
Terlihat tangan yang sudah berkerut itu pelan-pelan menyeka wajah yang penuh lebam di sana sini. Sesekali terdengar suara rintihan yang merasakan sakit saat lebam itu tersentuh kain.
"Ah..." Dava menahan tangan sang bunda dengan ekspresi kesakitannya.
"Sedikit lagi, Jeff." sahut Tarisya begitu perhatian.
Seketika Tarisya mengingat kepergian anak perempuannya dengan wajah yang begitu sedih. Sesuatu pasti telah terjadi pada mereka berdua, pikirnya.
"Apa kau masih mencintainya?" pertanyaan sang bunda sontak membuat Dava menatap wajah tua di depannya.
Dengan ragu-ragu ia pun menganggukkan kepalanya pelan lalu berkata dengan suara penuh penyesalan. "Maafkan saya, Bunda." ia mengalihkan matanya dari sang bunda.
Rasa bersalah tentu saja ia rasakan saat ini. Bagaimana mungkin seorang kakak tertua yang seharusnya membimbing sang adik justru membawanya ke dalam perasaan yang salah itu.
Tarisya menghela napas, "Huh..." kemudian ia menundukkan kepala menarik nafas perlahan lagi lalu kembali menghembuskannya.
Terasa ada batu besar yang mengganjal dalam dadanya saat ini.
"Bunda tidak menyalahkan siapa pun. Kalian berhak memilikinya," mata hitam milik Dava membulat sempurna. Ia masih mencerna apa maksud dari perkataan sang bunda.
"Yah...kalian berhak saling mencintai. Maafkan kami, Nak..." Tarisya menunduk penuh sesal.
Ia mengingat apa yang sudah di jelaskan sang suami padanya malam tadi. Malam yang begitu terasa seperti mimpi baginya.
"Hah? Bunda, ini apa-apaan? kami adik kakak bukan? itu tidak mungkin, Bunda." Dava sangat terkejut mendengar penuturan sang bunda.
Dalam pikirannya saat ini apakah sang bunda telah mundur dalam prinsipnya untuk menuntun sang anak karena tidak tega melihat kesedihan para anak-anaknya.
"Yah, Jeff...Bunda yang salah. Ini semua salah Bunda." terlihat tetesan air mata yang terus berjatuhan di tangannya saat wajah wanita tua itu menunduk menatap tangan yang saling menggenggam di atas pangkuannya.
Tangan keriput yang menggenggam sebuah kain basah di sana terlihat bergetar hebat.
Flashback on
"Shandy adalah anak yang kita adopsi ketika Bunda mengalami depresi saat anak kita meninggal..."
"Sya, lihat aku. Kita telah kehilangan anak dua kali, dan kau pernah masuk ke rumah sakit jiwa, Sayang. Shandy adalah anak yang kedua kita angkat setelah Jeff."
Air mata jatuh mengucur dengan derasnya. Kepala wanita cantik yang sudah berumur itu tampak menggeleng tidak percaya.
"Tidak, Will. Kau berbohong padaku kan? Ayah, kau tidak sungguh-sungguh mengatakan ini kan?" ia merasa semua tidak benar. Shandy adalah anak kesayangannya yang terakhir dan satu-satunya perempuan.
Bagaimana mungkin ia kembali mengalami hal yang sama.
Dengan usaha keras, Tuan Wilson akhirnya berhasil mengungkap segala kebenarannya.
__ADS_1
"Dulu kau masuk rumah sakit jiwa karena perasaan bersalah yang begitu dalam. Mungkin kau lupa saat sempat melihat anak kita, Shandy di dalam ruang incubator? Dia bukanlah anak kandung kita, Sya. Kau yang stress akibat menjatuhkan anak kita hingga mengalami gumpalan darah di dalam otaknya."
Tarisya semakin menangis mendengar ucapan sang suami yang sudah mulai terlintas di dalam ingatannya.
Sekilas momen ketika ia menangis menatap ruangan kaca kecil yang berisikan bayi pun akhirnya kini terjawab sudah. Selama ini ia tidak pernah teringat hal itu semenjak keluarnya dari rumah sakit jiwa dan bahagia membesarkan ketiga anak-anaknya.
"Anak kita telah meninggal sehari setelah mendapatkan perawatan dari dokter. Karena kejadian itu kau tidak bisa berpikir normal lagi dan aku bersama Bi Nan memutuskan untuk kembali mencari anak seperti yang ku lakukan pada Jeff dahulu." ia tertunduk setelah mengatakan kebenaran semuanya.
