Perjuangan Cinta Nona Ruth

Perjuangan Cinta Nona Ruth
Chapter 218. Tuan Fredi Putra


__ADS_3

Sejuknya udara di Kota Bandung kini terasa begitu sangat menyenangkan bagi sepasang suami istri yang sudah sangat lama tidak pernah memijakkan kakinya di kota tersebut.


Mobil yang di kemudilkan Dava kini telah terparkir sempurna di sebuah halaman rumah megah yang entah siapa kah pemiliknya.


"Akhirnya Ayah kita ke rumah ini lagi." Tarisya tersenyum lebar pada sang suami sebelum mereka turun dari mobil itu.


"Ayah sangat merindukannya, Sya." sahut Tuan Wilson menatap penuh kerinduan ke arah rumah bercat serba putih di sana.


Suasana terlihat tampak sepi, hanya ada seorang petugas kebun yang tengah menata bonsai dengan sangat telaten.


"Apa sahabat Ayah itu ada di rumahnya? Sepertinya sangat sepi di sana." sahut Sendi yang masi berada di dalam mobil dengan lainnya.


"Sudahlah ayo kita segera turun." pintah Tuan Wilson begitu tidak sabar jika harus berlama-lama mengobrol di dalam mobil tanpa membuahkan hasil.


Lagi pula tubuhnya terasa sangat penat setelah perjalanan panjang dari kota Jakarta menuju Bandung.


Semuanya pun berjalan sembari mengikuti arah kursi roda Tuan Wilson yang di dorong oleh Dava menuju ke rumah megah di depannya.


"Permisi...ada yang bisa saya bantu?" sapa seroang pria berseragam rapi di rumah itu yang entah muncul dari mana asalnya.


"Saya ingin bertemu dengan..."


"Oh Ya Tuhan...apakah benar yang ku lihat ini. Papi!" teriak seorang wanita  tiba-iba histeris saat baru melangkahkan kakinya di depan pintu utama rumahnya.


Mendengar itu, Tuan Wilson tak jadi melanjutkan ucapannya pada sang pria di depannya.


"Mari silahkan, Tuan, Nyonya." ucapnya setelah mendengar sang majikan yang sudah menjerit histeris setelah mengetahui siapa yang datang ke rumahnya siang itu.


Tarisya dan Tuan Wilson tersenyum melihat betapa terkejutnya sang sahabat di depan sana kala melihat kembali kehadirannya.


Sepertinya mereka masih belum mendengar kabar tentang kembalinya seorang pemilik perusahaan D Group yang sudah lama menghilang dengan mengenaskan itu.


"Ada apa, Mami? Mengapa teriak-teriak..." pertanyaan pria yang baru  saja tiba di depan pintu itu sembari menatap sang istri yang tampil modis seketika teralihkan pada sosok suami istri yang sangat tidak ia sangka masih ada di dunia ini.


Ia menghentikan ucapannya dan juga gerakan tangannya yang tengah merapikan jas mewah di tubuhnya.


Matanya yang sudah berkeriput itu tampak berkaca-kaca kala melihat siapa yang ada di depannya kini. Sungguh hal yang sangat tidak ia duga bersama sang istri.


Selama ini Tuan Fredi sudah mengihklaskan kepergian sang sahabat meski masih begitu banyak pertanyaan yang muncul di benaknya. Seperti yang terucap dari bibir sang sahabat, jika ia tidak ingin Tuan Fredi melakukan apa pun pada keluarganya ketika ia meninggal.


Bagi Tuan Wilson, keluarganya tidak akan aman jika masih berurusan dengan kekuasaan.


"Fredi, mau sampai kapan kau tetap berdiri di situ? Ku pikir kau akan merindukan sahabat lama mu ini." celoteh Tuan Wilson terkekeh melihat wajah penuh kesedihan di sana.


Tak ada kata yang bisa terucap lagi, Tuan Fredi langsung berlari dan memeluk tubuh sahabatnya yang masih duduk di kursi roda itu.


Isakan tangis seorang pria tua itu terdengar sangat menyayat hati. Pertemuan di usia mereka yang tak lagi semuda dulu sungguh terasa seperti bertemu di surga.


"Kau...Wilson? Kau, ini benar kau? Aku tidak percaya?" tanyanya dengan kedua mata yang sudah banjir air mata. Ia tatap wajah sang sahabat usai melerai pelukannya. Hatinya benar-benar masih tidak percaya jika ini adalah sahabatnya di masa dulu.


"Bagaimana bisa kau ada di sini? Ini tidak benar. Kau sudah meninggalkan kami, bukan?" tuturnya terus bertanya karena masih terasa seperti mimpi.


