
Pagi yang cerah secerah wajah cantik yang begitu segar baru saja keluar dari dalam kamar mandi. Tetesan-tetesan air sehabis mandi tampak menjatuhi pundak mulus tanpa sehelai benang pun.
Suara decitan pelan pintu kamar mandi menampilkan sosok tubuh yang begitu sangat ideal. Namun, bukan Dava namanya jika akan menampilkan ekspresi yang dapat di baca oleh siapa pun juga.
Langkah kaki pertama tampak begitu mengejutkan wanita berambut basah tersebut. Ruth menutup mulutnya sebelum ia mengeluarkan suara di kamarnya.
"Emph! Kamu?" ucapnya melotot.
Dava masih hanya tetap berdiri dengan wajah seriusnya.
Tangan kekar itu bergerak meraih pergelangan tangan kecil milik Ruth dan berjalan menuntunnya ke arah tempat pembaringan. Tempat yang menjadi saksi bisu mereka bertiga menikmati malam yang panjang dengan selembar kain tebal yang menjadi penghangat tambahan selain pelukan.
"Berikan pada lukamu." pintah Dava saat keduanya sudah sampai di tempat tidur. Lebih tepatnya mendudukkan tubuh Ruth dengan tegas.
Ruth memandang wajah pria di depannya dengan bingung. Ia bahkan tercengang kala melihat sikap dingin Dava namun terasa begitu hangat dalam hatinya.
Manik mata kecoklatan itu terlihat bergerak menatap benda kecil di tangannya yang baru saja terlepas dari genggaman sosok pria tampan.
Tanpa berucap sepatah kata pun lagi, Dava melangkah meninggalkan kamar tersebut dengan suara langkah beralun indah.
"Awh..." rintih pelan Ruth kala ia mulai melakukan perintah sang suami.
Tangannya tampak bergerak kaku mencari beberapa luka di bagian dada dan lengannya yang ingin ia beri obat, namun tanpa sengaja rintihan demi rintihan itu sukses membangunkan seorang bocah yang masih berada di sampingnya sejak tadi.
Saat itu juga, langkah Dava terhenti saat mendengar suara Putri berbicara.
"Mamah, sakit sekali yah? Putli nggak belani kasih obat bantuin Mamah. Pelasaan kalo di tv-tv pasti suaminya yang kasih obat istlinya." ucapnya bocah kecil itu dengan suara yang sengaja di buat setinggi mungkin.
Benar saja, mendegar penuturan polos sang anak, Dava langsung berbalik dan mendekat kembali.
"Eh," Ruth begitu terkejut kala tangan kekar sang suami bergerak cepat merebut obat di tangannya tanpa suara.
__ADS_1
"Hihihi...asikk. Putli kabul ah." Langkah kecil namun pasti terlihat seperti kilat yang langsung hilang dalam sekejap.
Mungkin benar kata pepatah. Jika cinta terasa, hujan badai dan gempa sekali pun tidak akan menyadarkan cinta itu.
Begitulah yang terjadi pada Ruth dan Dava yang saling diam namun dalam setiap detakan jantung mereka terasa begitu terkoneksi saling bercakap ria.
Pintu kamar berhasil tertutup kembali dan Putri segera berlari mencari sosok wanita yang menjadi pengambil alih atas kepemimpinan misi hati kali ini.
"Aduh, Ya Allah Gusti, Ya Tuhanku." teriak wanita tua itu dengan tangan yang berulang kali mengusap dadanya kala mendapat pelukan mendadak dari tangan mungil yang melingkar di kedua pahanya.
"Mbok, Putli ada belheb loh." serunya sembari menarik-narik ujung daster all size milik Mbok Nan yang tengah sibuk memotong-motong sayuran saat itu.
Mbok Nan berhenti dari kegiatannya lalu menunduk menatap wajah mungil sang bocah. "Belheb? maksud Putri Berheb?" tanyanya memastikan pendengarannya.
Putri mengangguk cepat sembari menatap serius wajah sang Mbok. Dengan girang, Mbok Nan menarik tangan bocah mungil itu ke arah meja makan. Satu kursi di tariknya lalu menggendong tubuh mungil sang bocah agar duduk di kursi meja makan. Setelah memastikan Putri duduk dengan benar, barulah ia sendiri duduk di samping Putri.
Dua tangannya menggenggam jemari mungil di depannya. "Ayo, katakan. Tentang apa? Mbok jadi penasaran loh, Putri."
Putri menangkup wajahnya sendiri dengan dua tangan miliknya yang ia letakkan di meja makan tepat pada bagian sikunya.
