Perjuangan Cinta Nona Ruth

Perjuangan Cinta Nona Ruth
Chapter 39. Aku Mencintaimu, Istriku


__ADS_3

Tiga hari sudah keluarga kecil itu berada di rumah sakit. Meski kondisi Putri sudah sangat membaik dalam perawatan hari kedua, namun tidak dengan Ruth. Tubuhnya bahkan berangsur-angsur menurun. Kelopak matanya mendalam dan mulai menggelap.


Ini juga hari ketiga Dava tidak masuk ke kantor. Setiap hari dirinya terus menatap laptop tanpa henti. Tak perduli dengan panggilan telepon dari sang ayah ataupun dari Tuan Deni.


Bagaimana bisa dirinya mengacuhnya pria yang berniat ingin membantunya untuk keluar dari penjara saat itu, kini di acuhkan begitu saja? Yah begitulah Dava. Ia tidak akan mengingat niat baik orang padanya jika ia sudah mengetahui apa tujuan dari niat tersebut.


Jelas dirinya ingat bagaimana saat Ruth berucap tentang sangkut paut Tuan Deni dengan ayahnya mengenai perusahaan malam itu.


Suara ketikan keyboar laptop terhenti saat suara sesosok wanita terdengar lirih. "Dava," panggilnya.


Saat itu juga Dava berdiri setelah meletakkan laptop miliknya dan berjalan mendekati sang istri yang terbaring lemah di atas ranjang.


"Ada apa, Sayang? Katakan! Mana yang sakit?" Dava bergerak membungkuk mendekat wajah sang istri. Tangannya bergerak mengusap kening yang terasa sangat dingin itu.


Ruth menatapnya dalam. "Pergilah ke kantor. Aku tidak apa-apa di sini." tuturnya merasa kasihan telah begitu membebani sang suami.


Dava yang mendengar pun tersenyum dan perlahan bibir pria itu menempel beberapa saat di kening yang dingin itu.


"Sedalam itukah kelembutan suamiku, Tuhan?" Bahkan Ruth pun tak kuasa menahan tangisnya.


Entah perasaan apa yang ia rasakan saat ini? Ia begitu nyaman berada di sisi Dava, suaminya.


"Sekalipun kantor bangkrut. Aku tidak akan pergi sebelum istriku ini sembuh. Jangan pikirkan semuanya. Malam ini aku mencari tahu semuanya setelah selesai urusanku. Oke?" Di usapnya lembut pipi tirus sang istri.


Matanya terarah pada bocah kecil yang tertidur di samping sang istri. Lalu ia mendekatkan bibirnya pada daun telinga sang istri.


"Aku mencintaimu, istriku." bisiknya nyaris tak terdengar. Hanya suara angin bisikan saja yang mampu Ruth tangkap.


Ruth tersenyum begitu saja tanpa bisa menutupi rasa bahagianya. Akhirnya ucapan yang sangat ia jadikan pertanyaan muncul juga kali ini.


"Istirahatlah, Nanti aku akan membangunkanmu saat jam makan siang." pintah Dava.


"Terimakasih, Dava."


"Untuk?" tanya Dava.


"Untuk semuanya, aku bahagia." Ruth berucap dengan mengumpulkan seluruh kekuatannya.


Kali ini ia hanya ingin kehidupannya bisa bahagia setelah menikah. Dan satu yang inginkan, bisa hidup dengan tenang setelah mengetahui apa yang terjadi dengan keluarganya di masalalu dan juga kakanya, Berson.


Dava pun mengangguk sembari memejamkan matanya lalu membuka perlahan. "Kita mulai semuanya dari awal? Membangun keluarga yang bahagia?" tuturnya dengan penuh harap.

__ADS_1


Jauh dalam lubuk hatinya yang terdalam, ia juga sangat menginginkan kehidupan layaknya orang-orang di luar sana yang saling menyayangi.


Tanpa Ragu, Ruth mengangguk setuju. Senyumannya yang ia perlihatkan sejak tadi berangsur-angsur mempengaruhi pucat di wajahnya menjadi segar.


 


Keduanya pun langsung berpelukan dengan rasa penuh kebahagiaan kala itu. Dava begitu bahagia dengan semua jalan yang telah Tuhan gariskan untuknya. Tak pernah sekalipun terpikirkan olehnya jika hubungannya dengan Ruth akan membaik dalam berjalannya waktu.


Begitu juga dengan Ruth yang sangat bahagia mendapatkan cinta dari pria baik dan tampan yang sudah sah menjadi suaminya saat ini.


Ia tidak pernah menyangka jika Tuhan mengambil Sendi darinya yang begitu mencintainya, kemudian menggantikan dengan sosok Dava yang sangat hangat padanya dan juga Putri.


Di sisi lain, Sendi yang juga terbaring kini terus mendengar apa yang di katakan pria di depannya. Semua ucapan terus di ucapkan dengan kata yang mewakili pengakuan, jika Sendi adalah anak dari seorang Deni Salim Perdana dan juga Wuri Prameswari.


Ia menjadi anak penerus perusahaan Densal Company kedepannya setelah masa Tuan Deni pensiun dari perusahaan.


"Sendi Sandoyo, kamu adalah Sendi Sandoyo. Anak dari Deni Salim Perdana dan Wuri Prameswari. Ingat! Sampai kapan pun kamu adalah putra mereka, bukan putra dari siapa-siapa di dunia ini. Kamu lahir dari rahim wanita yang bernama Wuri Prameswari. Jangan pernah lupakan perjuangan Ibumu, Sendi."