Begitu pula dengan dua wanita yang juga sangat dekat. Suami mereka bersahabatan dan mereka juga tentunya menjalin hubungan sahabat akibat kedua suami mereka.


"Tarisya, bagaimana mungkin kita bisa berpelukan? Aku rasa ini adalah mimpi yang paling indah yang pernah hadir dalam tidurku." wanita cantik itu meneteskan air mata penuh haru.


Begitu banyak pertanyaan yang ingin ia tanyakan saat ini juga pada dua sahabatnya itu.


Fredi Putra, adalah sahabat Tuan Wilson sedari mereka masih sangat muda hingga mereka sukses di dalam dunia bisnis bersama. Meski mereka memiliki perusahaan yang berbeda, namun mereka tetap saling mendukung satu sama lain.


Begitu juga dengan istri dari Tuan Fredi, Nyonya  Hana Fitri. Wanita yang sangat baik dan penyayang. Sejak kepergian sahabatnya, ia ingin sekali mencari anak dari sahabatnya itu. Tetapi ia tidak berani karena mengingat pesan Tuan Wilson, jika nyawa anaknya akan dalam bahaya jika saingan bisnisnya tahu masih ada anggota keluarga dari Nicolas yang hidup.


Meski itu hanya dugaan Tuan Wilson sebelum ia pergi dengan cara mengenaskan, tetapi itulah memang kenyataan. Kehidupan dunia bisnis sangatlah kejam. Nyawa manusia di ibaratkan hanya sebuah nyawa seekor kucing yang tidak ada hukumnya di kalangan mafia bisnis.


Isakan tangis dan sapaan hangat sahabat pada sahabat lamanya kini telah usai. Hingga kedua pasangan yang tengah berpelukan memilih untuk melepaskan tubuh mereka masing-masing.


"Wilson, kau banyak hutang penjelasan padaku. Ayo sekarang kita masuk dulu." tutur Fredi sembari mempersilahkan mereka semua masuk.


Tatapan mata pria itu jatuh pada dua pria muda yang sangat tampan dan penuh aura pemimpin. Senyuman di wajahnya mengembang kala dapat memastikan siapa pria tampan yang ada di rumahnya kini.

__ADS_1


Dava mendorong kursi roda sanga ayah dan mereka semua akhirnya duduk di kursi keluarga dengan saling berpandangan.


Tak lama terdengar tawa dari keempat pasangan tak muda itu. Mereka benar-benar bahagia di usia yang senja kini masih bisa bertemu dan berpelukan lagi seperti dulu.


"Wajah kita sudah sama-sama keriput, Sya." sahut Nyonya Hana terkekeh geli melihat wajah mereka berdua yang ternyata tak bisa menghindari usianya.


"Hahaha...ku pikir hanya aku yang akan memiliki ratusan lipatan di wajah. Ternyata kau juga hahaha." Tarisya tergelak kala melihat wajah cantik sang sahabat yang tak bisa kencang dan glowing seperti dulu lagi.


Dava dan Sendi terkekeh mendengar perbincangan orang-orang tua di depannya.


"Apa yang terjadi pada kalian?" tanya Fredi akhirnya memulai introgasi dengan sang sahabat.


Di sinilah, Tuan Wilson mulai menceritakan segala yang terjadi pada mereka beberapa tahu lalu. Semuanya terjadi begitu mengenaskan. Hingga ia dan sang istri sama sekali tidak bisa pergi atau pun meminta tolong karena memang pengurungan mereka di lakukan dengan sangat rapat. Tak ada celah untuk ia mencari bantuan. Bahkan tak ada keluarga yang bisa mencari tahu karena memang mereka tidak memiliki keluarga. Hanya ada Mbok Nan dan Ruth yang tersisa.


Dan mereka bisa apa? Melawan kelicikan Tuan Iwan dan Tuan Deni kala itu.


Raut wajah bahagia Fredi dan sang istri tiba-tiba mendung karena merasa bersalah. Mereka bahkan tidak berani melakukan apa pun karena memang berita itu begitu terasa nyata. Bahkan pihak kepolisian pun begitu kuat menutup kasus mereka.


"Andai aku tidak menghawatirkan putrimu...aku benar-benar ingin menelusuri kasus itu dengan menyewa seseorang, Wil." sahut Tuan Fredi begitu sedih mendengar kisah penderitaan sang sahabat.


Saat inilah dirinya merasa tidak layak untuk di sebut sahabat lagi. Rasanya sungguh menyesal, jika ia tahu semua kecelakaan itu tidak membuat mereka meregang nyawa mungkin dengan sekuat tenaga ia akan tetap mencari keberadaan sang sahabat.


