Perjuangan Cinta Nona Ruth

Perjuangan Cinta Nona Ruth
Chapter 209. Keheningan Di Ruang Rawat


__ADS_3

Tatapan nanar terus tertuju pada pintu ruang bersalin yang sudah tertutup, sementara tubuh bagian bawahnya masih mendapatkan penanganan dari tim medis.


Rasa sakit pasca persalinan terasa mati rasa baginya, hatinya begitu sakit tak terkalahkan dengan hal apapun.


Jauh dari Dava selama beberapa waktu, membuatnya masih menyangka ini hanya halusinasi yang berakibat dari persalinannya.


Sementara di luar ruang bersalin, semua keluarga tampak menatap Dava dengan diam. Dava sadar jika kehadirannya saat ini sangat mengejutkan. Namun, tanda di duga Sendi yang sudah tersulut emosi segera menyergap sang kakak.


Bugh!!!


Pukulan telak mendarat sempurna di dada pria tampan itu. "Apa maksudmu? Hah! Untuk apa kau datang kemari lagi?" Teriakan Sendi memekakkan telinga semua yang ada di sana.


"Berson! Cukup!" Tuan Wilson segera meneriaki sang anak dengan tegas.


Dava terdiam dengan acuh ia mendekat pada kedua orangtua angkatnya itu. "Bunda..." tangisnya seketika tumpah saat memeluk erat tubuh Tarisya yang juga menyambut hangat pelukan sang anak.


"Apa yang terjadi padamu?" Dengan lembutnya wanita tua itu bertanya pada sang anak.

__ADS_1


Belum sempat Dava menjelaskan, tiba-tiba saja sosok perawat membuka pintu dan memperlihatkan sosok wanita yang sangat terlihat menyedihkan di dorong menggunakan brankar pasien untuk pindah ke ruang rawat.


"Ruth!" Sendi langsung ikut bergabung dengan para suster mendorong brankar tersebut.


"Ruth," Dava pun juga sama, ia melepas pelukan sang bunda lalu beralih memperhatikan sang mantan istri.


"Terimakasih suster." ucap Dina sebagai salah satu orang yang bisa berpikiran tenang di ruangan rawat itu.


Kini mereka semua sudah berada di ruang rawat, dan segala perlengkapan rawat wanita yang baru saja melahirkan itu sudah di pastikan lengkap.


"Sama-sama Ibu." tutur sang suster tak lupa menganggukkan kepalanya.


Seketika Ruht yang sedari tadi bungkam langsung menitihkan air matanya.


Dalam hati ia berkata, "Tidak ada yang sakit, Bunda. Bahkan jika ribuan juta jarum menusuk tubuh ini tidak akan lagi terasa. Tubuhku sudah mati rasa."


"Shandy, apa yang sakit? Maafkan Bunda yang tidak bisa menggantikanmu, Nak." Sungguh pemandangan yang menyakitkan bagi semua yang ikut hadir di ruangan itu.

__ADS_1


Dava yang sedari tadi menatap wanita di depannya pun tampak kedua matanya berkaca-kaca.


Tok Tok Tok


Suara ketukan pintu dari luar pun membuat semuanya menoleh serentak.


"Permisi, ini bayinya sudah di bersihkan silahkan Ibu." suster itu menyerahkan bayi yang sangat merah ke tubuh Ruth yang terbaring lemah.


"Seperti ini yah, Ibu. Biarkan dia untuk mendapatkan asi terlebih dulu." Ruth dengan sigap memeluk anak yang berposisi tiarap di dadanya.


Air mata Dava pun sukses mengalir dengan sangat derasnya menyaksikan darah dagingnya kini sudah benar-benar lahir ke dunia. Hari ini ia sudah resmi mendapat gelar baru. Yaitu Ayah muda dari anak bayi tampan itu.


"Jeff, tetaplah di sini. Kami menunggu di luar dulu yah?" Meski begitu inginnya berlama-lama bahkan hanya bisa mencium sekilas bayi itu, mereka bergegas keluar dengan berat hati.


Saat ini Dava dan Ruth sangat membutuhkan waktu berdua untuk berbincang. Tentu saja sangat besar harapan mereka untuk kedua pasangan muda itu rujuk kembali demi kebahagiaan anak yang baru lahir beberapa menit yang lalu.


Suasana di ruangan itu pun tampak senyap. Dava cukup lama terdiam saat melihat tatapan mata Ruth yang kosong ke arah depan. Tangannya terlihat terus bergerak mengusap punggung sang bayi yang tengah asyik menikmati asi sang ibu.

__ADS_1


"Jangan takut. Aku tahu kau juga memiliki hak untuk anakku. Bagaimana pun kau dan aki, kalian akan tetap anak dan ayah yang tidak akan terpisahkan." Tiba-tiba saja setelah lama bungkam, Ruth mengungkapkan apa yang ada di dalam pikirannya sedari awal ia melihat kehadiran pria di depannya saat ini.


__ADS_2