
Detik demi detik jam terus berputar, namun entah mengapa rasanya sangat sulit untuk memejamkan mata di kala malam sudah menyapa dengan gelapnya langit yang bersinar di bantu oleh bintang-bintang dan juga rembulan.
Di sudut kamar seorang wanita memeluk tubuhnya sendiri sembari menghadap pada jendela kamar yang langsung memperlihatkan keindahan malam itu.
"Siapa aku baginya? kau hanya wanita mandul, Dina. Sama sekali tidak akan pantas di cintai. Apa kau lupa dengan masa lalu yang sudah kau perbuat?" Dina tersenyum pahit kala menyadari akan banyaknya kekurangan dalam dirinya yang memang sama sekali tidak pantas mendapatkan cinta sang suami pastinya.
Perkumpulan di meja makan tadi membuat suasana sangat buruk. Sendi yang keluar di depan rumah sampai malam selarut ini pun masih belum memberikan tanda-tanda ingin masuk ke dalam kamar.
Dengan berat hati, Dina menutup gorden jendela kamar dan melangkah lunglai menuju kasur. Ia merebahkan tubuhnya dengan posisi terlentang. Rasa kantuk yang membuatnya ingin tidur namun ada perasaan yang mengganjal dalam dadanya.
Sungguh ini perasaan yang sangat tidak enak. Ia bahkan tak bisa memejamkan matanya kala memperhatikan langit-langit kamar yang tampak kosong dengan warna putih polos itu.
Sementara di luar rumah, kini Sendi memaksakan diri untuk bermain dengan game di ponselnya. Mungkin dengan begini pikirannya bisa kembali membaik dan segera beristirahat tenang.
Kreeeek! Tiba-tiba saja terdengar decitan pintu pelan di belakangnya. Ia menoleh dan segera menghentikan permainan game online tersebut.
Wuri lah sosok yang muncul di ambang pintu rumah itu. Ia tersenyum saat Sendi menatap ke arahnya.
"Boleh Ibu duduk di situ?" ucapnya menunjuk kursi yang satu lagi.
__ADS_1
Dengan pelan Sendi mengangguk pasrah.
Wuri tersenyum melihat layar ponsel sang anak yang memperlihatkan game puzzle itu.
"Hidup itu bagaikan kepingan puzzle...seperti kita ini. Manusia sangat persis dengan kepingan puzzle. Agar kita terlihat bahagia, kita membutuhkan kepingan puzzle lainnya." Wuri berucap dengan puitis tanpa menatap wajah sang anak.
"Tetapi...tidak semua kepingan puzzle manusia bisa di tempatkan pada kepingan puzzle kita, Tuhan sudah mempersiapkan kepingan puzzle mana yang cocok untuk kita, Sendi. Terkadang kepingan yang terlihat tak berbentuk, justru akan sangat indah kala di tata dengan puzzle yang kita miliki. Jadi, semua yang terjadi ini hanyalah sebuah proses untuk mencapa keindahan yang akan abadi kelak."
"Boleh. Sangat boleh kita bersedih, frustasi saat tidak menemukan bentuk indah itu, tetapi tetap berusaha untuk menjalani dengan ikhlas. Semua butuh proses yang panjang tentunya. Ibu yakin, kelak kebahagiaan akan datang padamu dan Dina. Bersabarlah dan cobalah melepaskan semua angan-anganmu tentangnya." Sendi terdiam terus mendengarkan pekataan sang Ibu.
Bukan keinginannya untuk menyebut Ruth tentunya. Tapi entah mengapa nama itu selalu hadir dalam bayangannya setiap saat. Dina yang selalu menghabiskan malam dengannya tanpa bersentuhan pun sama sekali tak pernah menjadi topik pemikirannya.
Bukan kata maaf yang ia harapkan, tetapi usaha yang gigih untuk bangkit dari keterpurukan itu.
"Pergilah ke kamar. temui dia, Nak. Istrimu, yang kau sendiri berjanji ingin beusaha hidup dengannya." pintah Wuri sembari memegang punggung tangan sang anak.
Sendi menatapnya kembali, ia seolah ragu menemui Dina di kamar. Jika mereka bertemu, apa yang akan ia katakan nantinya?
Sekali lagi Wuri memerintahkannya dengan anggukan kepala.
__ADS_1
"Baiklah, Bu. Sendi masuk dulu." Ia berdiri dari duduknya meski rasanya tubuh itu sangat berat untuk ia gerakkan.
***
"Dav, ayolah. Aku ingin di peluk." Ruth meminta sang suami memeluknya saat mereka sedang berada di atas tempat tidur dengan balutan selimut tebalnya.
Tak biasanya sang suami memunggunginya saat berbaring. Selama ini Ruth selalu tidur di atas dada sang suami tak lupa pelukan hangat yang ia rasakan.
Tetapi, apa yang terjadi malam ini? Bahkan Dava sama sekali tidak ingin dekat dengannya. Ada spasi yang menjadi jarak di antara mereka.
"Sayang, istirahatlah. Sudah sangat malam. Aku kepanasan, nanti aku akan memelukmu, Ruth. Ayo tidurlah." pintah Dava berucap tanpa mendekatkan tubunya pada sang istri.
Ruth yang mendengar penuturan sang suami hanya diam, ia menatap dua bola mata hitam yang ada di depannya saat ini. Perlahan ia menggeleng pelan dengan manik mata cokelat yang mulai berkaca-kaca.
"Dav..." lirihnya menahan perasaan sesak di dadanya.
"Tolong, Ruth." Ia menatap wajah sang istri dengan penuh permohonan.
"Baiklah," Dava tersenyum pada akhirnya ia mendekati sang istri memeluk dan mencium keningnya. Ada gurat kesedihan yang berusaha ia tahan saat ini.
__ADS_1
Sungguh sulit untuk menjauhi wanita yang begitu ia cintai, bahkan setiap kesedihan yang Ruth perlihatkan ia sama sekali tidak sanggup untuk meneruskan semua rencananya.