Perjuangan Cinta Nona Ruth

Perjuangan Cinta Nona Ruth
Chapter 221. Perumahan Permadani


__ADS_3

Wajah Ruth gugup dan berubah menjadi merah. Ia begitu malu jika membahas tentang dirinya dan Dava di depan keluarganya.


Setelah sekian lama cobaan menerpa hubungan mereka, rasanya sangat canggung untuk kembali bersama.


"Tinggal kalian satu-satunya yang kami tunggu, Nak. Ayah dan Bunda ingin seperti orangtua pada umumnya yang melihat anak mereka menikah dengan sangat bahagia dan menjadi pusat perhatian tamu undangan." Yah impian orangtua sangatlah sederhana.


Saling berjabat tangan dengan para kerabat dekat maupun jauh di hari pernikahan anak mereka. Sedangkan Sendi tidak mungkin lagi untuk menikah.


"Kami akan melakukan melakukan pernikahan yang sedang saja, Ayah. Tidak begitu sederhana. Tapi tetap tidak berlebihan juga." jawab Dava yang mengingat uang tabungannya tidak begitu banyak di bank.


Tuan Wilson mengangguk paham dengan ucapan sang anak. Ia tersenyum penuh pengertian. Namun, itu bukanlah kemauan yang sebenarnya dirinya saat ini.


"Ayah yang akan mengurus dan mempersiapkan semuanya. Kalian tinggal persiapkan diri kalian saja." sahut Tuan Wilson dengan yakin.


"Dav, apa kau yakin dengan semua ini?" tanya Ruth sekali lagi ingin memastikan sang calon suami.


Dava hanya tersenyum dan mengangguk. Baginya tidak perlu banyak berbicara saat ini, yang terpenting adalah pembuktian untuk Ruth darinya.


Perbincangan terus berjalan dengan semakin hangat. Tak lupa mereka mendengar setiap keluhan si bocah Putri yang selalu sukses mencuri perhatian para orang dewasa di sana.


"Putri mau jadi pengantin kecilnya nanti yah, Ayah? Kakek, bolehkan?" ia tersenyum begitu senangnya tak sabar menanti hari bahagia sang bunda dan ayah yang kembali merajut pernikahan dalam agama Islam.


Belum usai semua menjawab, ia kembali bersuara. "Tapi...nggak asik dong. Kan enggak ada pengantin laki-lakinya. Terus Putri jalannya sama siapa nanti?" ia tampak mengetuk-ngetuk pipi tembemnya untuk berpikir sejenak.


Ruth tersenyum geli melihat tingkah centil sang anak. "Nanti Mamah yang carikan, pasti ada kok yang punya anak laki-laki di perusahaan. Putri jangan khawatir. Mamah tidak akan biarkan Putri sendirian di hari itu." ucap Ruth yang sangat kasihan melihat sang anak selama ini begitu terkurung.


Kehidupan keluarganya yang selalu mendapatkan masalah besar, membuat Putri tak memiliki pikiran untuk berteman dengan seumurannya dan bermain. Ia selalu setia bersama sang ibu maupun Mbok Nan.


Malam yang semakin bertambah dingin tak membuat satu keluarga itu mengundurkan diri menghangat di dalam kamarnya. Mereka bahkan tidak merasa kedinginan karena kehangatan yang tercipta di ruangan keluarga itu.


Hingga kini hari-hari terlewatkan dengan banyaknya drama tentang persyaratan pernikahan yang harus di lengkapi. Dava tak mengeluh sedikit pun untuk terus menjalankan syarat yang harus ia penuhi.


Usai semuanya berjalan dengan lancar, kini tiba hari dimana Tuan Wilson membawa seluruh keluarganya menuju suatu tempat yang begitu asing bagi mereka.


Pagi yang cerah di hari minggu itu, Putri dengan cantiknya berlari memasuki mobil yang sudah siap membawa mereka.


Ada dua mobil. Satu mobil berisi Tuan Wilson dan sang istri serta Dina dan juga Sendi. Sedangkan mobil dua berisi Ruth, Dava, baby Rava, Putri, dan juga Mbok Nan.


Dua kendaraan beroda empat itu saling beriringan menuju jalan besar yang berjarak tidak begitu jauh. Hanya membutuhkan waktu kurang lebih tiga puluh menit menuju lokasi tersebut.


