
Sendi benar-benar bingung, ia sedang dalam pikiran kalut namun di sini sang Ibu juga sedang dalam keterpurukannya.
"Bu, sudahlah. Ayo kita tunggu Dina dulu. Tolong jangan memikirkan terlalu banyak hal, Bu."tuturnya mencoba membuat tubuh sang Ibu kembali tegap.
Wuri menangis histeris seraya menggelengkan kepalanya. "Sendi, Ibu minta maaf, Nak. Ibu sangat sangat minta maaf padamu dan Ruth. Ibu benar-benar salah, kalian berdua adalah anak yang sangat baik."
Sendi hanya memejamkan mata. Ia pun tak tahu harus menenangkan sang Ibu bagaimana lagi kali ini. "Iya, Bu. Semua sudah terlanjur terjadi. Saat ini mari kita perbaiki semuanya, Bu. Ayo." Sendi menuntun sang Ibu menuju tempat dimana mereka seharusnya menunggu Dina.
Tanpa mereka ketahui, sedari tadi keadaan Dina sangat mengkhawatirkan. Dokter bahkan masih sibuk menangani tekanan darahnya. Segala cara mereka lakukan di dalam sana hingga pada akhirnya salah satu dari mereka keluar dari ruangan tersebut.
"Permisi, keluarga pasien Dina Salhuteru..." panggil Dokter itu dengan berdiri di depan pintu.
"Saya, Dok. Saya Ibunya." ucap Wuri antusias. Sementara Sendi hanya ikut berdiri di samping sang Ibu.
"Janin pasien sudah tidak bisa di selamatkan, Ibu. Seperti yang saya katakan saat malam tadi, kita hanya akan melakukan operasi caesar, namun saat ini saya menemukan hal lain. Akibat pendarahan yang sangat fatal kami harus melakukan Histerektomi, Ibu." terang sang Dokter dengan tenangnya.
"Lakukan apa pun yang terbaik untuk anak saya, Dokter." Wuri yang sangat mencemaskan keadaan Dina enggan banyak bertanya. Namun, Sendi yang merasa itu adalah hal yang penting untuk di ketahu langsung bersuara.
__ADS_1
"Apa itu, Dokter?" tanyanya dengan wajah serius.
"Histerektomi, adalah operasi pengangkatan rahim, Tuan. Dengan kata lain, rahimnya pasien akan di buang dari tubuhnya." Dokter menjelaskan dengan detail hingga Sendi semakin penasaran untuk mengetahuinya.
"Pengangkatan rahim, Dok? lalu bagaimana jika hamil?" tanya Sendi lagi.
"Apa? Pengangkatan rahim, Dok?" Wuri syok saat mendengar penuturan sang dokter.
Lagi dan lagi masalah datang menimpanya dan sang anak.
Kekerasan? kekerasana apa yang terjadi pada istrinya lalu siapa yang melakukan hal itu? ia menatap sang Ibu yang membungkam mulutnya menahan tangis.
"Bu, segera berikan keputusan pada Dokter. Ini yang terbaik, lebih cepat lebih baik." ujar Sendi.
"Ini Ibu, surat pernyataan yang anda harus tandatangani." Sang Dokter menyerahkan bolpoin dan juga selembar kertas pada Wuri.
"Maafkan Ibu, Dina." lirihnya dengan tangan bergetar berusaha menuliskan garis tanda tangannya.
__ADS_1
Seketika air mata itu berjatuhan dengan deras setelah selesai menyanggupi perintah Dokter.
"Saya permisi." Dokter itu kembali masuk dan Sendi hanya bisa memeluk sang Ibu yang benar-benar rapuh saat ini.
"Bu, katakan. Siapa yang melakukan ini? Dan apa yang terjadi pada Dina?" Sendi memegang erat kedua bahu sang Ibu.
Wuri yang menangis hanya bisa menengadah menatap wajah tampan sosok pria di depannya. Ia menggeleng tak mengerti.
"Ibu tidak tahu, Sendi. Ibu...hanya menemukan Dina di parkiran hotel xx." Mendengar nama hotel di sebut, amarah Sendi mendidih.
Ia sudah bisa mengerti dari ucapan sang Ibu, dan kemudian keterangan Dokter. Jika Dina usai berhubungan dengan seseorang yang pasti adalah lelaki.
"Bu, katakan semuanya padaku." Pintah Sendi lagi.
Di sini, Wuri yang sudah menghentikan tangisannya susah payah akhirnya mulai menceritakan pada sang anak. Tentu ia sangat jujur, semua yang ia dapat dari kejadian yang menimpa Dina, ia sama sekali tidak mengetahui apa yang terjadi pada anaknya. Yang jelas, matanya bisa melihat jika darah terus mengalir deras di pangkal paha sang anak, istri Sendi.
__ADS_1