
Suamiku, aku mencintaimu...
Aku sangat mencintaimu. Jika aku tahu akan sebahagia ini di dalam hidupku, aku bahkan rela menanti kebahagiaan ini sekalipun harusĀ menunggu sampai ribuan tahun dalam hari-hari yang menyedihkan.
Tidak pernah ku sangka jika kau akan hadir dalam hari-hariku membawa tawa dan cinta secara bersamaan, Dav.
Kau adalah pria yang sangat sempurna, aku berharap kebahagiaan ini tidak akan pernah berakhir menyedihkan.
Jika dalam kehidupan sebelumnya, aku selalu takut akan mentari pagi yang datang bersama mimpi buruk itu.
Berbeda dengan saat ini, justru aku selalu menanti mentari pagi datang menyapaku dengan wajah tampanmu yang selalu berada di depan mata sembabku usai terlelap sepanjang malam.
Dav, kau adalah mentari pagiku saat ini dan selamanya...
Ruth tersenyum menikmati laju kendaraan mereka yang di kemudikan sang suami, tangannya terus mengeratkan pelukan di pinggang ramping sang suami.
"Ruth, i love you!" Teriakan Dava membuatnya tersadar dari lamunan indah itu seketika.
"Aw...kenapa sayang?" tanya Dava yang mendapatkan pukulan dari sang istri, kemudian ia mematikan mesin kendaraannya setelah menurunkan laju jetsky itu.
"Dav, kau membuatku terkejut." ucapnya dengan wajah kesal.
__ADS_1
"Tapi istriku ini senangkan?" Dava tersenyum mengedipkan matanya sebelah menggoda sang istri.
"Ini kenapa mati mesinnya?" tanya Ruth lagi setelah menyadari sang suami yang memutar arah duduknya jadi menghadap ke arahnya.
"Dav...Dav, kita jatuh." Ruth berpegangan sekuat tenaga pada sang suami usai mendapat gelombag kecil.
"Aku ingin menikmati momen indah ini sebentar." sahut Dava tersenyum menatap wajah sang istri yang tampak pucat.
Seketika, keningnya pun mengkerut. "Sayang, kau sakit?" tanyanya cemas lalu memeriksa kening, pipi, leher dan juga memeluknya dengan erat.
"Ruth, katakan yang mana sakit? Apa kau takut naik jetsky?" kembali Dava bertanya demi memastikan keadaan sang istri.
"Dav, hei..." Ruth melepaskan pelukan sang suami.
"Kepalaku hanya sedikit pusing. Mungkin karena baru pertama kali bermain seperti ini yah? Hehehe maklum ini adalah pengalaman pertamku, Dav." jawabnya jujur tersenyum lucu.
Dava pun mengangguk mendengar penuturan sang istri, meski dalam hatinya ia yakin keadaan sang istri tidak sebaik yang ia katakan barusan.
Bagaimana bisa ia tidak memperhatikan wajah istrinya sedari tadi? Dava pun berhenti untuk mengulur waktu mereka di tengah laut itu. Ia memutuskan untuk segera membawa sang istri kembali ke kapan dan menikmati bulan madu mereka dengan berisitirahat di dalam kamar saja.
"Yasudah, kalau begitu kita kembali yuk." Dava berputar posisi kembali mengarah ke depan dan menyalakan mesin jetsky itu.
__ADS_1
"Dav, aku baik-baik saja." ucap Ruth tidak enak hati melihat sang suami ingin mengajaknya kembali.
"Tidak. Aku sangat lelah. Kita akan menikmati dari depan kamar kita saja." sahut Dava bersikeras kembali dan mereka pun kini naik ke kapal yang terparkir dengan tenang itu.
Suara iringan biola terus terdengar tanpa henti, musik-musik romantis terus terputar di telinga para wisatawan yang ada di kapal itu.
Keduanya pun tiba di depan pintu kamar.
"Kenapa kepalaku makin terasa pusingnya yah?" tanya Ruth dalam hatinya seraya menggelengkan kepala beberapa kali.
Ia tampak memejamkan dan membuka kembali matanya. "Uwekkkk!"
"Ruth!" Dava berteriak panik saat sang istri menahan muntah yang sudah terlanjur tumpah ruah di depan pintu kamar itu.
"Ayo, Sayang." Dengan cepat ia menggendong sang istri masuk ke kamar.
"Dav, aku baik-baik saja." ujarnya menolak sang suami agar tidak cemas.
Namun Dava berlari terus tanpa mau mendengarkan ucapan sang istri. Ia menempatkan tubuh setengah basah karena air laut itu di atas tempat tidur yang sudah kembali rapi.
"Diam di sini. Aku akan meminta tim kesehatan untuk mengecek keadaanmu dulu." Dava berlari keluar kamar setelah memastikan sang istri memakai selimut dengan baik.
__ADS_1
"Dav,!" Ruth kembali memanggil namun sudah tidak ada jawaban dari sang suami lagi.