
Ruth mengikuti langkah kaki wanita tua renta yang sudah berhasil membujuknya untuk tetap makan bersama mereka.
Meski rasanya begitu tidak bernapsu, Ruth akhirnya mau makan demi anak yang ia kandung saat ini. Meski cintanya tidak bisa bersatu, setidaknya ada buah cinta mereka yang akan menjadi semangat hidupnya lagi kedepannya.
Berkali-kali ia mengaduk-aduk makanan di piring dan akhirnya Mbok Nan tak bisa melihatnya begitu saja. Setelah apa yang sudah di ceritakan Ruth padanya di kamar, tentu saja ia sangat paham sakitnya sang majikannya saat ini.
Di antara mereka berdua ada sosok bocah yang hanya menikmati makannya dengan hening. Ia akan menjadi pendengar setia malam ini untuk sang mamah dan juga Mbok Nan.
"Kacian Mamah...Ya Alloh, segeralah kau berikan kebahagiaan kembali untuk Mamah. Putli nggak tega liat Mamah sedih telus begini." Ia memejamkan mata sejenak untuk berdoa dalam hati, meski tangan terus bergerak mendorong makanan ke mulut mungilnya itu.
Malam yang benar-benar sunyi di rumah itu. Tidak ada Sendi, dan Dava pun juga belum pulang sampai saat ini.
Sedangkan di rumah yang berbeda, Sendi tampak gelisah di tempat tidur. Matanya sedari tadi terus ia usap demi menghilangkan kegelisahan, bahkan ada yang kurang di rumahnya pun ia tidak tahu akan hal itu.
"Astaga...aku benar-benar tidak tega meninggalkanmu saat seperti ini, Ruth. Apakah kau kuat melewati malam ini sendirian di sana?" tanya Sendi pada dirinya sendiri.
Andai saja Ruth tidak memintanya kembali pulang, mungkin Sendi akan menetap di rumah sang adik malam ini. Sebelum ada kejadian seperti ini, bahkan ia yang terus menerus menghindari sang adik, sekalipun Ruth memintanya pulang.
Namun khusus malam ini, justru semuanya berbanding terbalik. Ruth tidak ingin Sendi berada di sisinya sekalipun Sendi memohon untuk menjaganya dan menemaninya.
Tok Tok Tok
Suara ketukan pintu di kamarnya membuyarkan lamunan Sendi saat itu juga. Ia menoleh ke arah pintu dan melihat pintu kamarnya terbuka dengan pelan. Tak lama kemudian muncullah sosok perempuan yang begitu tersenyum hangat.
"Sendi, dimana Dina?" tanya Wuri yang tidak melihat keberadaan sang anak wanitanya di kamar bahkan di sekitaran rumah juga.
__ADS_1
Seketika itu juga Sendi langsung terperanjat dari duduknya di kasur. "Dina? Apa dia belum pulang, Bu?" tanyanya dengan wajah kaget.
Masalah Ruth yang membuat pikirannya bercabang-cabang bahkan menjadikannya sebagai suami acuh pada sang istri.
"Kemana dia, Bu? ini sudah malam." Ia melihat jam di tangannya yang menunjuk pada angka delapan malam lewat lima belas menit.
"Ibu juga tidak tahu, tadi sore dia hanya pamit dengan Ibu di telpon katanya mau jenguk ibu mertua. Itu ibumu kan, Nak?" tanyanya dengan perasaan tidak enak.
Pasalnya selama ini dia adalah satu-satunya ibu dari seorang Sendi Sandoyo. Namun saat ini posisi itu sudah tergantikan dengan sosok ibu yang sebenarnya.
Sendi mengangguk dengan wajah datarnya. Pikirannya masih berkelana memikirkan dimana sang istri saat ini mengapa mereka tidak bertemu jika benar Dina pergi menemui ibunya di rumah sakit.
Mata Sendi bertambah terang saat mengingat satu waktu yang terlewatkan. "Astaga...atau mungkin dia mencariku di kamar Ibu dan tidak menemukanku sampai saat ini?" batin Sendi menebak.
"Aku-" ucapannya seketika terputus saat baru saja langkah itu sampai di depan pintu rumah mereka.
Matanya membulat melihat sosok wanita yang baru saja masuk ke halaman rumah dan berdiri mematung di depan mereka berdua.
"Dina?" ucap Wuri begitu terkejut.
"Dina, apa yang terjadi? Tubuhmu basah semua?" Sendi mendekat dan memegangi lengan sang istri yang menggigil kedinginan.
Matanya memerah bibirnya pun tampak pucat dan tak ada bagian tubuh yang terlewatkan dari guyuran air hujan saat ini.
"Lepaskan tanganmu, Sen." pintah Dina dengan ketus.
__ADS_1
Ia memberontak dari pegangan kedua tangan sang suami. Hatinya sudah benar-benar kesal melihat wajah Sendi. Selama di perjalanan berkali-kali tubuhnya yang basah tersiram oleh lemparan air dari kendaraan yang melintas. Namun sedikit pun ia tak perduli dengan hal itu.
Ia menerobos sesegera mungkin melewati sang ibu dan Sendi yang masih mematung di depannya.
"Ada apa ini, Sendi?" Wuri menatap penuh selidik pada anak laki-lakinya.
Kehidupan putrinya tidaklah jauh-jauh dari perilaku anak laki-laki di depannya ini.
"Maaf, Bu. Nanti kita bicarakan. Sendi harus menemui Dina di kamar dulu." ia pun pergi meninggalkan sang ibu di luar.
Suasana kacau tampak terjadi di kamar itu, aksi saling mengejar dan saling diam terjadi di antara Dina dan Sendi. Dina yang terus diam membisu dan menghindari jarak dari sang suami. Sedangkan Sendi terus berusaha mencari alasan mengapa sang istri bersikap seperti itu padanya.
Tanpa ada yang tahu di sini, Dava sudah menyandarakan kepalanya pada dinding rumah sakit.
Ia tetap bersikeras untuk tidak tidur di kamar rawat sang ibu. Hatinya benar-benar tak kuasa menahan segala rasa sakit untuk tetap terlihat baik-baik saja.
Usai memastikan keadaan sang ayah baik-baik saja di rumah bersama salah satu bodyguard yang sering bekerja dengannya, kini Dava bisa lebih tenang berada di rumah sakit menjaga sang bunda.
"Apa kau baik-baik saja, Sayang? Maafkan aku malam ini kita tidak bisa bersama lagi menikmati dinginnya malam hari. Semoga dengan seperti ini kita akan mulai terbiasa untuk menerima keadaan menyakitkan ini, Ruth." Dava menarik nafasnya dalam lalu menengadahkan kepalanya.
"Oh...adikku. Hati ini benar-benar masih menginginkan hadirmu. Hati ini terasa begitu beku saat jauh darimu. Hangat mu yang selalu menyelimutiku di kala dingin malam menerpa tubuh ini."
Malam yang sangat memilukan bagi dua insan yang baru saja terpisah. Andai mata bisa dengan tenang terpejam tanpa tahu bagaimana sakitnya hati, mungkin saat ini mereka berdua tetap bisa memejamkan mata dengan tenang.
Namun kejamnya takdir yang sudah membuat mata dan hati selalu saling tersambung.
__ADS_1