Perjuangan Cinta Nona Ruth

Perjuangan Cinta Nona Ruth
Chapter 166. Menuju Ke Rumah Baesan


__ADS_3

Putri tampak begitu bahagia pagi ini. Semangatnya untuk belajar di dalam kelas begitu berkobar kala melihat sang mamah di luar kelas terus memperhatikannya dengan senyuman yang tak pernah pudar di wajahnya.


Dalam hati Ruth berucap dengan syukur. Ia bisa melihat perkembangan anaknya sampai sebesar saat ini. Ada gurat kesedihan saat menatap wajah ceria sang anak.


"Aku takut Ya Allah jika suatu saat nanti kau akan mengambilnya dariku. Hanya dia satu-satunya semangatku selama ini yang selalu berada bersamaku tanpa kenal waktu. Dia anakku, sampai kapan pun dia adalah anakku, Aku tidak akan membiarkan siapa pun mengambilnya dariku. Termasuk mereka..." Ingatan Ruth yang begitu takut kala orangtua Putri akan mengambil anak mereka kembali tidak akan pernah bisa membuatnya tenang seratus persen.


Orangtua kandung sampai kapan pun akan tetap seperti itu. Tidak akan bisa tergantikan lagi sekali pun kasih sayang yang ia berikan pada anak angkatnya sangat besar. Namun semuanya akan kalah dengan yang namanya ikatan darah.


Di sisi yang berbeda. Rumah sakit tempat di mana Tuan Wilson selalu datang mulai dari pertama kali ia ditemukan dari tempat penyekapan.


"Bagaimana keadaan mertua saya, Dokter? Apa perkembangannya masih bagus?" Dina bertanya dengan antusias usai mereka sampai di rumah sakit dan menunggu sang dokter memeriksa keadaan sang ayah mertua.

__ADS_1


Dina menantikan penjelasan sang dokter bersama Tarisya dengan antusiasnya.


"Perkembangan pasien cukup bagus sejauh ini. Bahkan semangatnya untuk sembuh begitu terlihat dari setiap kali kita therapy yang kemarin terakhir kalinya kita melakukan therapy itu. Bagian anggota tubuh bawah sudah mulai menunjukkan perkembangan yang signifikan tentunya. Namun, sejauh ini untuk tubuh bagian atas dari pinggang sampai kepala seperti masih harus cukup sabar menunggunya..." terang Dokter panjang lebar dengan penuh keyakinan.


"Apa semuanya pasti bisa sembuh total, Dokter?" sahut Tarisya penuh rasa takut.


Besar harapannya melihat sang suami untuk sembuh kembali.


Melihat anggukan kepala pria berjas putih kebanggaannya wajah dua wanita itu segera tersenyum lebar. "Ada kemungkinan besar akan sembuh total, Ibu. Melihat begitu besarnya semangat Tuan Wilson untuk sembuh tentunya kita akan semakin mudah menjalani proses penyembuhannya. Yang terpenting adalah support dari kalian keluarganya. Itu adalah hal yang paling penting untuk pendorong semangat pasien."


Tak lama lagi, waktu itu akan tiba. Mereka akan segera berkumpul dengan banyaknya canda tawa tanpa ada yang diam hanya mematung mendengarkan candaan itu.

__ADS_1


Sungguh keluarga yang menuju proses bahagia meski untuk saat ini mereka harus begitu banyak menghadapi kesedihan.


"Baiklah Dokter. Terimakasih banyak Dok." tuturnya dengan senyuman puas.


"Sama-sama, Ibu. Jangan lupa untuk minggu depan jadwalnya kembali therapy yah?" sang Dokter memberikan peringatan pada mereka semua.


"Sebaiknya kita segera pulang dari sini, Dina. Ayo, sekali lagi terimakasih banyak Dokter." ketiga orang tersebut pun segera meninggalkan rumah sakit dan menuju suatu tempat yang sudah Tarisya pintahkan pada sang menantu.


Di perjalanan Tarisya berucap, "Apa pagi ini Ibu kamu tidak sibuk, Nak?" tanyanya dengan tutur kata yang begitu halus terdengar.


"Em...hari ini Dina sudah katakan dengan Ibu jika Bunda ingin bertemu dengannya." jawab Dina dengan sopan.

__ADS_1


Tarisya tersenyum. "Baiklah."


"Apa Bunda tidak benci pada Ibu dan juga Dina?" ia bertanya karena sadar apa yang sudah keluarganya lakukan pada wanita yang bersamanya saat ini.


__ADS_2