Namun berita yang menyebutkan mereka telah meninggal, membuat Fredi sungguh putus asa dan menyerah sebelum berperang.


"Yang kau lakukan sudah benar, Fredi. Aku begitu bangga memiliki sahabat sepertimu. Sesuai dengan janjiku. Jika aku dan istriku pergi, jangan mencari apa pun celah mereka. Karena pergerakanmu pasti akan tetap di pantau oleh mereka. Satu-satunya keluarga yang dekat dengaku adalah kalian. Aku akan sangat bersalah jika sampai keluargamu juga akan terlibat." tutur Tuan Wilson panjang lebar.


Setelah perbincangan panjang lebar, kini mereka lanjut pada pembahasan tentang dua pria tampan di depannya kini.


"Apakah mereka adalah..." tunjuk Tuan Fredi yang merasa sulit menyebut nama pria kecil yang dulu sangat dekat dengannya.


Tarisya pun menjawab dengan wajah tersenyum bangga. "Yah, mereka adalah Berson dan Jeff. Dua anak kecil yang suka mengejarmu ketika datang ke rumah untuk minta di pakaikan pempers."


Suara tawa menggema di ruang tengah itu kala mengingat masa yang benar-benar lucu dan sangat sayang sudah terlewatkan sia-sia.


Wajah Fredi dan Tuan Wilson begitu memerah mengingat betapa nakalnya dua anak pria di depannya ini saat masih kecil. Berbeda dari saat ini yang sangat sopan, berwibawa dan diam. Tidak ada bibir tumpis lagi seperti dulu.


"Paman sangat rindu masa-masa itu, Jeff, Berson. Kalian berdua selalu berebut Paman tiap kali datang kerumah kalian. Bahkan Ayahmu saja tidak laku di rumah kalian." Fredi tertawa seraya menggelengkan kepalanya geli.


"Maafkan kami, Paman." ucap Dava dan Sendi bersamaan sembari menangkupkan kedua tangannya merasa bersalah.


"Tidak. Kalian tidak perlu meminta maaf." tangan Fredi melambai di udara menolak permintaan maaf dua pria tampan itu. Ia masih menikmati tawanya yang sudah lama tidak terasa itu.


"Jika bisa terulang lagi, Paman justru ingin setiap hari datang ke rumah kalian untuk menikmati masa-masa itu. Sayangnya...Paman tidak tahu jika saat itu adalah pertemuan kita yang terakhir sebelum kalian tumbuh sedewasa ini." Tatapan bahagia di mata Fredi berubah menjadi sedih kembali.


Ada rasa bersalah kala mengingat detik-detik terahkhir kunjungannya ke rumah sang sahabat di Jakarta saat itu.


Kunjungan di saat itu, ia mengingat dengan jelas ketika Sendi dan Dava berebut meminta di gendong ingin di bawa berjalan-jalan ke taman rumah mereka. Namun, Fredi yang sudah memiliki jadwal meeting beberapa saat lagi terpaksa harus pergi.


Meninggalkan dua bocah yang menangis di pelukan sang ayah dan bundanya karena kepergian paman tersayang mereka.


"Maafkan, Paman. Maafkan Paman yang tidak bisa menemani kalian saat itu hanya karena sebuah meeting yang tidak ada artinya sama sekali." Fredi tertunduk sedih.


Ia sangat sadar, materi yang ia kejar-kejar saat itu bahkan merenggut masa-masa terakhirnya untuk bersama dua keponakan tersayangnya.


Tanpa di sadari, Dava dan Sendi yang sedari tadi terlihat tenang mendadak merasa ada bayangan-bayangan yang terlintas di kepalanya.


"Paman!"


"Paman!"


Teriakan seorang bocah kecil menggema begitu saja pada telinga keduanya.


"Jeff, Paman sedang ada kerjaan, Nak. Tidak baik menangis seperti itu, Sayang." suara lembut seorang wanita yang tengah menggendongnya penuh kelembutan memberikannya pengertian.


"Paman! Paman! Itut!" teriak suara bocah lagi sama-samar.


"Anak Ayah yang pintar. Tidak baik seperti itu Berson. Kau anak pintar. Ayolah kita bermain bersama Bunda dan Kakak Jeff saja yah?" bujuk suara pria terdengar menenangkan seorang anak kecil.


"Jeff!"

__ADS_1


"Berson!" teriakan dan genggaman tangan di lengan membuat Dava dan Sendi bersamaan tersadar dari rasa pusingnya.