"Ayah, kita mau kemana sih?" tanya Tarisya yang merasa tidak memiliki teman atau pun saudara di tempat tersebut.


Welcome Permadani. Begitu tulisan yang teretera di gerbang elit perumahan tersebut.


Dua mobil itu membuka kaca sedikit untuk menunjukkan isi mobil mereka pada security.


"Sudah, Sya. Kau tenang saja. Sesuatu sedang menunggu kita di sana." sahut Tuan Wilson tersenyum penuh arti.


Membuat sang istri semakin gelisah tak sabar menanti siapa yang menunggu mereka di sana, pikirnya.


Sementara hari pernikahan akan di laksana dua hari lagi. Sampai hari ini Tuan Wilson tidak mengatakan apa pun dan hanya meminta Ruth dan Dava mempersiapkan diri mereka.


Setelah perjalanan berkelok-kelok memasuki perumahan elit itu, kini Sendi membelokkan mobilnya dan di ikuti mobil di belakang ikut memasuki salah satu rumah yang bernuansa putih berpadu dengan warna gold.


"Berson, bantu Ayah turun." pintah Tuan Wilson.


Mereka semua turun segera dari mobil dan mata masing-masing tak ada yang lepas dari keindahan bangunan rumah itu.


"Ini rumah baru kita. Ayah sengaja meminta Berson untuk mengurus semuanya..." tutur Tuan Wilson begitu tersenyum lebar melihat ketakjuban di wajah para keluarganya. Terutama sang istri yang sudah menutup mulutnya dengan kedua tangan.


Tarisya sangat syok melihat rumah mewah seperti istana yang sangat indah di depannya ini. Dan itu adalah rumah mereka saat ini, sungguh jauh berbeda dari rumah mereka yang sebelumnya.


"Benarkah, Kakek? Putri tidak bermimpi kan? Ayah, rumah Kakek indah sekali. Putri tidak mau ikut pulang ke rumah yang lama kalau begitu." celetuk si bocah kecil itu tampak enggan untuk pulang ke rumah sederhananya yang membesarkannya selama bertahun-tahun ini.


"Hehehe...apa Putri menyukai rumah ini?" tanya Tuan Wilson terkekeh mendengar ucapan sang cucu yang sudah tumbuh besar itu.


Putri mengangguk cepat. "Iya Kakek. Putri sayang kok sama rumah yang lama. Tapi Putri lebih mau tinggal di sini." tuturnya melingkarkan tangannya di kedua paha sang kakek yang duduk di kursi roda.


Semua terkekeh melihat tingkah bocah itu dan mereka sama-sama merasa seperti mimpi.


"Ayah, rumah ini sangat indah..." Ruth tersenyum menatap ke atas yang begitu tinggi memperlihatkan ukiran di tiang besar yang menjulang ke atas itu.


"Kita akan tinggal di sini bersama, semuanya." ucap Tuan Wilson tak terbantahkan.


"Ayah..." Tarisya yang terharu mendengarnya segera memeluk sang suami.


Keduanya saling berpelukan dengan wajah berseri-seri, tak lama Ruth yang menggendong baby Rava pun ikut memeluk kedua orangtuanya, di susul oleh Dava, lalu Sendi ikut memeluk dan Dina juga ikut memeluk semuanya dengan bahagia.


Sekali pun Sendi belum bisa berlaku baik padanya, tetap Dina merasa kenyamanan berada di tengah-tengah keluarga yang begitu baik padanya.

__ADS_1


Ia sangat nyaman dengan sikap para mertua dan ipar-iparnya. Begitu juga dengan Mbok Nan yang berperan seperti seorang ibu kandung padanya. Banyak hal yang ia dapatkan saat bertahan di kediaman Nicolas ini.


"Tetaplah bersama kita, Ayah. Sembuhlah demi kami, Ayah." tutur Ruth yang merasa takut akan kehilangan sosok ayah lagi.


Meski usia sang ayah sudah begitu tua, ia ingin sekali menjadi anak yang merasakan detik-detik bersama ayah dan bundanya.


