
Di kamar, Ruth memperhatikan ke arah pintu kamarnya.
"Mamah nunggu Ayah yah?" celetuk Putri memperhatikan tatapan mata sang Mamah.
"Em...enggak kok, Sayang. Ayo sini temani Mamah bobok." Ruth menarik tangan kecil itu agar mendekat padanya dan ikut naik ke atas tempat tidur setelah cukup lama dirinya duduk bersandar.
Dalam hati, Ruth sungguh penasaran dengan kedatangan Rafael ke rumahnya. Sementara Dava sama sekali tidak ingin membahas bahkan tidak pernah mau berbicara terkait tentang masalah keluarganya.
"Mengapa rasanya ada yang ganjal? Astagfirullah...eh ya Tuhan maafkan aku. Aku begitu tidak percaya pada suamiku." Ruth memejamkan mata karena sadar akan ucapannya yang salah saat ini.
Di sini, Dava menundukkan kepalanya. "Come on, Dav. Keadaan istrimu sangat mengkhawatirkan...huh."
"Aku rasa kau sangat bijak dalam memberikan keputusan saat ini. Semua ada di tanganmu." lanjut Rafael lagi setelah menghela napasnya yang begitu sesak rasanya.
Dava terdiam tak bergeming.
Jika ia hanya diam saja, semuanya akan semakin sulit. Semakin banyak kebohongan yang terus menjadi penutup kebohongan lainnya.
Lelah. Ia lelah sekali jika terus bersandiwara seperti ini. Mau sampai kapan kehidupannya penuh dengan drama?
Sementara di sisi lain, ia tidak akan sanggup untuk berterus terang jika harus menjadikan istri dan calon anaknya korban nantinya.
"Aku akan memikirkannya, Raf. Thanks yah."
Rafael langsung menepuk bahu temannya dan berdiri dari duduknya. "Oke. Kalau begitu aku harus segera pamit saat ini. Datanglah besok ke rumah sakit. Berikan alasan hasil pemikiranmu malam ini. Aku harap kau tidak membahayakan nyawa keduanya. Selamat malam."
"Malam." sahut Dava lirih tanpa tenaga.
Mata hitamnya menatap hampa kepergian Rafael yang semakin menjauh dari rumahnya hingga benar-benar tak terlihat lagi.
"Sayang..." Suara lembut yang tentu ia sangat hapal siapa pemiliknya kini sudah bergelayut manja pada lengannya.
__ADS_1
"Ruth, mengapa keluar?" Dava begitu gugup menatap wajah sang istri. Ia takut jika sampai Ruth mendengar semuanya.
"Ya Tuhan, apa dia mendengarnya?" batin Dava sembari meneguk kasar salivahnya.
"Lama sekali bicaranya. Ada hal penting apa sampai aku tidak boleh mendengarnya? Hem? Kau tidak menyembunyikan sesuatu dariku kan?" Ruth meluruskan tubuhnya menghadap sang suami.
Di pegangnya wajah sang suami hingga benar-benar lurus menatapnya. "Dav, ada apa?" tanyanya dengan lemah lembut.
"Semua baik-baik saja, Sayang. Aku hanya tidak ingin kau berlama-lama di luar kamar. Keadaanmu masih lemah. Ayo masuk ke kamar." Dava buru-buru menggandeng pinggang sang istri tanpa memberikannya waktu untuk bertanya kembali.
Keduanya berjalan menuju kamar mereka berada. "Sayang, besok aku harus ke kantor pagi-pagi." ucap Dava sembari membuka pintu kamar mereka.
"Kok besok? Kan janjinya masih lusa, Dav? Aku juga ikut ke kantor kalau begitu. Okey?" Senyuman bahagia dan cantik itu membuat Dava benar-benar sulit untuk mengakui status mereka yang sebenarnya.
Di usapnya pucuk kepala berambut jatuh itu. Lalu di ciumnya sekilas. "Apa pun yang terjadi, tetaplah tersenyum seperti ini, Sayang." tutur Dava membuat Ruth mengernyitkan keningnya.
"Ya ya ya, suamiku yang tampan ini tidak perlu khawatir. Selagi masih ada kau di sampingku tentu aku akan tetap tersenyum seperti ini."
"Tapi..." Ruth tampak menggantung ucapannya.
Ruth pun menganggukkan cepat kepalanya. "Ehem...tapi kalau tidak ada suamiku di sisiku, aku tidak akan bisa tersenyum lagi. Atau mungkin aku tersenyum seperti itu karena sudah berada di rumah sakit jiwa hehehe."
