Perjuangan Cinta Nona Ruth

Perjuangan Cinta Nona Ruth
Chapter 143. Kemunculan Yang Menakutkan


__ADS_3

Indahnya gedung-gedung yang menjulang tinggi di sekitaran pusat kota itu, pagi yang memang sangat cerah tanpa kabut membuat pemandangan mentari yang menyorot beberapa gedung membuat semuanya sangat hidup.


Langit biru yang berhiaskan awan putih pun bergerak teratur tanpa adanya burung-burung yang berterbangan. Namun hal itu tak menutup keindahan langit di sana.


Setelah menempuh perjalanan, kakak beradik itu kini tampak memasuki gedung perusahaan D Group. Gedung yang masih tak seramai gedung lainnya tentunya.


Dava melangkah cepat usai ia memarkirkan mobilnya dengan sempurna. Begitu pun Sendi, pria itu melangkah menyusul di belakang sang kakak. Keduanya tampak saling berdiam.


Keduanya pun memulai pagi yang cerah dengan pekerjaan mereka masing-masing.


Sendi tampak begitu tenang dalam bekerja, berbeda halnya dengan Dava. Pria itu terus terpecahkan pikirannya. Tentang perkataannya barusan dengan Dava, tentang bagaiamana ia akan meninggalkan sang istri malam ini sendirian. Rasanya sungguh tidak rela walau hanya semalam saja ia berpisah dengannya.


"Ini hanya semalam...bagaimana jika untuk selamanya?" lirihnya menatap hampa kertas putih di depannya.


Kepalanya begitu sakit memikirkan ini semua, sedangkan semua yang ia perjuangkan saat ini adalah untuk membahagiakan kedua orangtuanya.


Berbeda halnya di sisi lain.


Kini Tarisya yang merasakan senang luar biasa setelah mendengar penuturan sang anak, akhirnya memutuskan untuk segera beranjak membereskan rumah mereka. Ia bersemangat untuk merapikan seluruh isi kamar kosong yang berukuran tidak begitu besar.


"Ayah, Bunda tinggal ke kamar itu yah? Ayah istirahat dulu di sini. Ini Bunda nyalakan televisinya." Di sandarkannya tubuh sang suami pada sofa setelah membantunya untuk duduk di sofa.


Tarisya bergegas berjalan dengan membawa spray yang ia dapatkan dari dalam lemari dan juga beberapa sarung bantal serta selimut tebal.


Wajahnya berseri-seri saat masuk ke kamar itu. "Hehe sebentar lagi mereka akan tidur di sini bersama kami di rumah ini. Ya Allah sungguh aku sangat tidak sabar menantikan kepulangan Shandy...semoga semuanya bisa segera selesai dan ia kembali."


Bayangan di kepalanya tampak membayangkan wanita cantik yang tidak begitu jelas terlihat wajahnya. Yah, Tarisya tengah berandai-andai jika anak perempuannya datang nanti.


"Bunda..." seru gadis itu dengan cerianya berlari memeluk sang bunda.


"Shandy," sapa Tarisya kembali. Ia menyambut pelukan hangat sang anak lalu menghujaninya dengan ciuman.

__ADS_1


"Muach muach muach, Bunda kangen sekali, Nak. Kamu lama sekali pulangnya. Apa kau tidak merindukan Bundamu ini yang sudah tua?" tuturnya masih terus memeluk sang anak.


Dilihatnya wajah ayu itu tersenyum lebar. "Maafkan Shandy, Bunda. Ini semua demi keluarga kita, demi Ayah dan Bunda." Ia merangkul pinggang sang Bunda yang sudah menuntunnya masuk ke dalam kamarnya.


"Ayah," seru Shandy kala melihat sang ayah sudah berada di kursi dan tengah membaca koran di dalam kamar itu.


"Hei, kau sudah pulang, Nak? Kemari, Ayah ingin memeluk anak gadis Ayah ini." ucapnya melambaikan tangan pada sang anak lalu merentangkan kedua tangannya siap untuk menyambut kedatangan sang anak.


Tarisya pun bergegas meninggalkan bunda dan memeluk sang ayah. Suasana di kamar itu begitu terasa hangat sekali.


"Wah...wah rupanya ada yang lupa dengan anak laki-lakinya?" suara Sendi yang muncul bersamaan dengan Dava sontak membuat mereka semua tertawa gembira.


"Kakak, kalian bagaimana kabarnya? Aku sangat rindu." Shandy begitu terlihat sangat manja pada kedua kakaknya. Bahkan ia terlihat memeluk erat kedua kakak laki-lakinya dengan perasaan yang sangat menyedihkan.


"Nak, kau sekarang sudah pulang. Jangan bersedih lagi. Kakakmu akan menjagamu kembali di sini." tutur Tarisya mengelus rambut panjang sang anak dan ikut memeluknya.


