
Terkadang masalah dalam hidup yang kita jalani membawa kita menjauh dari rumah. Rumah dimana setiap umatnya akan mendapatkan ketenangan dan jaminan hidup bahagia di surga Nya. Tetapi, berkat masalah itu juga kita bisa menentukan pilihan kita untuk menuju takdir yang sesungguhnya.
Disaat kita di lahirkan itu adalah bagian dari takdir. Bagaimana saat kita bertumbuh itu adalah proses, dan seperti apa yang kita dapatkan di hari tua itu adalah pilihan...
Sekali pun takdir sudah berkata apa yang menjadi jalan kita, tetapi tanpa usaha kita tidak akan mendapatkan tujuan dari hidup kita yang sebenarnya.
Itulah yang Ruth rasakan saat ini, ia yakin jika kegundahan hatinya selama ini, banyaknya masalah yang menimpanya adalah bagian dari ujian imannya yang Tuhan lihat tidak begitu teguh.
"Shandy yakin dengan keputusan Shandy kali ini, Bunda. Shandy ingin bersungguh-sungguh dalam belajar agama Islam lagi. Dan Bunda tidak perlu khawatir. Ini semua bukan karena kakak..." terangnya dengan wajah begitu sedih namun tetap menunjukkan keseriusannya dalam berbicara.
Tarisya menarik napas dalam lalu menghembuskan perlahan. Hatinya merasa lega mendengar penuturan sang anak, meski sejak pertama mengetahui jika anaknya berbeda agama darinya hatinya sangat sakit. Namun, kini saatnya Tuhan memberikan kesempatan untuk anak-anaknya kembali.
"Baiklah, Nak. Bunda akan bantu prosesnya. Bunda sangat senang mendengarnya, Sayang. Kamu harus kuat, jangan pikirkan hal lain dulu untuk sementara waktu." Ia memeluk tubuh Ruth yang menunduk setelah mendengar penuturan sang bunda.
Sebentar lagi ia akan berbeda agama dengan sang suami. Dan itu tandanya mereka tidak akan pernah bisa bersama lagi apa pun jalannya. Keyakinan mereka telah berbeda, sekalipun mereka bukanlah saudara kandung tetapi hubungan pernikahan mereka tidaklah sah untuk di teruskan.
"Aku yakin...ini adalah keputusan yang tepat. Maafkan hambamu ini Ya Allah...hamba tidak berniat mempermainkan agamamu." Ruth memohon dalam hati meminta pengampunan di dalam pelukan sang bunda.
Tarisya melepaskan pelukannya pada sang anak. Ia tersenyum mengusap air matanya yang berjatuhan sedari tadi. "Sekarang istirahatlah...besok kita akan melakukan sesuai permintaanmu, Nak. Sekarang Bunda harus mengantar ayahmu ke rumah sakit dulu. Ingat, baik-baik di rumah dan jaga cucu Bunda. Okey?" ia menyentuh sekilas kepala sang anak lalu meninggalkan kamar itu.
Selepas kepergian sang bunda, Ruth tak lagi bersuara tak lagi memperlihatkan air matanya. Ia memilih untuk menuju kamar mandi dan membersihkan tubuhnya.
__ADS_1
Di sini, di dalam mobil.
Dava dan Sendi yang baru saja pergi dari rumah itu tampak meninggalkan empat wanita yang berbeda generasi dan satu pria yang duduk di kursi roda.
"Mbok, kita satu mobil saja berangkatnya...nanti biar sekalian kami ikut mengantar Putri ke sekolah, bagaimana?" tawar Tarisya yang memang sudah ingin pergi bersama suami dan sang menantu.
Melihat Mbok Nan dan Putri yang juga sudah bersiap ke sekolah, akhirnya mereka pun mendapatkan tawaran untuk ikut bersama mobil yang sudah di pesan online.
"Baik, Nyonya. Terserah Nyonya baiknya bagaimana saja." ujar Mbok Nan menyetujui.
"Semoga kita segera dapat rejeki buat beli satu mobil yah, Mbok. Kita orang banyak susah kalau mau pake taksi online seperti ini." tutur Tarisya yang melihat begitu banyaknya anggota keluarganya saat ini.
"Ayo kita masuk." mereka semua masuk dengan posisi Dina, Tarisya dan sang suami, Tuan Wilso duduk di kursi belakang sedangkan Mbok Nan yang memangku Putri duduk di kursi samping driver.
"Ayo, jalan Pak." pintah Tarisya dengan ramah tak lupa menyelipkan senyuman di wajahnya.
Suasana rumah pun kembali begitu sunyi, tinggallah seorang wanita yang berada di dalam kamar saat ini dengan perut yang sudah terlihat buncit itu.
Kain putih menutup seluruh tubuh dengan sempurna, hanya ada wajah saja yang bisa terlihat di dalam kamar itu. Pandangan mata yang begitu buram karena tertutup dengan genangan air mata tak menurunkan sedikit pun niat untuk membatalkan keinginannya.
Ucapan yang hanya terdengar di dalam hati mulai berjalan dengan khusyuk.
__ADS_1
"Ushalli Sunnatat Taubata Rak'ataini Lillahi Ta'ala."
Tetesan air mata pun mengalir deras mengiringi solat Ruth kala itu. Bayangan banyaknya dosa-dosa yang ia perbuat membuat dadanya begitu terasa sesak.
Alqur'an surat At-Tahrim ayat 8 : "Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai."
Ayat yang selalu dalam ingatan Ruth selama ini. Ia begitu mengutuk kebodohan dirinya sendiri, dan kali ini kesalahan itu tidak akan ia lakukan.
Solat yang ia lakukan saat ini pun berjalan dengan khusyuk tanpa terkendala apa pun. Tidak ada yang tahu apa yang ia lakukan saat ini di rumah di dalam kamar seorang diri.
Yang penting adalah dirinya sudah berniat ingin bertobat dan kembali memeluk agamanya yang pertama yang dimana begitu ia yakini.
Beberapa saat berlalu, kini usai sudah solat dan doa solat yang ia lakukan. Sejenak Ruth meratapi kain tebal yang terlukis indah sebuah gambaran di sana. Matanya menatap sendu lukisan itu.
"Heeeem...huuuuh." ditariknya pelan napas itu lalu di hembusnya perlahan.
Meski belum sah memeluk agama yang ia yakini, namun perasaan lega di dalam hatinya mulai terasa. Ia pun melengkungkan bibirnya tersenyum lembut. Kala mengingat sebentar lagi ia akan bisa kembali pada jalan yang selalu ia rindukan.
Dimana solat yang selalu menjadi tempatnya mengaduh berkeluh kesah, dimana tempatnya ia berbagi kebahagiaan. Dan itu semua sebentar lagi akan bisa ia rasakan kembali.
Kepalanya menunduk, kedua pasang matanya menatap perut yang tertutup dengan kain putih di sana. "Sayang, kamu mau kan ikut Mamah saat ini dan seterusnya. Kita akan belajar bersama tentang agama Islam..." ia benar-benar bahagia bisa mendapatkan malaikat kecil di dalam perutnya saat masa-masa sulit seperti ini.
__ADS_1