pria tampan itu.


"Apa ada masalah lagi dengan Putri?" Lagi? tentu saja Dava dan Putri seringkali menghadapi kelakuan barbar sang anak.


"Entahlah, Dav. Aku tidak di beritahu, tetapi..." Ruth tampak ragu mengatakan yang ia rasa pada sang suami. Pasalnya Putri bukanlah anak kandung mereka dan ia tidak ingin membuat Dava malu dengan tingkah anaknya itu.

__ADS_1


"Katakan...dia anak pertama kita, Ruth, dan kehidupannya dimasa lalu tentulah terlibat sedikit banyaknya dengan masalah kita. Wajar jika dia sebar-bar itu. Kasih sayang yang kita berikan tentu sangat kurang di usianya yang sekecil itu dulu." Tutur kata inilah yang membuat Ruth akan terus semakin jatuh cinta lagi dan lagi pada sang suami.


"Putri seperti menyembunyikan sesuatu tadi, Dav. Aku bisa melihatnya, tapi tadi tidak seperti biasanya. Aku takut terjadi sesuatu padanya, Dav." Ruth terlihat sangat serius saat menatap sang suami.


__ADS_2