Mendengar penuturan Ruth yang terdengar sangat menyinggung, Dava tak bisa berbicara apa pun. Meski kata-kata itu sebenarnya hanya asal saja Ruth katakan.
"Hei, are you okey? Aku hanya bercanda, Sayang. Lagi pula itu hal yang mustahil bukan? kau meninggalkanku. Aku percaya itu tidak akan mungkin tidak akan pernah terjadi. Apalagi..." Ruth menunduk tersenyum saat tangannya mengusap perut yang masih rata itu.
"Di sini ada anak kita." lanjutnya kemudian saat mata Dava ikut menatap ke arah perutnya.
Tak bisa berucap apa pun lagi, kini Dava terlihat hanya bisa tersenyum paksa mendengarkan celotehan sang istri tercinta. Sekuat tenaga ia menahan air mata yang sudah menggenang di kedua manik matanya.
"Dav, apa aku salah mengucapkan kata?" tanya Ruth bingung saat melihat tatapan sendu dari sang suami. Tentu saja meski air mata itu tak jatuh, sangat jelas Ruth bisa melihat sang suami saat ini tengah berkaca-kaca matanya.
__ADS_1
"Tidak. Ayo kita istirahat. Kau harus banyak istirahat. Dan besok, aku akan tetap pergi sendiri. Tidak ada kata ikut, mengerti?" ucapnya mencolek hidung mancung istrinya.
"Baiklah, tidak masalah. yang penting malam ini aku tidak mau tahu suamiku harus memeluk sepanjang malam. Bagaimana?" ajaknya mulai tawar menawar. Dan dengan cepat Dava mengangguk setuju.
"Ayo." Ruth terkekeh lagi-lagi sang suami menggendongnya saat jaraknya sangat dekat pada tempat tidur.
Mungkin menggelikkan, tapi inilah yang membuat Ruth semakin jatuh cinta pada sang suami.
Ceklek.
Lampu tidur pun menyala setelah lampu utama kamar di matikan.
Keduanya tampak memejamkan mata dengan cepat di dalam balutan selimut tebal. Tanpa tahu jika di kamar yang berbeda tengah terjadi drama.
"Mbok, Putri mau bobok sama Ayah aja kalau gitu." ucapnya ingin turun dari tempat tidur.
"Eh, Putri. Kok begitu sih? Kasihan dong Mamah Ruth sendirian. Kan Ayah lagi bantuin buat dedek di perut mamah. Gimana? Katanya mau punya dedek gemes kan?" bujuk Mbok Nan yang mulai melihat wajah Putri tak seperti biasanya.
"Hiks hiks hiks...Putli kan mau bobo di temanin Ayah atau Mamah, Mbok. Putli nanti enggak ada yang sayang lagi." isaknya yang sudah menjatuhkan air mata ketidak relaan meski sekuat tenaga ia tidak memperlihatkan wajah sedihnya.
Hanya ada suara isakan dan air mata yang jatuh perlahan. Seperti biasa, Putri selalu bersikap angkuh tidak ingin terlihat lemah di depan orang.
"Ayah sama Mamah lagi kangen-kangenan. Mamah Ruth juga sakit, apa Putri nggak kasihan sama Mamah? Nanti Mamah sakit lagi bagaimana?"
Bocah itu menggeleng cepat. "Putli nggak mau Mbok, Mamah sakit lagi. Putli sayang sama Mamah." Mbok Nan tersenyum lalu mengusap lembut kepala Putri.
"Ayo, biar Mbok yang temani Putri tidur. Nanti kalau sudah Mamah sehat, baru Putri di temanin Ayah atau Mamah bahkan sekaligus keduanya juga boleh. Iya sayangyah?"
Setelah cukup lama drama itu berlangsung, kini semua pun terlelap dalam kamar masing-masing. Berbeda dengan Sendi yang baru saja menutup laptop kerjanya.
Matanya menatap pergelangan tangan yang memperlihatkan jam tangan mewah di sana.
__ADS_1
"Kenapa waktu lama sekali, ku pikir sudah jam 12 ternyata masih jam sembilan." gerutunya karena pekerjaan yang menumpuk sudah ia kerjakan semua namun jam masih saja bergerak begitu lambat.
"Mereka semua pasti belum tidur jam segini, apa yang harus aku lakukan lagi?" Ia berdiri dari kursi kerja, meraih kunci mobil dan juga tas kerjanya yang sudah berisikan laptop miliknya tadi.