"Ayah akan tetap bersama kalian, jika suatu saat Ayah pergi pun percayalah itu hanya tubuh Ayah saja, Tapi tidak dengan jiwa Ayah. Ayah akan berada di samping kalian selamanya. Anak-anakku."


Semua tersenyum mendengarnya. Mbok Nan yang baru saja terbangun di dalam mobil begitu terkejut saat menyadari jika kendaraan beroda empat itu sudah berhenti dan sangat sepi di dalamnya.


"Ah ya Allah, kemana semuanya?" ia menatap seluruh dalam mobil dan ia menatap mobil yang satunya lagi. Semua sudah tidak ada penumpangnya.


"Hah...ada apa ini? Tidak, ini tidak mungkin penculikan? Mana ada penculikan di depan rumah mewah seperti itu? Ini pasti mereka sedang bertamu di dalam." tutur Mbok Nan yang merasa tidak enak hati jika ia ikut masuk ke dalam rumah istana itu.


Wajah bantalnya terus ia usap-usap menghilangkan rasa kantuk. "Aduh...apa saya harus nunggu di sini atau keluar yah? Ah...kenapa bisa ketiduran sih?" umpatnya menyesal.


Tak lama kemudian, muncul bocah kecil yang tengah memainkan sepeda cantik dari dalam rumah itu.


Putri tertawa riang sembari bernyanyi saat kedua kakinya mengayunkan sepedanya.


"Kupu-kupu yang lucu


Kemana engkau terbang?


Hilir mudik mencari


Bunga-bunga yang kembang...


Berayun-ayun


Pada tangkai yang lemah


Tidakkah sayapmu


Merasa lelah?"


Alunan merdu sang bocah begitu indah terdengar. Meski nada nyanyiannya tidak sesempurna lagu aslinya, karena memang Putri baru saja belajar bernyanyi lagi Kupu-kupu yang lucu di sekolahnya.


Wajahnya tersenyum gembira seketika terhenti saat melihat sosok Mbok Nan yang baru membuka pintu mobil.


"Hah? Mbok Nan tertinggal?" celetukanya terkejut saat menyadari sosok nenek tua yang sudah mereka lupakan sedari tadi.


"Mbok Nan?" sapanya sembari berlari meninggalkan sepeda baru pemberian sang kakek.


"Putri," ucap Mbok Nan.


"Mbok kok baru kelihatan. Padahal kita semua sudah pada pilih kamar masing-masing loh. Ayo cepetan Mbok juga harus pilih kamar. Nanti dapat kamar paling kecil loh." bocah itu menarik tangan keriput Mbok Nan agar segera masuk ke dalam rumah barunya.


"Apa? Pilih kamar?" Mbok Nan merasa sangat bingung.


Apa mereka akan menginap di rumah orang beberapa hari ini, pikirnya.


"Iya, pilih kamar. Ini tuh rumah baru kita." sahut Putri enggan menanggapi serius Mbok Nan.


Keduanya memasuki rumah dan terlihatlah para keluarga yang baru saja keluar dari kamar mereka masing-masing.


"Oh Ya Tuhan. Mbok, dari mana saja?" celetuk Tarisya yang baru sadar telah melupakan wanita tua itu.


"Saya...saya di mobil, Nyonya." jawab Mbok Nan apa adanya.


"Yasudah, kalau begitu Mbok pilih kamarnya yah? Masih ada beberapa kamar yang kosong. Di lantai satu, dua, atau tiga. Semuanya masih ada kok." jawab Tarisya tanpa menjelaskan apa pun pada Mbok Nan.


Sedangkan Mbok Nan yang merasa bingung segera bertanya. "Maksudnya, Nyonya? Apa kita menginap di sini beberapa hari atau hanya semalam saja?" tanyanya dengan tak mengerti apa-apa.


Semua terkekeh mendengar pertanyaan Mbok Nan yang sangat sopan.


"Mbok, ini adalah rumah baru kita. Mbok sekarang pilih kamar yah? Setelah itu kita harus kembali untuk berkemas." Ruth yang kasihan melihat wajah senja wanita itu akhirnya menjelaskannya dengan lembut.


"Masya Allah...Alhamdulillah Ya Allah, kau memberikan rejeki yang berlimpah pada Tuan dan Nyonya." sujud syukur Mbok Nan kala mendengar apa yang sudah terjadi.