"Terus apa, Putri? ayo ceritanya di lanjutin dong. Mbok kan mau masak nih jadi nggak bisa fokus." Mbok Nan bergerak mencubit gemas pipi gembul si Putri yang terkekeh.
Sayangnya, percakapan sepotong pagi itu tak bisa di lanjutkan karena ulah suara deheman pria yang tentunya adalah Dava.
Memangnya siapa lagi pria yang ada di rumah itu selain pria yang menjadi imam rumah tangga Ruth saat ini.
"Ehem,"
Mbok Nan dan Putri langsung berdiri dari tempat duduk mereka masing-masing. Manik mata mereka memandang dua orang yang baru saja keluar dari kamar utama dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Mbok, ada apa?" tanya Ruth menatap bingung melihat ekspresi Putri yang menggigit kecil bibir bawahnya dan Mbok Nan yang menggaruk-garuk tengkuk lehernya kebingungan.
"Em...itu Non, anu...eh iya tadi Mbok lupa kalau belum selesai buat capcainya. Mbok tinggal dulu yah? Putri ayo mandi cepat baru sarapan." seru Mbok Nan kemudian memerintahkan Putri untuk kabur dari cengkraman mangsanya.
__ADS_1
Secepat kilat, Putri berlari menuju ke kamarnya meninggalkan Dava berdua dengan sang istri yang terdiam canggung tanpa mau duduk di kursi meja makan.
Detik berikutnya, "Non, duduk dulu. Sebentar lagi Mbok selesai buatkan sarapan kok." terangnya dari arah meja dapur.
Ruth mengangguk dan mendorong kursi kemudian duduk perlahan tanpa menawari sang suami. Dava juga ikut menarik kursi dan menunggu sarapan.
"Hihi dasar malu-malu mau." umpat Mbok Nan yang terkekeh melihat pemandangan menggemaskan di meja makan.
"Setelah sarapan pulanglah. Aku tidak akan mau ikut ke rumah itu lagi." sahut Ruth berucap tanpa menatap wajah sang suami di sampingnya.
"Tidak." sahutnya singkat.
"Aku tidak akan mau ke rumah itu lagi. Sampai kapan pun tidak akan pernah. Apa kejadian semalam tidak cukup untuk kamu jadikan pertimbangan?" ucap Ruth yang sudah mendidih api amarahnya. Matanya memerah terasa masam kala menahan rasa yang sangat menyesakkan dada mengingat kejadian semalam.
Tangannya yang tanpa sadar terkepal dan mengeluarkan keringat dingin.
Dava menoleh ke arah sang istri. "Jangan khawatir. Aku tidak akan membiarkan apa pun terjadi padamu. Termasuk dari Ayah." terangnya dengan mantap.
Genggaman hangat begitu jelas terasa menyelimuti tangan yang dingin pagi itu di atas meja. Yah, Dava menggenggamnya dengan sangat erat. Manik matanya menatap dengan dalam pada netra kecoklatan yang perlaha mulai tampak mendung itu.
"Aku sudah berjanji akan melindungimu, Ruth. Maafkan kejadian semalam, atas nama Ayah aku benar-benar minta maaf."
Tetesan demi tetesan akhirnya jatuh juga meski sekuat tenaga Ruth menahannya. Jika saja Dava tidak datang tepat waktu, entah apa yang akan terjadi padanya malam tadi. Apakah dirinya masih bisa memaafkan sang suami atau tidak? Tentu hal yang begitu mustahil baginya.
"Maafkan Ayahku, Ruth. Aku sangat menyesalinya karena tidak menyadari trik Ayah." Dava membawa tubuh sang istri ke dalam pelukannya. Memiringkan kursi demi mencapai pelukan tererat yang bisa ia berikan pada sang istri.
Suasana mendadak hangat. Ruth terisak di dalam dekapan sang suami. Ia mengeluarkan air matanya sejadi-jadinya. Bibirnya bahkan tak mampu terbungkam karena bergetar.
"Aku lelah, Dava. Aku lelah. Aku benar-benar lelah menjadi wanita yang menyedihkan seperti ini." tangisnya akhirnya mengeluarkan ucapan juga.
Mungkin benar kata pepatah, jika Tuhan memberikanmu cobaan. Cobalah untuk tetap berteguh hati menghadapinya.
Jika kamu tidak kuat menghadapinya, mungkin kamu akan menjadi orang yang paling menyesal. Karena menolak kejutan indah dari sang Kuasa setelah menerima ujiannya.
__ADS_1
Kali ini, Ruth mendapat musibah bertubi-tubi. Dan akhirnya, ia mendapatkan pelukan hangan dan tulus dari sosok pria yang begitu sangat mencintainya. Yah mencintai dalam hatinya saja. Namun tidak dengan ucapannya.