Sakit di dalam hatinya akhirnya bisa terlepaskan juga, meski pada akhirnya kekecewaanlah yang di rasakan sang istri saat ini.
Tak ada suara lagi yang bisa di dengar di dalam kamar itu. Hanya isakan tangis dari seorang ibu yang benar-benar tak menyangka telah kehilangan anaknya dua sekaligus.
Flashback off
Sedangkan Dava yang baru saja mendengar pengakuan sang bunda hanya bisa tercengang dengan mata yang tak berkedip sekali pun.
Ia sungguh tak menyangka semuanya terjadi begitu di luar dugaannya.
"A-apa itu semuanya benar, Bunda?" Dava menggelengkan kepala.
Untuk yang kesekian kalinya ia mengetahui jika dirinya bukanlah anak dari wanita baik di depannya ini. Lagi dan lagi kekecewaan yang harus ia telan mendengar kehidupannya yang sudah tidak memiliki keluarga kandung lagi.
Ibunya meninggal saat melahirkan dirinya, ada rasa sedih yang teramat dalam ia dapatkan dari ucapan sang bunda. Tak ada harapan lagi ia bisa bertemu dengan keluarga kandungnya.
"Ini tidak mungkin, Bunda. Ini tidak benar. Ibuku adalah Bunda." Jelas rasanya sangat sakit, sejak pertama kali bertemu dengan Tarisya, Dava benar-benar merasakan kehadiran sosok ibu yang begitu membuatnya tenang dan damai.
Tarisya pun tak kalah rapuhnya saat mengatakan kebenaran ini semua. Ia langsung menangis histeris dan memeluk tubuh Dava. Rasa sayangnya pada sosok Dava sudah melekat erat dalam hatinya. Ia begitu mencintai semua anak-anaknya.
Tetapi takdir berkata lain, mereka hanyalah keluarga angkat tanpa ada hubungan darah. Hanya Sendi satu-satunya anak yang ia miliki dari ikatan darah sebenarnya.
"Maafkan kami, Nak. Maafkan kami. Tapi kalian tetaplah anak-anak Bunda, Jeff. Bunda sangat menyayangi kalian seperti anak kandung Bunda sendiri." Tarisya bahkan tak rela jika salah satu dari mereka akan meninggalkan dirinya dan sang suami.
Sekali pun mereka hanyalah anak angkat, tetapi di usianya yang senja kini ia hanya ingin di kelilingi oleh anak-anaknya. Semua waktu yang harusnya ia nikmati bersama keluarga telah terbuang sia-sia.
"Semua akan menjadi keputusan kalian, Jeff. Jika cinta itu masih begitu besar perbaikilah, Nak. Bunda tidak ingin kalian hidup saling menyakiti perasaan kalian berdua terus menerus." Tarisya mengusap air mata di kedua pipi sang anak.
Dava masih tak bisa bergeming sama sekali. Ia begitu syok mendengar kebenaran yang terjadi bertahun-tahun lamanya hingga ia tumbuh dewasa seperti ini.
"Semuanya tidak mungkin lagi, Bunda. Kami telah berbeda..." Di satu sisi Dava merasakan sedih teramat dalam karena kenyataannya ia tidaklah memiliki orangtua bahkan keluarga. Namun di sisi lainnya, ia begitu memiliki harapan untuk bisa kembali bersatu dengan sang istri meski perbedaan agama kembali menjadi halangan untuk mereka.
Di sudut taman tampak Ruth yang menahan suara tangisannya. Ia memeluk tubuhnya sendiri dengan air mata yang terus berjatuhan tanpa henti.
Seketika suara yang tertahan terdengar oleh Sendi yang baru saja ingin melangkah keluar menuju mobilnya, Ia harus ke kantor pagi ini untuk mewakili Dava bertemu salah satu klien penting.
"Ruth," ucap Dava pelan sembari mengernyitkan dahinya dalam.
__ADS_1
Ia melangkah dan mendekat ke arah sang adik.
"Hey? Apa yang terjadi?" tanyanya dengan memegang sebelah bahu sang adik.
Ia berusaha membalikkan tubuh wanita itu dan menghadap padanya dengan sempurna. Ruth menghamburkan tubuhnya segera ke dalam pelukan sang kakak.