 


"Sendi Sandoyo, you are Sendi Sandoyo. The son of Deni Salim Perdana and Wuri Prameswari. Remember! You will always be their son, not the son of anyone in this world. You were born from the womb of a woman named Wuri Prameswari. Never forget your mother's struggle, Joint."


Begitulah ucapan yang terus pria itu lontarkan selama beberapa hari ini saat Sendi kembali di bawa oleh sang ayah ke luar negeri.


 


"Ayah," panggil Sendi lirih kala manik matanya menatap pria di sampingnya yang berdiri menyaksikan therapy itu.


Tuan Deni yang tersenyum puas segera menghentikan senyumannya dan mendekat pada anaknya. "Iya Sendi, ada apa? Apa yang kau rasakan?" tanyanya dengan wajah di buat sekhawatir mungkin.


"Mengapa aku ada di sini lagi? Aku benar tidak salah kan? Aku mengingat tempat ini dalam waktu yang berjarak lama." tuturnya berusaha mengingat-ingat apa yang muncul di bayangannya.


"Yah, dulu kau therapi di sini. Segeralah sembuh, Sendi. Istrimu menunggu kepulanganmu." tutur Tuan Deni mengusap kepala pria yang masih terbaring di ranjang itu.


Sendi memegangi kepalanya yang terasa berdenyut di seluruh sudut kepalanya. "Tenanglah. Jika kau terlalu berpikir keras, kepalamu akan semakin sakit." pintah Tuan Deni.


Sedangkan wanita yang berada di sisinya hanya menggeleng tak kuasa terus membohongi sang anak. "Maafkan Ibu, Sendi. Maafkan Ayahmu, maafkan kami, Nak. Ayahmu sangat jahat padamu. Ibu harus melakukan apa untuk  menerima maaf darimu, Sendi?" Wuri menahan tangisnya di dalam dada.


Rasanya sungguh tak tega jika mengingat siapa sosok Sendi sebenarnya.


"Dulu kau datang di bawah Ayahmu dengan wajah penuh luka, bahkan nyaris mati saat Ibu melihatmu. Andai Ibu tahu apa yang akan di lakukan Ayahmu padamu, Ibu lebih memilih tidak berusaha menolongmu saat itu, Sendi. Mengapa malang sekali nasibmu?"

__ADS_1


Wuri menunduk menahan hidunganya yang terasa buntu menahan isak tangisnya saat mengingat kejadian di masa lalunya.


Dimana Sendi yang baru mengalami kecelakaan bersama keluarganya terpaksa harus di pisahkan dan di bawa seorang diri oleh seorang pria yang tampak berpakaian sederhana.


Yah, dulu seorang Deni Salim Perdana, bukanlah siapa-siapa. Dirinya hanya sebagai seorang karyawan biasa di perusahaan D Group.


 


***


Malam yang begitu dingin kembali membangunkan Dava dari ketegangan seharian bekerja di depan laptop. Tubuhnya terasa sangat lelah, namun kembali semangat itu bangkit saat melihat wajah pulas sang istri yang kini telah menjadi istrinya benar-benar.


Sebuah perjanjian yang berakhir dengan jatuh cinta memang membuatnya tak bisa menutupi rasa bahagia sebagai suami yang menginginkan keharmonisan dalam rumah tangganya.


Perlahan di letakkan laptop kerjanya pada sebuah meja di ruangan rawat itu. Dava bergegas menuju tempat Ruth berbaring dan memejamkan matanya.


"Jam satu malam," ucapnya dalam hati kala manik mata hitam itu menatap pergelangan tangan yang ia naikkan mendekat pada matanya.


Cup


Satu sentuhan hangat bibir itu mendarat sempurna di kening sang istri lalu bergerak pada kening bocah mungil yang terlelap memeluk tubuh sang istri.


"Goog night, istriku," ucapnya lirih kemudian mengangkan selimut untuk menutup tubuh sang istri.


Dava berjalan meninggalkan ruangan rawat sang istri.


"Pastikan mereka aman. Dan kau, Hanzel ikut denganku. Jangan lupa hubungi Tegar untuk bergabung di sana. Aku butuh kalian." Dava memerintah seraya terus melangkah cepat.


Beberapa hari ini, dirinya begitu gelisah dengan masalah sang istri yang membuatnya juga penasaran ingin tahu.


Tiga orang pria sudah berhasil masuk dengan hening malam itu. Ruangan gelap tak membuat mereka kesulitan untuk mengobrak abrik seluruh ruangan utama di perusahaan Nata Hensana.


"Kau bagian itu. Dan kau bagian di sana." Dava memberi perintah dengan gerakan tangannya pada sosok Hanzel dan juga Tegar.


"Apa? Tidak! Ini tidak mungkin!" Wajah serius Dava seketika bercucur keringat saat menatap layar monitor yang sudah ia otak atik sedari tadi.


Semua keamanan dengan mudahnya ia buka di benda canggih itu.


Matanya membulat begitu tajam. Keringat di seluruh wajahnya pun mengucur deras saat mengetahui sebuah kebenaran yang sangat jelas di layar terang tersebut.


***

__ADS_1


Hai...semuanya. Jangan lupa jejak kalian yah, readers. Author akan kasih pengumuman baik nih. Untuk bulan depan khusus novel ini, akan author double update dalam setiap harinya. Semoga dengan konsistennya author, tidak membuat kalian lupa atau malas untuk memberikan like dan komennya yah? terimakasih semuanya.


__ADS_2