Perjuangan Cinta Nona Ruth

Perjuangan Cinta Nona Ruth
Chapter 136. Aromatherapy


__ADS_3

Di sini, mobil milik Dava baru terparkir dengan sempurna di depan halaman rumahnya.


Untuk sejenak ia berdiam diri. Matanya melirik rumah yang menjadi tempatnya bertumbuh kembang dengan sang istri hingga membuahkan satu anak yang akan segera hadir ke dunia.


"Rumah ini ternyata bukan hanya mertuaku...tapi ini adalah rumah ayah dan bundaku. Sepahit ini ternyata akhir cinta kita, Sayang." lirihnya menatap pahit rumah yang berdominan putih itu. Ia merasa sangat berat untuk turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah.


Tentu saja Dava merasa setiap saat ia masuk ke rumah itu akan sangat banyak dosa yang ia lakukan. Berhubungan dengan saudaranya sendiri meski ia tahu itu adalah adiknya. Dan kebohongan-kebohongan yang akan ia ucapkan setiap kali sang istri bertanya padanya.


"Ayah!"


"Mah, itu Ayah sudah pulang." seru Putri yang terdengar berteriak kegirangan di ambang pintu rumahnya.


Tangan mungil itu menggenggam sebuah boneka barbie baru yang di belinya bersama mamanya saat sore tadi.


Ruth pun tersenyum saat berjalan mendekat pada sang anak. Ia menggapai tangan mungil Putri lalu keduanya berjalan beriringan mendekati mobil yang membawa Dava pulang.


"Astaga...mereka." Segera Dava pun melepaskan seatbelt di tubuhnya lalu turun menghampiri anak dan istrinya.


Seperti biasa ia sudah tersenyum meski sangat pahit mengeluarkan senyuman itu.


"Ayah!" Putri berhambur memeluknya.


"Hai, Sayang. Bagaimana hari ini dengan Om Sendi?" tanya Dava menggendong Putri sementara tangan sebelahnya sudah bergerak mengelus sekilas perut rata sang istri.

__ADS_1


Tangannya beralih pada rambut panjang milik Ruth. Di raihnya kepala itu dan di kecupnya lembut.


"Apa kau baik-baik saja hari ini, Sayang?" tanyanya dengan penasaran.


"Om Sendi asik Ayah. Putli suka deh. Selu." uceh si bocah itu.


Ruth dan Dava tersenyum mendengarnya. Lalu Ruth pun bergantian menjawab pertanyaan sang suami. "Aku baik-baik saja, Dav. Seharusnya aku yang bertanya padamu. Apa kau baik-baik saja hari ini? Perasaanku tidak enak saat mengingatmu." ucapnya mengingat perasaan yang tiba-tiba sesak pagi tadi.


"Yah, i'm fine. Semua baik-baik saja. Jangan khawatirkan aku, mungkin si dedek lagi kangen sama ayahnya makanya dia ngambek sama mamahnya." Dava terkekeh di buat-buat demi mengalihkan topik pembicaraan mereka.


"Sudahlah jangan gombal dengan dalih anak kita. Ayo masuk." Ruth berjalan diikuti Dava dan juga Putri yang berada di gendongannya.


Mereka bertiga langsung menuju kamar untuk menemani Dava beristirahat sejenak sebelum mandi.


"Ayah, Putli mau kelual deh. Mamah pasti mau kangen-kangenan sama Ayah. Sehalian inikan Mamah telus-telusan sedih." ocehnya dengan wajah penuh prihatin.


"Dada Ayah..." ia berlari menutup pintu kamarnya tanpa mendengarkan alasan sang Mamah.


"Eh, Putri. Mamah-" Ruth menggelengkan kepala saat melihat lirikan nakal dari sang suami.


"Dav..." ucapnya meminta sang suami untuk tidak menggodanya.


"Benarkah kau hari ini sedih karenaku? Hem." Dava memeluk tubuh wangi yang selalu membuatnya terbuai.

__ADS_1


Di ciumnya leher putih mulus sang istri. "Dav, geli." Ruth memberontak pelan, namun sang suami tidak membiarkannya lepas begitu saja.


"Katakan. Ayo cepat katakan. Kau sedih karenaku?"


Wajah putih wanita di depannya seketika langsung berubah bentuk. Ia sangat malu di goda seperti itu oleh sang suami tentunya.


"Tidak. Aku hanya merasa ada sesuatu yang terjadi. Itu sebabnya aku cemas. Tapi...aku tahu hari ini jadwalmu sangat padat. Makanya aku menahan diri dengan kecemasanku seharian." terang Ruth akhirnya menatap wajah sang suami dengan pandangan sedih sekali.


"Kemarilah, sayang. Aku sangat merindukanmu seharian ini." Dava memeluknya dengan dua tangan begitu erat. Ia berkali-kali mencium pucuk kepala sang istri.


Menikmati saat-saat terakhir menjadi suami mungkin adalah cara yang ampuh membuatnya tetap kuat hingga waktunya benar-benar berakhir nanti.


Ruth terpejam di pelukan sang suami. Ia menghirup aroma yang sangat menyejukkan dalam pikirannya. Seakan aroma tubuh Dava menjadi aromtherapy yang menenangkan si ibu hamil satu ini.


Suasana di dalam kamar kini terdengar sunyi senyap.


Dava pun kini tampak memejamkan matanya. Ia sungguh tengah berusaha mengatur sesuatu yang ingin memeberontak dalam tubuhnya seiring debaran jantung yang begitu kencang.


"Ayolah Dav, tahan dirimu. Tahan nafsumu." batin Dava sembari mengepalkan erat genggamannya.


"Dav," panggil Ruth dengan lembut.


"Iya, Sayang. Ada apa?" tanya Dava tergugup.

__ADS_1


Jemari lentik berkuku panjang itu menyetuh dada bidang sang suami. "Dadamu berdetak kencang sekali. Apa ada masalah dengan jantungmu?" tanyanya dengan polos.


__ADS_2