
Tarisya tersenyum hangat mendengar pertanyaan sang anak seraya mengusap lembut kepala sang anak. Ia menganggukkan kepalanya.
"Bunda yakin, dimanapun Bunda dan Ayah berada...anak-anak kami pasti akan berusaha melindungi kami. Terimakasih, Jeff. Bunda ada sampai saat ini berkatmu, Nak. Mereka sangat baik pada Bunda." tuturnya menahan mata yang sudah berkaca-kaca mengingat bagaimana perjuangan orang-orang yang merawatnya selama ini.
Dava melihat jelas raut kesedihan pada wajah sang Bunda. "Maafkan Jeff, Bunda. Jeff tidak berhasil membawa Bunda keluar dari sana saat itu."
Tarisya menggelengkan kepalanya cepat. "Kamu tidak salah, Nak. Mereka yang terlalu kejam pada Bunda. Mereka bahkan tidak segan-segan menghabisi nyawa mereka yang sudah baik pada Bunda. Mereka sangat kejam. Bunda sangat kasihan melihat mereka saat itu. Bunda tidak bisa membayangkan bagaimana sedihnya keluarga mereka saat mendapatkan berita kematian anggota keluarganya..."
Flashback on
"Nyonya, ayo makanlah segera. Mereka akan tiba sebentar lagi."
Di dalam ruangan yang tampak usang, wanita menangis memeluk tubuhnya sendiri. Ia menangis terus memanggil nama ketiga anak yang entah dimana keberadaannya saat ini.
"Kalian pergilah dari sini. Aku tidak ingin membawa kalian ke dalam masalah keluargaku. Aku mohon..." tangis Tarisya trauma akan kehilangan anak-anaknya.
Ia tidak ingin ada keluarga lain yang merasakan sakit sama seperti yang ia rasakan selama ini.
"Tidak, Nyonya. Kami tidak akan bisa pergi tanpa anda. Tolong Nyonya menurutlah dengan kami. Jaga kesehatan anda sampai Tuan memberikan perintah untuk membawa anda keluar dari tempat ini."
"Iya, Nyonya. Tuan Dava sedang mengurus banyak hal di luar sana untuk menjebak mereka. Mohon kerjasamanya, Nyonya. Tuan Dava sangat mengkhawatirkan anda selama ini."
Tarisya yang memang tidak mengetahui, siapa Dava? Siapa pria yang berbaik hati itu selama ini mengurusnya secara diam-diam dengan memasukkan orangnya di dalam tempat penyekapan yang di lakukan Deni.
"Tidak. Aku tidak percaya pada kalian. Aku mohon pergilah!" Tarisya berteriak histeris.
Ia sangat takut jika Dava adalah musuh lain di antara Iwan dan Deni yang juga mengincar perusahaan suaminya.
__ADS_1
Tiba-tiba saja suara pintu terdengar terbuka dengan kencang. "Brak!!"
"Ada apa ini?" bentak salah satu penjaga berkepala plontos dengan cambang sangat lebat menutupi rahang tegasnya.
"Hah? Ti-tidak ada apa-apa...ahhhh."
"Beraninya kau!" teriak pria itu dengan wajah marah setelah menendang wajah pria yang tengah menyembunyikan makanan di belakangnya.
"Jangan! Tolong, jangan sakiti dia." Tarisya tak kuasa saat melihat tubuh pria yang selama ini membantunya dan juga sang suami di injak terus menerus tanpa ampun bersama dengan nasi yang berhambur di lantai itu.
"Berani kau! Makan! Makan ini nasi sampai bersih!!" teriaknya menginjakkan kakinya dengan memutar di atas kepala pria itu.
Tangisan, teriakan Tarisya sama sekali tidak menjadi apa-apa di telinga pria berkepala plontos itu.
"Saya mohon. Hentikan! Tolong jangan sakiti dia." Tarisya menangis ketakutan melihat sosok pria baik hati sudah muntah darah di depannya saat ini.