"Ada apa? Apa kau sakit?" Tarisya memeriksa keadaan dua anaknya dengan wajah yang sangat cemas.


"Ayah...Bunda!" Dua pria tampan itu menghambu rmemeluk tubuh Tarisya yang lebih dekat dengan mereka.


Tarisya sangat terkejut melihat reaksi kedua anaknya. Apa yang terjadi pada mereka, pikirnya.


"Katakan pada Bunda. Apa yang terjadi?" tanyanya lagi.


Tangannya berusaha mengusap-usap punggung kedua anaknya yang masih memeluk begitu erat.


Tuan Wilson, Fredi dan sang istri tak kalah bingungnya melihat tingkah Dava dan Sendi yang memeluk Tarisya dengan begitu penuh kesedihan.


Merasa tidak ada yang salah dengan ceritanya baru saja. Fredi semakin bingung.


"Bunda, Jeff sudah mengingatnya." sahut Dava.


"Berson juga, Bunda. Semuanya sudah kami ingat. Maafkan kami, Bunda." lanjut Sendi dengan yakin.


"Apa? Kalian sudah mengingat semuanya? Alhamdulillah...syukurlah. Bunda sangat senang mendengarnya." Tarisya dengan cepat mengusap air mata bahagianya.


Ia paham benar apa yang terjadi pada anaknya sebelumnya.


Setelah semua yang terjadi, akhirnya Mereka kembali berbincang panjang lebar tentang masa lalu dan tentu saja Dava dan Sendi merasa terhibur mendengar semua kisah mereka di masa kecil sampai lahirnya adik mereka yang bernama Shandy itu. Entah bagaimana pintarnya Tuan Wilson hingga tak ada satu pun yang tahu tentang penukaran bayi itu.


Namun, bagi mereka itu tidaklah wajib untuk di buka. Cukup keluarga mereka saja yang tahu dan tidak perlu lagi untuk di buka. Semuanya sudah lewat dan selamanya Ruth akan tetap menjadi anak mereka.


Tak lama terdengar suara seorang wanita paruh baya dengan seragam asisten rumah tangga.


"Tuan, Nyonya. Makan siangnya sudah siap." tuturnya dengan sangat sopan.


Seperti perintah Nyonya Hana sebelumnya untuk mempersiapkan makan siang.


"Baiklah. Terimakasih, Bi." sahut Nyonya Hana dengan lembut.


Lalu ia mempersilahkan semuanya untuk makan siang.


Semua duduk dengan tenang di meja makan. Namun tidak dengan Dava. Ia meraih ponselnya dengan wajah cemas. Siapa lagi yang ia cemaskan jika bukan wanita yang melahirkan anaknya itu.


"Aku baru sampai di Bandung."


"Makanlah yang banyak."


"Apa kau sudah makan?"


"Jangan memakan sembarangan. Tanyakan pada Mbok Nan terlebih dulu mana yang baik dan tidak."


"Bagaimana, apa kau sudah makan?"


"Aku mau makan siang. Makanlah cepat jangan terlambat."


"Maaf aku tidak bisa menyuapimu siang ini. Tapi besok pagi aku janji akan menyuapi sarapan untukmu."


Dava mengerutkan kening kala melihat semua pesan yang ia kirim tak ada satu pun yang terbaca oleh wanita bermata cokelat itu.


"Maaf semuanya, saya permisi sebentar mau menelpon. Silahkan duluan saja." tutur Dava dengan sangat sopan meski sebenarnya ia merasa tidak enak karena meninggalkan meja makan di saat semuanya sudah hampir memulai makan siangnya.


"Halo, Mbok." sapa Dava dengan sigap saat sambungan telepon tersambung.


"Ayah," suara bocah dengan centilnya terdengar di seberang sana.


"Putri, mana Mamah? Mbok Nan mana?" tanya Dava begitu tidak sabaran.


"Ih...Ayah nanyanya siapa sih? Mamah atau Mbok Nan? Ayah nggak boleh jadi rumput tetangga loh." celetuk Putri begitu absurdnya membuat Dava memukul keningnya.


"Astaga, Nak. Kau ini dengar kosa kata itu dari mana sih? Tidak seperti itu mengatakannya. Hah...ada-ada saja." Dava menggeleng heran melihat konektifitas sang anak.


"Mamah lagi bobok katanya ngantuk, Ayah. Soalnya tadi makannya banyak banget. Kalahin Putri sama Mbok Nan lagi." ledeknya terkekeh membuat Dava bisa bernapas lega seketika.

__ADS_1


Ternyata wanitanya sudah tertidur. Pantas saja tidak membalas pesan darinya.


__ADS_2