"Hem...terimakasih Tuhan. Kami telah berkumpul menjadi keluarga yang lengkap saat ini. Terimakasih." tutur Tuan Nicolas sembari memeluk seluruh tubuh yang sudah berpelukan menjadi satu di depannya. Ia terharu melihat moment yang menjadi harapannya selama berada di tempat penyekapan.


Senyuman di wajah wanita yang tua tampak menimbulkan beberapa garis kerutan hingga akhirnya ia pun tersadar dari lamunannya. Ia melihat spray yang masih belum ia pasang di pelukannya.


Ia segera menelpon sang anak. Panggilan tersambung.


"Halo," sapa pria di seberang sana dengan suara khas yang begitu hangat menyentuh hati.


"Eh halo, Jeff. Bunda boleh meminta foto adikmu? Bunda sangat penasaran dengan wajahnya. Segera kirim yah, Nak? Atau kalau bisa berikan saja Bunda nomor ponselnya. Bunda sangat tidak sabar berbicara dengan Shandy." terangnya dengan panjang lebar.


Seketika Dava terdiam. Kebohongan lagi yang ada di pikirannya.


Sejenak ia memijat keningnya. Mau sampai kapan masalah ini terus ia tutupi? Mau sampai kapan ia terus mengarang kata demi kata pada sang bunda. Sungguh Dava merasa lelah, ingin sekali ia berteriak kepada dunia.


Di tariknya napas itu dengan pelan, lalu perlahan mulai menghembuskannya.

__ADS_1


"Bunda, Shandy sedang sangat tidak bisa di ganggu. Sedangkan kami menghubunginya dari kantor hanya bisa di balas dengan email saja." jawabnya berbohong.


Tarisya yang mendengar penuturan sang anak tak patah semangat. "O begitu ya? kalau begitu boleh bunda minta emailnya? Biarkan bunda mengabarinya sendiri."


"Baik, Bunda. Segera Jeff kirim setelah ini."


Panggilan pun terputus saat keduanya usai saling mengucap salam.


Tarisya duduk segera di kamarnya, ia terus sesekali memeriksa ponselnya. Namun pesan dari sang anak tak kunjung tiba. Hatinya mulai tak sabar ingin segera menghubunginya lagi.


"Ah aku rasa Jeff sangat sibuk," matanya beralih pada jam dinding di kamarnya.


"Baiklah. Ini sudah jam mendekati istirahat, sebaiknya aku ke kantor saja menemuinya dan membawakan makan siang." Wanita tua itu beranjak ke dapur dan mulai memasak menu yang biasa ia masakan untuk anak-anaknya dulu.


Senyuman penuh bahagia begitu membuatnya bersemangat memasak. Hatinya benar-benar bahagia kali ini, ini adalah momen pertama setelah sekian tahun ia menjadi ibu dan akhirnya bisa kembali memasakan makanan untuk anak-anaknya.


"Aku tidak akan menyia-nyiakan waktu yang kau berikan untukku, Ya Allah. Aku akan gunakan sebaik mungkin untuk mengurus anak-anakku yang sudah dewasa. Akan ku buat mereka seperti semasa kecil dahulu. Akan ku sayangi mereka seperti umur mereka dahulu terakhir bertemu denganku." batinnya dalam hati sembari memasak bumbu yang sudah selesai di siapkan.


***


Pandangan mata wanita itu begitu berbinar kala menatap tingginya gedung yang sangat lama tak ia jumpai. Mungkin memang tak sebesar gedung yang lainnya, namun ini adalah tempat di mana sang suami dahulu bekerja dengan giat.


Sekilas bayangan-bayangan kebahagiaannya kembali terlintas. Wajah cantiknya yang selalu tampil menawan, dengan sosok pria tampan yang selalu menempel padanya di manapun dan kapanpun itu.


"Permisi, Ibu. Ada yang bisa di bantu?" tanya wanita itu dengan wajah ramahnya berdiri di meja receptionis.


"Em begini saya ingin mengunjungi anak saya dan membawakan makan siang kemari. Boleh saya di antar menemuinya? Anak saya pemilik perusahaan ini." tuturnya dengan wajah tersenyum lembut.


Napas Tarisya seakan begitu segar bisa menghirup udara kota ini dengan leluasa kembali.


"Pemilik perusahaan ini?" tanya wanita itu dengan wajah gugup. Setaunya kedua orangtua Ruth sudah tiada. Dan berita itu tentu saja sudah tersebar di segala sudut kota.

__ADS_1


"Ibunya Nona Ruth?" tanya wanita itu dengan ragu.


Tarisya mengernyit tak mengerti, mengapa wanita itu menyebut nama Nona Ruth? Siapa wanita itu? Apakah dia salah mengunjungi kantor?


__ADS_2