
Setelah terlihat siapa dalang dari kerusuhan itu, dua pasang yang tengah saling menikmati vitamin yang mereka dapat pagi itu langsung terlonjak kaget dari duduknya.
"Putri," ucap Dava dan Ruth bersamaan.
Keduanya saling melempar pandangan gugup. Namun, di sebelah sana Putri justru tersenyum sembari menampakkan deretan giginya yang absurd itu.
"Paman, Mamah, kalian lebutan apaan cih? Kan Putri jadi penasalan." tuturnya tanpa rasa canggung.
Karena yang terlihat jelas di kedua matanya Dava dan Ruth saling mencicipi dengan indera perasa mereka masing-masing. Dan hidangan di depan mereka tentunya makanan lengkap. Tentu hal itu membuat rasa ingin tahu Putri membuat jiwanya meronta-ronta.
"Putri tebak ni...pasti kalian lasain makanannya baleng-baleng kan?" lanjutnya kemudian.
Namun Dava dan Ruth masih tak bergeming sedikit pun. Mereka serasa kehabisan akal ingin berbohong apa kali ini.
"Mah, Paman, kok diem sih. Kata Mbok Nan tadi..." Bocah itu menunjuk ke arah belakangnya kemudian menoleh ke belakang.
Ruth dan juga Dava mengikuti arah yang di tunjuk sang anak. Tidak ada siapa-siapa di sana.
"Mbok Nan? Putri sama Mbok Nan tadi?" Ruth akhirnya bersuara sertelah lama bungkam.
Putri menganggukkan kepalanya. "Ehehehe iya Non. Mbok di sini." Mbok Nan muncul dengan wajah yang tertawa kaku setelah berhasil menyembunyikan diri di balik tembok.
"Maaf Non...tadi mbok tidak tahu kalau itu..."
__ADS_1
"Yasudah. Jangan di permasalahkan lagi. Putri, ayo kemari." Dava yang menengahi dengan meminta untuk mengalihkan pembahasan membuat sang istri bisa menghela napasnya kasar.
Rasanya sungguh memalukan, sang anak dan asisten rumah tangganya menyaksikan live streaming mereka secara detail.
"Ini semua gara-gara kamu." Begitulah tatapan tajam sang istri yang ia lemparkan pada sang suami.
Dava hanya mengusap punggung tangan sang istri yang ia letakkan di atas meja.
"Ayo, Mbok. Kita sarapan bersama." Dava memanggil Putri dan juga Mbok Nan untuk ikut bergabung seperti biasanya di meja makan dengan mereka.
Setelah berhasil mengumpulkan semuanya di meja makan, kini mereka berempat tampak memulai sarapan pagi itu dengan suasana yang sangat tenang.
***
"Ayo persiapkan dirimu." Genggaman tangan yang begitu hangat terasa memberikan kekuatan tersendiri untuk tubuh yang sudah dingin membeku itu.
Ruth menganggukkan kepala dan mengikuti langkah sang suami menuju ke ruangan persidangan yang akan mereka tuju.
"Dasar wanita licik!" Teriakan dari arah belakang membuat Ruth dan Dava menoleh secepat kilat.
"Puas kamu?" Dina. Wanita yang berteriak barusana adalah Dina.
Beberapa waktu lalu, Ruth masih melihat wanita ini bertubuh seksi dan berpenampilan bak seorang gadis. Namun, tidak dengan saat ini. Wajahnya tampak lesu dan lebih pucat. Tubuhnya tidak terurus seperti biasanya.
__ADS_1
"Apa yang harus aku lakukan? Ini semua hukuman untuk mereka bukan? Tidak seharusnya kau membela ayahmu, Dina." Ruth berucap dengan suara tegasnya. Ia tidak akan takut saat ini, karena jelas di sampingnya akan selalu ada Dava yang melindunginya.
"Dasar beraninya kau!"
"Berhenti! Berhenti menyakiti istriku." Dava menahan tangan yang hendak melayang pada pipi istrinya.
Matanya membulat penuh peringatan. Dava menoleh memastikan istrinya masih kuat dan baik-baik saja. Karena jelas di dalam akan banyak hal yang akan membuat istrinya drop.
"Ayo, Sayang. Kita masuk." Dava menggenggam kuat tangan sang istri.
Ruth pun menurut. Keduanya meninggalkan Dina yang bersama dengan dua istri dari pria yang mendekam di dalam tahanan.
"Dina, kamu tidak bisa berbuat seperti itu. Dia justru korban yang sesungguhnya. Bukan ayahmu." tutur Wuri memperingati sang anak.
"Terus! Terus saja Ibu membela wanita itu. Apa justru selama ini yang menginginkan kebahagiaan untukku dan masa depan hanya Ayah saja? Ibu justru lebih mendukung wanita itu untuk Sendi kan? Iya kan Bu? Lihat perutku, Bu. Anakmu hamil, dimana pria itu? Ini semua gara-gara wanita si*lan itu." Dina tak henti-hentinya memaki sang ibu di depan umum.
Di sana begitu banyak wartawan yang mengambil berita dari kejauhan. Semua karena usaha Dava yang tidak menginginkan berita ini harus mendesak keluarga korban maupun pelaku. Ia tidak ingin wartawan sampai banyak menanyakan hal yang bisa membuat sang istri kembali tertekan.
Di depan ruangan, kini Ruth terhenti langkahnya bersama sang suami saat berhadapan dengan seorang pria yang juga hendak masuk ke dalam ruangan tersebut.
"Kak Berson..." lirihnya saat manik mata itu melihat siapa yang hendak masuk bersamanya keruangan sidang.
Sendi mengalihkan pandangannya yang sempat menatap dalam wanita di sampingnya. Ia memilih menatap ke depan kembali dan melanjutkan langkahnya masuk. Meninggalkan Ruth yang tercengang mematung menatap kepergiannya.
__ADS_1
"Maafkan aku, Ruth. Aku tidak bisa menahan diri jiika harus melihatmu. Aku sangat mencintaimu sampai kapan pun. Hatiku tidak akan mampu untuk menolakmu terus menerus seperti ini, Ruth." Sendi hanya berucap dalam hati dan fokus pada pandangan di depannya saat ini.