Perjuangan Cinta Nona Ruth

Perjuangan Cinta Nona Ruth
Chapter 109. Pemandangan Teduh


__ADS_3

Tin Tin!!


Suara klakson mobil membuat Mbok Nan segera keluar dari kamar Putri dan membukakan pintu.


"Loh Tuan Dava, Tuan Sendi, Non Ruth." Mbok Nan tampak terkejut dan segera berlari kecil melangkah mendekati mobil yang sudah terbuka di depannya.


"Mbok, tolong bantu sendalnya." Dava meminta bantuan wanita tua itu untuk mengambil sendal sang istri yang terjatuh di tanah.


"Ba-baik Tuan Dava." Mbok Nan hanya menatap kepergian Ruth yang sudah di bopong oleh sang suami.


Kini Sendi terdiam mematung di samping pintu mobil. Matanya tak lepas memandang kepergian suami istri yang sangat membuat iri mata siapa pun yang melihatnya.


"Yang sabar Tuan Sendi. Kelak semuanya akan anda dapatkan juga kebahagiaan seperti mereka." Mbok Nan pergi setelah mengatakan rasa prihatin pada Sendi dan mengusap punggungnya.


Sendi terdiam melihat kepergian Mbok Nan juga.


"Istirahatlah. Jangan banyak bergerak dulu. Okey?" Di sini Dava sudah membaringkan sang istri.


"Mamah!" Seru Putri yang menyelonong masuk ke dalam kamar sang Mamah saat mendengar suara pintu kamar itu terbuka.


"Sayang," Ruth tersenyum dan memeluk tubuh mungil sang anak.


"Bagaimana sekolahmu? Hem?" tanyanya melihat wajah Putri yang perlahan sudah tampak mulai kurus.


"Baik, Mah." jawab Putri mengerucutkan bibirnya dengan wajah menunduk.


"Ada apa, Sayang? Apa ada yang mengganggu anak Mamah ini?" Ruth menangkup wajah Putri dengan tatapan penuh perhatian.

__ADS_1


Ia sadar begitu banyak hal yang membuatnya harus menyia-nyiakan waktu bersama sang anak.


"Mah,"


"Iya, Sayang. Katakan." tutur Ruth penuh kelembutan.


"Mamah bental lagi punya dedek. Apa Putli tetap jadi anak Mamah?" tanyanya yang sontak membuat semua yang ada di kamar tersebut sangat tidak menyangka.


Ruth menggelengkan kepala mendengar pertanyaan dari sang anak. Hatinya sakit, ia sadar selama ini masih begitu banyak kekurangannya dalam memberikan kasih sayang pada Putri. Terlebih saat ia mengurus perusahaan sang ayah.


"Sayang, maafkan Mamah." Ruth membawa kepala Putri ke dalam pelukannya kembali.


"Maafkan Mamah, Putri. Mamah salah selama ini. Mamah begitu kurang perhatian denganmu, Sayang." Mbok Nan dan juga Dava saling melempar tatapan.


Mereka khawatir jika Ruth terbebani dengan ucapan sang anak, tentu keadaannya akan kembali lemah. Itu sangat tidak baik di masa kehamilan awal tentunya.


Dava yang mendengar hal itu tentu saja tidak bisa terima. Ia langsung mendekat pada dua wanita di depannya dan ikut bergabung memeluknya.


Cup!


Di kecupnya pucuk kepala Putri. "Tidak akan. Tidak akan, Sayang. Mamah dan Ayah sangat sayang sama Putri. Sekali pun ada adek nanti, kita akan sama-sama sayang adek. Putri di sayang Mamah dan Ayah. Adek di sayang Putri, Mamah, dan Ayah."


"Masya Allah..." Mbok Nan terharu melihat pemandangan hangat di depannya kini.


Ia menggelengkan kepala takjub melihat sikap baik Dava dan segera melangkah pergi meninggalkan kamar tersebut.


"Permisi, Tuan." Mbok Nan melihat Sendi saat ia ingin keluar dari kamar itu. Sendi hanya berdiri mematung di pinggir pintu tanpa berniat untuk masuk.

__ADS_1


Dengan langkah cepat, Mbok Nan menuju ke ruang makan untuk menyiapkan makan siang. "Ya Allah ya gusti...dosa apa keluarga Nicolas sampai ada cinta sedarah seperti ini? Semoga Tuan Sendi segera mendapatkan jodohnya yang baik dunia maupun akhirat kelak."


Selesai menyiapkan beberapa menu makan siang, kini akhirnya Mbok Nan bisa bernapas lega.


"Huhh...akhirnya selesai juga." Ia menggerakkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri dengan posisi di putar.


Krek! Krek! Suara pinggangnya terdengar begitu gurih saat tulang-tulangnya ia regangkan.


Sedangkan di kamar, Dava bersama dua wanitanya tengah berbaring saling berpelukan. Posisi Dava berada di tengah mereka.


Ketiganya terlelap dengan nyaman, sementara di kamar yang berbeda Sendi tampak gelisah.


"Argh!! Kenapa mataku sulit sekali untuk tidur? Ke kantor pun tidak ada gunanya jika pikiranku kacau seperti ini." umpatnya dengan sangat kesal usai mengguling-gulingkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri.


"Tunggu..." Ia menatap penasaran pada langit kamar yang tampak bernuansa putih itu.


"Dava terlihat seperti menyembunyikan sesuatu. Yah, aku tidak akan salah kali ini. Aku sangat yakin hal itu." Ia bergegas bangun dari tempat tidur dan ke kamar mandi untuk membersihkan wajahnya agar kembali segar.


Lebih tepatnya, Sendi memutuskan untuk mandi di siang hari. Ia sangat gerah setelah setengah hari berkutat dengan kerjaan di kantor sang ayah.


Tok Tok Tok


"Non Ruth, Tuan Dava! Makan siang sudah siap." Mbok Nan berteriak lembut di depan pintu kamar yang tidak tertutup itu.


Dinginnya suhu kamar Ruth membuat bulu tubuhnya berdiri dengan serentak. Namun, Mbok Nan tersenyum kala melihat pemandangan teduh di atas tempat tidur yang memperlihatkan tiga orang saling berpelukan.


"Bahagia selalu, Non. Mbok Nan juga ikut bahagia lihatnya." gumam Mbok Nan menggelengkan kepala senang di depan pintu hingga tanpa sadar ia memeluk pintu yang menjadi sandarannya kini.

__ADS_1


"Mbok," sapa Dava yang sudah terbangun dari posisi berbaringnya.


__ADS_2