Rumah bak istana itu membuatnya benar-benar terasa seperti hidup di kerajaan yang menyisahkan kenangan indah di sisa usianya saat ini.


"Kamar di sini ukurannya hampir sama semua kok, Mbok. Saya tidak membeda-bedakan ukurannya. Kita akan tinggal dengan ukuran kamar yang sama. Hanya saja mungkin akan berbeda di bagian tata letaknya saja. Karena kami sudah menganggap Mbok adalah keluarga kami sendiri." Tarisya memeluk Mbok Nan sambil mengatakan hal itu.


Ia sadar jasa wanita tua di pelukannya kini sangatah besar bagi keluarga mereka, bahkan sampai mereka kembali lagi di saat ini Mbok Nan masih setia merawat semua peninggalannya. Termasuk anak dan rumah peninggalan mereka.


Jika saja Mbok Nan seperti orang pada umumnya, mungkin mereka akan berusaha menjual rumah itu untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari mereka. Bahkan mungkin tidak akan mau merawat Ruth hingga sedewasa seperti saat ini.


Nyatanya Mbok Nan tetap bertanggung jawab layaknya sang ibu yang tetap berusaha keras menghidupi dan mencukupi segala kebutuhan anaknya.

__ADS_1


"Selamat siang Tuan," sapa tiga orang wanita yang baru saja datang di pintu utama.


Ketiga wanita itu membawa tas besar masing-masing.


"Siang, juga. Ayo silahkan masuk." tutur Tuan Wilson mempersilahkan mereka.


"Apa tiga orang cukup Ayah?" tanya Sendi yang sebagai pengurus segala perintah sang ayah saat ini.


"Yah, sudah sangat cukup. Terimakasih, Berson." sahut Tuan Wilson pada sang anak.


"Mereka siapa, Ayah?" Tarisya menunjuk tiga wanita itu lalu menatap sang suami.


"KIta akan memperkerjakan mereka sebagai asisten di rumah kita, Sya. Ayah rasa Mbok Nan sudah cukup untuk membantu kita selama ini. Saat ini waktunya Mbok Nan hidup tenang bersama kita." Tuan Wilson yang melihat wajah tua wanita di depannya itu merasa tidak sampai hati jika harus terus memperkerjakan Mbok Nan di rumah mereka.


Ia ingin, semua yang ada di dekatnya akan merasakan bahagia yang sama seperti mereka.


"Ayah, terimakasih, Ayah. Shandy sangat senang mendengarnya." Ruth memeluk sang ayah kala mendengar penuturan Tuan Wilson barusan.


Baginya Mbok Nan adalah wanita yang begitu berharga untuknya.


"Sama-sama, Nak. Ayah akan senang jika anak-anak Ayah juga senang."


"Bisa kalian perkenalan terlebih dahulu?" tanya Tuan Wilson pada ketiga pelayan itu.


"Tentu, Tuan. Perkenalkan saya Si, yang di sebelah saya Ri, dan yang di ujung Ne." tutur sang pelayan menujuk satu persatu dari mereka.


Perkenalan diri yang sangat singkat memang. Bahkan seluruh keluarga Nicolas mengernyit heran mendengar nama yang sangat singkat itu.


"Apa sependek itu nama kalian?" tanya Dina yang merasa gatal untuk tidak bersuara.


"Tidak Nona. Nama saya Sinta Alia Mentari Pagi." jawab Bibi Si.


"Kalau saya, Rikasya Mayunda Lional Dewi." sahut Bibi Ri kemudian. Dan di lanjutkan lagi oleh Bibi Ne.


"Dan saya, Nerly Saraswati Cendana Yusfi."


Semua ternganga mendengar nama ketiga para pelayan baru itu. Bahkan Tuan Wilson pun sampai tak berkedip saat mendengarkan satu persatu nama para pelayannya yang sangat panjang.


Dan di detik berikutnya, tawa riuh terdengar memenuhi ruangan luas di rumah itu.


"Hahahaha...kalian bertiga ini lucu sekali. Nama sepanjang dan seindah itu tapi panggilannya sangat pendek. Jika saya tidak salah, kalian bertiga jadi 'Sirine'." Tarisya sudah terkekeh menahan perutnya yang terasa geli.