Tamparan keras mendarat di wajah wanita tak berdaya itu. Dan sekali lagi, pria berhati baik memeluk kaki pria jahat itu untuk mencegahnya.
"Tuan, tolong jangan sakiti dia. Wanita ini sudah tidak kuat menahan semuanya. Kasihani dia, Tuan. Pukullah saja aku." Sontak mendengar penuturan itu, pria berkepala plontos itu langsung berbalik menyerang si pria dan melepaskan Tarisya dari cekikan tangan kekarnya.
Dor! Dor! Dor!
Tembakan terus menggema di ruangan itu. Kedua mata Tarisya membulat dengan sempurna. Air matanya menetes tanpa henti.
Mata yang selalu menatapnya penuh rasa kasihan kini sudah tak lagi berkedip saat peluru itu berhasil membawa nyawanya pergi saat itu juga.
"Tidak! Tidak! Tidaaaak!" teriaknya menangis histeris.
__ADS_1
Flashback off
Demi menenangkan hati sang bunda, Dava menjelaskan apa yang ia lakukan setelah kejadian saat itu.
"Bunda, semuanya sudah terjadi. Dan keluarga korban juga sudah memaafkan atas itu semua. Dava...em maksudnya Jeff sudah memberikan kompensasi pada keluarganya dengan hal-hal yang juga baik. Mereka bahkan saat ini dengan senang hati membantu proses persidangan Deni dan juga Iwan." terang Dava mengingat keluarga korban tersebut turut memberikan kesaksian atas kejahatan dua sejoli itu.
"Sekarang Bunda makan yah? Jeff yang suapi Bunda." pintahnya dengan mata yang berkaca-kaca.
Sang bunda menangguk pelan. Di sini Dava berusaha kuat di hadapan sang bunda. Jika ia sendiri lemah, bagaimana Bundanya akan tenang.
Suapan demi suapan terus ia berikan di bibir keriput wanita cantik itu. Sangat lahap, ia melihat sang bunda makan. Tiba-tiba saja pikirannya kembali tertuju pada wajah ayu sang istri yang saat ia tinggal tidak melihatnya.
"Bagaimana keadaanmu sekarang sayang? Maafkan aku meninggalkanmu dengan anak kita. Maafkan aku atas semua kesalahan ini, Ruth. Aku sangat mencintaimu. Aku tidak bisa meninggalkanmu sampai kapan pun." batin Dava terus menahan rasa sesak di dadanya.
***
"Uhuk uhuk uhuk," Suara batuk dari wanita yang sedari tadi memejamkan matanya akhirnya terdengar juga.
"Ruth, ada apa? Apa yang sakit?" Sendi langsung bangkit dari duduknya dan memegang kening dan juga menggenggam jemari sang mantan dengan penuh perhatian.
Ruth membuka matanya, tak sengaja air matanya jatuh di kedua pelupuk mata indah itu.
"Kak, dimana Dava? Dimana suamiku, Kak? Dia...dia meninggalkanku di dalam mimpi. Kak...Kak Berson, tolong panggil Dava segera. Kak ku mohon." Ruth begitu panik saat menyadari sang suami tidak ada di sisinya saat ini.
Wajahnya menatap seluruh ruangan tempatnya di rawat dan memanggil nama pria tampan itu terus menerus. "Dava! Dav! Sayang! Suamiku, kau dimana Dav?!"
"Hei...Sssst, Ruth, Dava sudah pulang duluan. Ada hal penting yang harus di urus. Tenanglah." Sendi mencoba menenangkan sang mantan yang sudah menangis ketakutan.
__ADS_1
"Pulang? Duluan? Tidak, Kak. Dava tidak mungkin melakukan hal itu padaku. Aku tahu Dava tidak akan mungkin mau meninggalkanku dengan siapa pun termasuk dengan Kakak." Ruth memberontak berusaha turun dari ranjang.