
Keheningan di dalam kediaman Nicolas sore ini mendadak menjadi riuh kala seorang wanita berteriak histeris.
"Shandy! Berson! Dina!" teriakan yang sangat memekakkan telinga siapa pun yang mendengarnya.
"Astagafirullah, Tarisya." Tuan Wilson yang keadaannya masih tengah terlelap pun seketika membulatkan matanya.
Di tatapnya jam di dinding kamar, waktu sudah menunjuk pukul empat sore. Tanpa terasa karena perut yang kekenyangan membuatnya begitu menikmati tidur siangnya hingga matahari sudah mulai meredup ia baru terbangun.
"Ada apa sih ribut-ribut?" tanyanya pada diri sendiri di dalam kamar. Keadaannya yang masih belum bisa bergerak membuatnya tak bisa keluar dari kamar untuk mencari tahu apa yang terjadi di luar sana.
"Bunda, apa yang terjadi?" Sendi lebih dulu menghampiri sang bunda.
"Jeff. Dia pergi kemana? Mengapa tas koper miliknya tidak ada?" Tarisya sangat panik saat ia terbangun sore hari setelah memimpikan anak pertamanya sangat buruk.
Air mata wanita tua itu seketika jatuh begitu saja bahkan tubuhnya sudah bergetar ketakutan.
"Berson, kemana kakakmu pergi? Bunda sangat takut. Tadi Bunda bermimpi dia ingin meninggalkan kita semua. Bunda sudah melarangnya tapi dia tetap pergi di mimpi itu." ia menangis terisak dan Sendi segera memeluk tubuh sang bunda.
Matanya masih menatap ke seluruh kamar sang kakak.
"Mungkin Jeff tidak pergi, Bunda. Semua barangnya masih ada di kamar ini." tutur Sendi berusaha menenangkan sang bunda.
"Tidak. Itu tidak benar. Dia pergi, Berson. Bunda ingat koper yang selalu ada di atas lemari itu. Dia membawa barang-barang pentingnya, Berson. Jeff meninggalkan kita semua..." air mata tak henti-hentinya berjatuhan.
Bahkan Dina dan Ruth yang baru saja datang merasa terkejut mendengar percakapan Sendi dan sang bunda.
"Dava pergi?" suara lirih Ruth terdengar sangat menyedihkan.
Ia terdiam di depan pintu kamar sang mantan suami. Mata merahnya yang baru saja menangis di dalam kamar pun kembali banjir di kedua pipinya.
Sungguh tidak di sangka jika perlakuan Dava beberapa jam yang lalu adalah tanda perpisahan untuk mereka berdua.
Dina yang menyadari Ruth sangat lemah segera menopang tubuh wanita hamil itu. "Ruth, kuat. Dia belum tentu pergi."
Ia yakin jika Dava benar pergi seperti yang di katakan sang bunda. "Dia benar pergi." jawab Ruth menatap nanar ke depan.
"Itu sebabnya Dava memelukku dan mengucapkan kata-kata yang sangat manis untuk calon anak kita. Dia memberikan pesan yang baik pada bayi ini sebelum lahir. Dia benar-benar telah pergi." Tangisan histeris pun terdengar dari sosok sang bunda.
__ADS_1
Hatinya begitu sakit saat mendengar kabar tentang putra pertamanya. Dava adalah anak yang pertama kali bertemu dengannya usai masalah penyekapan itu terbongkar dan mengurusnya bersama sang suami hingga semuanya benar-benar membaik.
Bagaimana mungkin ia tega meninggalkan keluarga yang sangat mencintainya?
"Kemana kau pergi, Nak? Mengapa kau tega meninggalkan kami?" Sendi terdiam hanya mampu mengusap punggung sang bunda tanpa kata.
Begitu pun Dina yang berusaha menenangkan Ruth yang hanya meneteskan air mata tanpa mengatakan apa pun lagi.
Mbok Nan dan juga Putri yang mendengar semuanya dari luar kamar hanya saling berpelukan. Putri memeluk kedua paha wanita tua itu, sedangkan Mbok Nan memeluk kedua tangan mungil Putri yang ada di bawah. Semuanya hanya menangis tanpa ada perbincangan lagi yang terdengar.
"Aku tidak akan marah padamu, Dav. Sampai kapan pun kau adalah pria yang tetap aku cintai. Cinta ini tidak akan berpindah pada siapa pun. Berbahagialah di mana pun kau berada. Doakan persalinanku kuat meski kau tidak ada di sampingku. Aku mencintaimu, Dav." Ruth akhirnya melepaskan pelukannya pada Dina dan memilih memutar tubuhnya untuk meninggalkan kamar yang masih menyisahkan aroma khas wangi pria yang ia cintai itu.
Sendi menatap tak berdaya kepergian Ruth yang semakin menjauh perlahan. Sangat perlahan, Ruth melangkah karena seluruh tenaganya terasa hilang seiring kepergian Dava dari hidupnya.
Sendi yang merasa tidak yakin, segera membantu sang bunda untuk duduk lagi menghubungi nomor ponsel Dava.
"Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan..." begitulah suara wanita yang terdengar dari operator itu.
Sekali dan sekali lagi Sendi mencoba namun hasilnya nihil. Nomor ponsel Dava sudah tidak bisa lagi di hubungi.
"Mengapa kau pergi dengan cara seperti ini, Dav? Kau benar-benar seperti memukul hati Ayah dan Bunda." maki Sendi merasakan marah yang luar biasa.
"Kita kuat yah, Sayang. Kita pasti kuat tetap berjuang bersama. Mamah akan memperjuangkan semuanya demi kamu, Nak." Ruth terus melangkah sedih menuju kamarnya tanpa bersuara.
Bibirnya terus terbungkam menahan getaran yang ingin berteriak histeris saat itu juga.
Kini ia hanya sendirian, kelahiran sang buah hati hanya tinggal menghitung hari saja. Namun, cobaan yang silih berganti masih belum usai menerpa dirinya.
Melihat sosok dua wanita berbeda generasi yang saling memeluk, Ruth seketika tersenyum dan menghapus air matanya.
Putri dan Mbok Nan saling menatap bingung.
"Sayang, ayo mandi. Sudah sore." sapa Ruth melambaikan tangan memanggil Putri yang masih melingkarkan kedua tangan kecilnya pada paha Mbok Nan.
Ia menengadah menatap Mbok Nan di atas sana. "Pergilah." begitu bahasa isyarat yang Mbok Nan berikan melalui anggukan kepalanya.
Putri melepaskan pelukan tangannya dan mencapai tangan sang mamah. Ia menatap dalam wajah Ruth yang tersenyum lebar.
__ADS_1
"Putri mau kan temani Mamah jalan-jalan di taman dekat sini?" tanyanya dengan lembut.
"Iya, Mah." sahut Putri yang tidak berani berucap banyak karena mengetahui kehancuran hati sang mamah.
"Ayah kenapa sih jahat banget tinggalkan Mamah? Nggak papa deh kalau Ayah mau tinggalkan Putri, tapi jangan tinggalin Mamah dan dedek bayi, Ayah? Putri tidak tega lihat Mamah sakit seperti ini. Ayah kenapa tinggalin kita semua? Apa gara-gara Putri nakal? Ayah...pulang yah. Putri mohon banget. Putri janji nggak akan buat ayah pusing lagi mikirin Putri yang nakal ini. Please..." selama bergandengan tangan bersama Ruth, Putri tak berbicara apa pun selain ungkapan dalam hatinya yang ingin ia sampaikan pada Dava yang entah pergi kemana.
Kesedihan yang melanda di kediaman Nicolas akhirnya terdengar sampai ke telinga Tuan Wilson. Ia yang baring di tempat tidur hanya bisa berdiam diri. Tak ada ucapan yang bisa ia keluarkan lagi saat ini.
Kepalanya terasa ingin pecah melihat betapa rumitnya masalah yang terjadi pada keluarganya.
***
"Huh akhirnya kita sampai rumah juga yah, Sar." Wuri bernapas lega setelah seharian ia berjalan dengan sahabatnya itu dan kini keduanya baru saja tiba di rumah sederhana mereka.
"Hehehe...iya. Syukurlah. Anjani kamu hati-hati yah, Nak?" tuturnya pada gadis kecil yang duduk di kursi kemudi mobil miliknya.
Yah, mereka bertiga baru pulang dari nongkrong di kafe beberapa jam lamanya hanya untuk mendengarkan curahan hati gadis kecil itu.
"Iya, Bu. Tante. Terimakasih yah, kalian mau temani Anjani seharian ini. Rasanya lega banget sudah cerita semuanya." ia menghirup udara dengan dalam lalu menghela napasnya kasar.
Sarah dan Wuri beranjak keluar dari mobil itu setelah saling bersalam perpisahan dengan Anjani Syif.
Tring Tring Tring
Dering ponsel tiba-tiba mengejutkan Sarah saat itu juga.
"Sendi?" tanyanya menatap layar ponsel miliknya.
"Ada apa yah? Cepat angkat. Siapa tahu penting." titah Wuri yang begitu antusias saat mendengar nama sang anak.
Sarah mengangkat panggilan itu dan betapa terkejutnya ia kala mendengar penuturan Sendi di seberang telepon.
"Dava tidak ada di sini, Sen."
"Apa Tante yakin? Jika dia tidak ada di sana berarti Dava benar-benar pergi. Di rumah, kami tidak melihat koper miliknya, dan Bunda sangat yakin jika Dava sudah pergi jauh." tutur Sendi yang membuat Sarah terasa seperti tersambar perti di sore hari itu.
"Tidak. itu tidak mungkin. Dava tidak mungkin pergi. Apa kalian sudah mengecek di perusahaan?" tanya Sarah merasa tidak percaya jika Dava bisa memikirkan untuk pergi dari rumah.
__ADS_1
Anaknya adalah pria yang tegar dan bijaksana, bukan anak kecil seperti Anjani yang harus mendapatkan nasihat dari orang-orang tua sepertinya.