Semua pun ikut menggelengkan perut mereka karena merasa sangat lucu mendengar nama yang bisa-bisanya jadi sebuah kata sirine saat di gabungkan.


Dan usai masa perkenalan, kini semua keluarga Tuan Wilson pun kembali ke rumah lama.


Hari itu, ketiga pelayan yang bernama Si, Ri, Ne segera bersiap membersihkan rumah megah itu setelah meletakkan barang-barang mereka.


Perjalanan pulang semuanya terasa sangat terhibur hari ini. "Sepertinya hari-hari kita akan sangat lucu dengan kehadiran mereka, Ayah?" tutur Tarisya saat suasana di dalam mobil tampak hening.


"Iya, Sya." sahut Tuan Wilson terkekeh kembali mengingat saat tadi dirumah baru.


"Berson, bagaimana bisa kau menemukan pelayan langka seperti itu? Bahkan Ayah sampai tidak bisa menghapal satu pun nama dari mereka." tutur Tuan Wilson yang berusaha keras mengingat, tetapi hanya kata 'Sirine' saja yang ada di ingatannya.


"Entahlah, Ayah. Aku hanya mencari mereka bertiga melalui situs online. Di sana banyak pilihan pelayan, namun kebetulan kita membutuhkan lebih dari satu, jadi secara acak saja mengambil mereka." sahut Sendi dengan wajah datarnya.


Bukannya ia tidak bahagia hari ini melihat seluruh keluarganya hidup tertawa bahagia, tetapi ada suatu hal yang membuatnya harus menguatkan diri jauh-jauh hari. Yaitu pernikahan kembali wanita yang ia cintai dan belum bisa ia lupakan sampai saat ini.


***


Sosok wanita cantik dengan gaun putih yang membalut tubuhnya dengan sempurna kini sangat bercahaya di depan cermin besar itu. Sanggulan rambut yang sangat indah dan mata cokelat tanpa softlens sangat menjadikannya terlihat begitu manis dan memukau.


Memiliki dua anak tak membuat kadar kecantikannya berkurang sedikit pun. Justru sangat cantik karena baru hari inilah ia mendapatkan hari impian yang benar-benar sempurna.


Kedua orangtua yang lengkap, agama yang tidak lagi menjadi penghalang, dan semua usaha mereka sudah begitu berkembang pesat dalam waktu yang singkat.


Bahkan kabar bahagia ini sudah menjadi trending topik di negara Indonesia, kala kasus yang menjerat dua pria pengusaha di hukum mati kini akhirnya keluarga yang menderita sekian tahun telah mendapatkan kebahagiaan yang berlipat-lipat baiknya.


Para tamu undangan  yang hanya beberapa saja sudah mulai memadati rumah megah yang baru itu. Tuan Wilson memang sengaja memakai rumah itu usai pernikahan, karena ia ingin membuat acara pernikahan sang anak sebagai pembuka kebahagiaan di rumah mereka yang baru ini.


Sedangkan ketiga pelayan di rumah itu juga baru pagi ini mulai tinggal di sana, setelah hari sebelumnya membersihkan rumah besar itu dan juga menyimpan barang-barang mereka.


Dari tangga satu persatu anak tangga terlihat di absen oleh langkah kaki jenjang itu. Heels yang begitu indah menemani setiap langkah sang pengantin wanita dari atas hingga kini ia berada di ujung anak tangga.


Semua mata pun tertuju padanya, Hanya Dava yang menatapnya tak begitu jelas, tentu saja hal itu karena matanya sudah berembun menatap wanita yang sebentar lagi akan menjadi miliknya seutuhnya.


Dalam hati ia bersumpah pada dirinya sendiri. "Aku berjanji ini adalah hari di mulainya kebahagiaan untuk kita. Dan tidak akan ada lagi perpisahan atau pun kesedihan di hatimu, Ibu dari anak-anakku."


Suasana di kediaman baru itu tampak riuh kala terdengar suara yang berseru kata, "Sah!!!"

__ADS_1


Semua mengucapkan kata syukur dan mulai berdoa.


Jarum jam menunjukkan angka sepuluh. Dimana acara pernikahan kini sudah selesai untuk sesi ijab qabul.


__ADS_2