Dengan ragu, Sendi mengangkat tangannya mengusap kepala berambut panjang itu. Ia pun ikut menyandarkan kepalanya pada kepala sang adik. Kesedihan yang Ruth rasakan adalah kesedihannya juga.
Cinta yang begitu besar masih tetap bersarang dalam hatinya pada wanita ini.
"Menangislah...aku akan tetap berada di sini, Ruth. Aku tidak ingin melihatmu kenapa-kenapa dan juga pada calon bayimu." ujarnya penuh dengan pengertian.
Isakan demi isakan terus terdengar di telinganya dengan rasa pilu yang teramat dalam. Tak ada yang bisa menghentikan kesedihan seseorang selain hanya bisa menjadi penenangnya saja. Itulah yang Sendi lakukan saat ini.
Meski tanpa sadar, ia menyembuhkan luka di dekatnya dan memberikan luka pada orang lain. Ia tak tahu jika ada sepasang mata yang sudah meneteskan air mata di kejauhan.
Buliran bening pun lolos tanpa permisi di kedua pipi Dina. Ia hanya terdiam mematung. Matanya terus menatap keadaan dimana sang suami berpelukan dengan begitu mesranya pada wanita yang masih menjadi posisi utama di hati sang suami. Tangannya yang membawakan sebuah benda pipih yaitu ponsel hanya di genggamnya dengan begitu erat.
Bahkan tangannya pun bergemetar memegang ponsel sang suami. Tadinya ia berjalan lebih jauh dari Sendi karena baru saja mengambilkan ponsel yang tertinggal di dalam kamar.
"Hiks hiks hiks..." tangannya begitu lemas melihat betapa hangatnya pelukan yang ia rindukan dari sang suami selama ini.
Nyatanya pelukan itu hanyalah untuk seorang wanita berbadan dua. Ia pun tak kuasa menahan sakit di hatinya, Dina menutup kedua matanya dengan berbalik badan. Tangisnya sangat sakit hingga ia memutuskan untuk kembali ke dalam kamarnya.
"Siapa aku ini bagimu, Sen? Aku istrimu, tetapi sekali pun kau tidak pernah memeluk ku selama ini..." menundukkan kepala dan berkali-kali mengusap air mata yang terus jatuh.
Pagi yang cerah nyatanya tak secerah hati tiga wanita cantik di kediaman Nicolas. Tarisya menangis mendengar semua kenyataan pahit tentang anak-anaknya. Ruth menangis karena tak kuasa menahan diri dari Dava, pria yang sangat ia rindukan kehangatannya namun ia sadar betapa berdosanya jika dirinya mengikuti hawa nafsunya. Sementara Dina menangis karena begitu sakit melihat sikap Sendi yang selalu mengutamakan Ruth di bandingkan memperdulikan dirinya yang statusnya jelas istri sah.
"Kau benar-benar tidak perduli denganku, Sendi...kurang sabar apa lagi aku selama ini?" Ia merutuki dirinya yang begitu ingin mempertahankan pernikahan yang sama sekali tidak ada kebahagiaan di dalamnya.
Tring Tring Tring
Tiba-tiba saja dering ponsel di dalam kamar itu membuat Dina tersentak kaget. Ia mengusap buru-buru air matanya dan menatap benda pipih yang terus bergetar di atas nakas.
Perlahan ia berjalan dan meraihnya. Tertulis nama pemanggil di dalam ponsel adalah 'Ibu'.
"Halo..." sapa Dina meski dengan suara sembab yang ia usahakan sebaik mungkin.
"Sayang, kau sudah bangun rupanya. Ibu ingin memberitahumu jika hari ini Ibu ingin berkunjung kesana, Dina." tutur Wuri dengan lemah lembut.
Di seberang sana ia yang awalnya tersenyum berubah menjadi cemas saat memperhatikan suara sang anak di dalam ponsel.
"Oh...iya Bu. Tidak apa-apa. Kemarilah saja, nanti kami akan menyiapkan makanan untuk Ibu." ucap Dina terdengar bersuara dengan hidung yang tersumbat.
"Kamu menangis, Dina?" tanya Wuri penasaran.
__ADS_1
"Tidak, Bu. Aku...aku sedang flu saja. Yasudah nanti Ibu beri kabar jika ingin kemari yah? Dina segera membantu Sendi untuk ke kantor dulu." Demi menghindari pertanyaan lebih lanjut dari sang ibu, akhirnya Dina memilih buru-buru untuk mengakhiri panggilan itu.