Perjuangan Cinta Nona Ruth

Perjuangan Cinta Nona Ruth
Chapter 43. Trauma


__ADS_3

"Bagus...bagus. Jadi ini tingkahmu di belakang istrimu? Baj*ngan!" Sendi yang begitu murka merasa tidak terima jika sang mantan di khianati seperti ini.


Bahkan seb*jat apa pun dirinya, tidak pernah sampai menduakan Ruth saat berpacaran dulu.


"Dev, siapa dia?" Alana bertanya dengan bahasa yang begitu jelas nada bicara asingnya.


Dava terlihat menghela napasnya kasar. Belum satu masalah usai, kini datang lagi masalah lain.


Di sana Sendi yang berjalan mendekat terlihat tampak pucat. Dirinya memang belum sepenuhnya pulih, namun entah apa yang membawa pria itu sudah kembali berkeliaran di luar tanpa pengawasan ketat.


"Hah..." Sendi menghela napas kasar dan buru-buru pergi meninggalkan keduanya usai meletakkan uang di atas meja restoran itu.


Tak perduli dengan teriakan Alana atau pun Sendi. Ia sangat malas jika harus membuang-buang tenaga dan kesabaran menghadapi dua manusia planet itu.


"Benar-benar ujian kesabaran hari ini." umpat Dava melangkah memasuki mobilnya.


Mobil pun melesat meninggalkan parkiran restoran menuju jalan yang begitu padar. Senyumannya terasa lepas kala menatap setir mobil miliknya.


"Ternyata rindu juga dengan mengemudi mobil sendiri seperti ini. Hahaha...selamat datang kehidupan baru, Dava." ucapnya dengan wajah berseri-seri dan semakin menginjakkan kakinya pada pedal gas.


Di perjalanan pria itu tampak menelfon seseorang dengan wajah seriusnya usai menikmati lajunya kendaraan kesayangannya.


"Oke. Persiapkan semuanya. Besok aku akan datang. Pastikan semuanya berjalan dengan baik." tuturnya tanpa basa basi.


Panggilan telepon pun terputus. Kini Dava kembali fokus pada jalanan di depan sana.


Tanpa ia tahu, jika di sini. Di rumah sakit. Ruth tampak mengemasi barang-barangnya. Tak perduli dengan Mbok Nan yang berucap dengan nasehat-nasehat untuknya.


"Non, sudah Non. Hentikan." tutur Mbok Nan.


"Sudah Mbok. Tolong biarkan saya melakukannya. Mbok cukup tunggu di mobil saja," Ruth berkata dengan lirih meski kekesalan di dadanya terasa ingin meledak.


"Non, mungkin Tuan Dava sedang menelpon kantor atau rekan kerjanya, Non."


"Mbok, nggak mungkin kalau Dava menelpon penting sampai selama itu. Nomornya bahkan sekarang sudah nggak aktif lagi Mbok." Ruth berucap tanpa henti seperti burung yang baru saja lepas dari sangkarnya.


"Mamah..." Putri menegur sang Mamah yang bahkan melipat selimut rumah sakit untuk ia masukkan di kopernya.


"Putri diam. Mamah lagi kesel ini. Putri nggak usah lagi nunggu Paman. Kita pulang sekarang. Mamah sudah sehat kok."


Bocah itu menggeleng sedih, pipinya menggembung karena membungkam bibirnya yang ingin menangis. Tangan gendutnya menunjuk arah tangan sang Mamah yang memegang sesuatu.


"Ya Allah, Non. Apa kata rumah sakit nanti kalau selimut mereka Non bawa." Mbok Nan langsung mengambil selimut itu.

__ADS_1


Ruth menghela napasnya kasar dan merapikan rambutnya. "Sudah. Ayo kita pulang. Kalian, pergi sana. Tidak perlu mengawasiku lagi."


Entah apa yang membuat kemarahan Ruth mendadak meledak saat itu. Wajah pucatnya pun berubah menjadi merah menahan kekesalan.


Semalam Dava tidak tidur bersamanya, pagi pria itu baru datang dan hanya menciumnya kemudian pergi lagi tanpa banyak berucap. Ruth benar-benar tidak bisa merasakan sikap acuh suaminya yang seperti itu.


Jika selama ini ia cuek, namun Dava terus saja memperlakukannya dengan hangat.


"Apa tujuanmu, Dava? Apa kau mau mempermainkan perasaanku setelah kita sepakat untuk memulai semuanya dengan cinta? Apa maksud ini semua?" batinnya ingin sekali protes.


Tok Tok Tok


Suasana mendadak hening. Ruth menatap pergerakan pintu ruangan yang perlahan terbuka.


Dava mengernyit heranĀ  melihat dua koper berdiri tegak di depannya. Matanya menatap beberapa pria yang tertunduk di dekat pintu.


"Ada apa ini?" tanyanya cemas mendekat pada sang istri.


"Aku mau pulang." jawab Ruth dengan ketus.


Dava meraih dua pipi sang istri dan menangkupnya. Tangannya kembali bergerak menyentuh kening sang istri.


