Perjuangan Cinta Nona Ruth

Perjuangan Cinta Nona Ruth
Chapter 212. Emosi Sesaat


__ADS_3

Setelah sang dokter memeriksa keadaan Ruth, semua mata tertuju padanya secara bersamaan.


"Keadaan pasien sudah sangat membaik. Tekanan darahnya juga sudah sangat normal. Dan jika tidak ada kendala, Ibu besok siang sudah bisa kembali ke rumah." tutur sang dokter dengan tenang dan wajah yang begitu tersenyum ramah.


Helaan napas dari semuanya terdengar sangat lega. "Huh...syukurlah. Terimakasih banyak dokter. Tapi untuk cucu saya bagaimana?" tanya Tarisya yang mengkhawatirkan keadaan sang cucu di tempat box bayi itu.


Wajah tanpa dosa milik Rava sungguh sangat menggemaskan. Ia tak perduli dengan suara-suara berisik di sekitarnya. Siang ini sangat membuatnya nyaman untuk tidur usai mendapatkan asupan asi dari sang mamah sebelumnya.


"Dav, apa kau tidak mencemaskan anakmu?" celetuk Sendi yang menyadarkan Dava dari rasa malunya.


Pasalnya siang ini ia tertangkap sedang tidur satu ranjang dengan Ruth dengan posisi memeluk erat tubuh wanita itu.


"Eh...yah. Dokter sudah mengatakan semuanya. Itu sudah sangat lebih dari cukup." jawab Dava dengan cuek.


"Dava...bisa Bunda berbicara denganmu?" Tarisya sebagai orang tua tentu tidak akan membiarkan begitu saja hal yang mengganjal dalam penglihatannya. Apalagi pelakunya adalah sang anak. Sungguh tidak baik jika terus di biarkan.


Bagaimana pun ia sebagai orangtua perlu tahu semua yang terjadi pada anak tertuanya itu.


"Baik, Bunda." sahut Dava seraya menganggukkan kepalanya pelan.


"Ikut Bunda." Tarisya melangkah keluar ruangan bersama dengan sang suami yang ia dorong kursi rodanya.


Sementara Dina dan Sendi yang tertinggal hanya tersenyum canggung menatap Ruth yang memandang mereka bergantian.

__ADS_1


Demi mencairkan suasana, Sendi berinisiatif untuk mendekati sang keponakan yang begitu tampan di sana.


Oek! Oek! Oek! Suara tangisan yang begitu memekakkan telinga tiba-tiba terdengar. "Astaga..." Sendi langsung terkejut dan menarik cepat tangannnya yang menyentuh pipi bayi itu.


"Dia memang sangat sensitif dengan sentuhan, Kak. Biar aku menggendongnya." Ruth bergerak ingin mengambil sang anak, namun Dina yang sangat paham dengan kondisi sang adik ipar segera beranjak untuk membantunya.


"Biarkan ku bantu, Ruth." sahutnya dengan penuh kehati-hatian meraih tubuh kecil yang masih sangat lembek itu.


"Hati-hati, Dina." ucap Sendi yang melihat gerakan tangan sang istri sungguh begitu kaku.


"Dina!" Sekali lagi Sendi berucap. Namun kali ini ia mengucapkan dengan intonasi yang sangat tinggi.


"Ya Allah." Dina tersentak kaget saat tangannya hampir saja membuat leher bayi itu terjatuh kebelakang.


"Sen, aku tidak sengaja. Maafkan-"


Bukan hanya Dina, Ruth yang tadinya tampak biasa saja seketika membulatkan matanya terkejut.


"Kak, apa yang kau katakan?!" teriak Ruth mencegah keributan sepasang suami istri itu.


Tangisan baby Rava bahkan tidak menurunkan rasa amarah di diri Sendi.


Kata-kata yang begitu menyakitkan telah Sendi ucapkan. Kali ini Dina sungguh tidak bisa lagi menahan rasa sakit di hatinya. Air matanya terjatuh begitu saja tanpa bisa ia hentikan.

__ADS_1


"Ini, Ruth. Sekali lagi aku minta maaf." Tangannya memberikan baby yang menangis pada sang ibu dan secepat kilat ia berlari keluar dari ruangan rawat tersebut.


Hatinya benar-benar tidak kuat lagi untuk menahan semua perlakuan Sendi. Selama ini ia berusaha sabar demi mempertahankan pernikahannya dan berharap semuanya akan membaik suatu saat nanti. Namun sayang, semuanya hanya harapan yang tidak akan pernah terjadi.


Bahkan Sendi tega melukai hatinya dengan kata-kata yang sangat tidak bisa ia toleransi itu.


Ia berlari meninggalkan kakak beradik di dalam ruangan dengan tangisan yang begitu menyesakkan dada.


"Aku memang mandul, Sendi. Tapi aku sama sekali tidak sejahat yang kau katakan. Aku tidak pernah iri dengan apa pun yang terjadi pada Ruth. Aku tidak sejahat itu. Tapi...haruskah kau menghinaku seperti itu? Hatiku benar-benar sangat sakit mendengarnya." dalam tangisan dan langkah cepat ia terus menjerit dalam hati.


Mengapa semua yang terjadi padanya sungguh sangat pahit.


Sementara di dalam ruangan, Ruth menatap tak percaya dengan perkataan sang kakak.


"Kak Berson, apa kau sadar dengan yang kau ucapkan pada istrimu?" tanyanya dengan penuh rasa tidak percaya.


Tangannya terlihat terus bergoyang mengayun tubuh kecil sang anak, sementara Sendi terdiam setelah menyadari kesalahan ucapannya.


Ia terdiam dan mendudukkan tubuhnya pada kursi secara perlahan. Sungguh, semuanya terjadi dengan refleks. Sendi sadar ucapannya begitu sangat salah telah mengungkit luka yang begitu dalam bagi sang istri.


"Aku...aku sungguh tidak bermaksud mengatakan seperti itu, Ruth." tuturnya lirih penuh penyesalan.


"Kak, untuk apa tetap di sini? cepat kejar Dina!" Ruth yang masih bisa berpikir pun segera meminta Sendi untuk pergi dari ruangan itu.

__ADS_1


Bagaimana pun ini semua terjadi hanya karena emosi. Dan ia bisa melihat bagaimana baiknya Dina selama ini dan sangat jauh berubah dari yang dulu.


"Ah...iya. Kau benar. Aku pergi dulu." Sendi pun bergegas meninggalkan Ruth bersama sang baby Rava.


__ADS_2