"Dokter siapa yang menyuruhmu pulang? keadaanmu belum membaik, Ruth." tutur Dava hendak keluar dari ruangan namun di cegah oleh langkah seisi ruangan itu.


Mbok Nan, Putri, dan beberapa pria yang bertugas menjaganya meninggalkan keduanya di ruangan.


"Ruth! Ruth, katakan ada apa?" Dava benar-benar bingung menghadapi sang istri yang berwajah begitu sinis padanya.


"Pergi! Pergi dengan Alanamu. Jangan pikirkan aku. Aku bisa mengurus hidupku sendiri. Minggir." Ruth sekuat tenaga mendorong tubuh suaminya dan berlari keluar ruangan itu.


Ia begitu terbakar api cemburu. Sejak semalam dirinya benar-benar tidak tenang karena Dava terus mengurus kesibukannya. Mulai dari kerja di depan laptop dengan duduk di sofa hingga kali ini baru datang lagi menjenguknya.


Dava yang seorang diri di dalam ruangan bergegas mengejar sang istri. "Tuan, Non Ruth cemburu karena ponsel Tuan tadi di telpon selalu sibuk." Mbok berucah saat Dava ingin berlari mengejar Ruth.


"Astaga...terimakasih, yah Mbok. Kalian pulang saja. Saya akan mengurusnya." Dava berlalu.


"Ronal, cepat lajukan mobilnya." pintah Ruth yang sudah berhasil mengunci pintu mobil yang ia naiki.


Tok Tok "Ronal, buka!" Dava berteriak di luar mobil.


Namun Ruth tampaknya benar-benar meminta pria di depan untuk mengunci pintu.


"Urus sana Alanamu." cibir Ruth dengan wajah sinisnya.

__ADS_1


Pintu terbuka, dan Ruth membultkan matanya saat melihat Dava berhasil meraih tubuhnya.


"Dava, hentikan!" teriaknya meronta saat tubuh langsing itu sudah di bopong sang suami kembali menuju rumah sakit.


"Dava!"


"Turunkan aku!" rontanya memukuli punggung sang suami.


Dava tak bergeming. Langkahnya terus menuju ruang rawat sang istri. Semua mata bahkan memperhatikan mereka dengan menggelengkan kepala dan tertawa.


Sosok pria yang bersikap seperti seorang ayah yang membawa paksa anaknya pulang saat bermain tanpa kenal waktu. Seperti itulah kiranya bayangan yang bisa di tangkap.


"Non Ruth...ada-ada saja." Mbok Nan terkekeh bersama Putri memperhatikan tingkah Dava.


"Baring!" pintah Dava yang baru meletakkan tubuh sang istri di tempat tidur, namun Ruth langsung ingin bangun.


Ia pun menghentikan tubuhnya untuk berontak. Matanya menatap marah sang suami.


"Diam di sini, atau aku akan meminta hak ku malam ini dengan paksa?"


Deg!


Pertanyaan yang sama sekali tak pernah terpikirkan olehnya selama ini yaitu menjalani kewajiban sebagai seorang istri sepenuhnya.


"Hah? Apa dia meminta itu? Bagaimana ini?" Ruth tak berani bergerak. Tubuhnya terasa kaku saat itu juga.


Tatapan Dava yang selalu terlihat hangat mendadak sangat dingin. Napasnya pun terliha terengah-engah usai menggendong sang istri di lorong rumah sakit.


"Tunggu di sini. Berani pulang, berani melayaniku."


Ruth diam seribu bahasa menatap punggung sang suami yang bergegas keluar ruangan meninggalkannya seorang diri.


"Laki-laki selalu saja berbuat semaunya. Pulang pergi sesukanya, sedangkan wanita apa? harus patuh...tuh...tuh dan patuh!" gerutunya memukuli bantal di ranjang pasien.


"Permisi, Nyonya Dava." suara pria tegas membuat Ruth meneguk kasar salivahnya.


"Ruth, katakan yang sejujurnya." Dava ikut berucap dengan tatapan dalamnya.


Wajah Ruth benar-benar tak bisa tenang melihat siapa yang datang. "Dava, apa-apaan ini? Aku hanya ingin pulang. Aku bukan melakukan tindakan kriminal." protesnya gugup melihat pria berseragam polisi masuk ke dalam ruangannya bersama sang suami.


"Ruth..."


"Dava, apa begini caramu berjanji memulai semuanya dengan cinta? Kau bebas pergi dan pulang kapan saja. Sedangkan aku? Aku hanya ingin pulang. Tidak perlu sampai harus di kawal seperti ini. Pak Polisi, apa anda tidak memiliki kasus sampai harus menemuiku?"

__ADS_1


Kepanikan Ruth benar-benar menghilangkan akal sehatnya. Pasalnya ia begitu takut dengan polisi semenjak kejadian lenyapnya keluarga tercinta dan ia hanya mendengar kisah memilukan dari sang Mbok yang menjadi saksi detik-detik akhir orangtuanya pergi.


Dava heran melihat sikap sang istri yang tampak ketakutan, wajahnya putih seputih mayat, keringatnya bercucuran di seluruh keningnya.


__ADS_2