Perjuangan Cinta Nona Ruth

Perjuangan Cinta Nona Ruth
Chapter 37. Epilepsi Simptomatik


__ADS_3

Tak perduli dengan dinginnya malam dan kesunyian, kemarahan tetaplah kemarahan. Meski sudah jelas saat ini jika Dava telah resmi menjadi suami dari wanita yang paling ia benci.


Mata Dava tampak hilang kesabaran sudah kali ini. Tangan kekar itu segera bergegas membawa sang istri ke punggungnya.


Ruth yang melihat perlakuan sang suami pun menurut. Ia mencuri pandang pada ayah mertuanya yang baru saja tiba.


"Aku katakan terakhir kali. Berhenti mencampuri rumah tanggaku!" Dava benar-benar berteriak sekencangnya pada sang ayah.


"Dava," Tuan Iwan kembali ingin bersuara, namun Dava lebih cepat menggending tubuh istrinya tanpa berucap apa pun lagi.


Kehadiran sang ayah sama sekali tak ia hiraukan.


"Brengs*k!" umpat sang ayah yang melihat tingkah anaknya.


ia berjalan mengejar langkah Dava.


Brak!! Nyaringnya suara pintu membuat tubuh Mbok Nan yang sedari tadi mematung menyaksikan pertunjukan langsung tersentak.


"Dava!" teriak Tuan Iwan kala hempasan pintu membuatnya tak berhasil masuk ke dalam ruangan sang menantu.


Pintu sudah terkunci dari dalam. Ruth terdiam saat sang suami meletakkan tubuhnya di atas tempat pembaringan rumah sakit.


Tak perduli dengan keributan di luar kamar, Dava terus memperhatikan sang istri yang sudah ia berikan selimut dengan penuh perhatian.


Ruth tak berani mengatakan apa pun setelah mendengar suara tinggi sang suami di luar tadi. "Tidurlah, aku akan menemanimu." Dava duduk di kursi sebelah ranjang sang istri.


"Apa tidak dingin tidur di kursi begitu?" Ruth bertanya seolah mencemaskan keadaang sang suami.


Dava terdiam sejenak, dan kemudian bergerak membaringkan tubuhnya di sebelah tempat tidur sang istri.


"Hah," Ruth terkejut melihat aksi Dava.


Tempat tidur yang begitu sempit membuat keduanya saling berdekatan tanpa jarak. Bahkan saat ini Dava sudah memiringkan tubuhnya menghadap sang istri agar bisa memberikan tempat lebih banyak untuk Ruth.


"Sudahkan? aku sudah tidur denganmu. Sekarang kita istirahat."


Ruth yang menatapnya bingung, membuat Dava tersenyum.

__ADS_1


Cup


Satu sentuhan bibir Dava mendarat di kening wanita itu.


"Ya Tuhan...kenapa dia salah sangka sih? Aku kan hanya kasihan, bukan menyuruhnya tidur di sini denganku." Ruth memilih memejamkan matanya meski debaran jantungnya tak henti-henti terus ingin melompat dari tempatnya.


Ini adalah pertama kalinya ia tidur dengan suaminya secara sadar. Karena sebelumnya ia sudah terlelap kala Dava berbaring di dekatnya.


Malam semakin dingin, perlahan-lahan suara ribut di depan ruangan itu pun menghilang. Berganti dengan suara dengkuran napas teratur pria tampan yang berbaring di sampingnya.



"Sepertinya Dava sudah tidur." batin Ruth merubah posisinya untuk tidur menyamping.


Hatinya merasa bahagia melihat wajah yang menyejukkan hati setiap yang melihatnya, terlebih dari jarak dekat sepertinya saat ini.


Postur wajah yang benar-benar sangat sempurna layaknya lukisan seorang pangeran. Ia tersenyum sembari tak hentinya menatap wajah, bibir, hidung, mata, dan terakhir alis.


Tanpa bisa memejamkan matanya, kini Ruth memilih untuk menikmati pemandangan yang Tuhan suguhkan padanya malam ini.


Sedangkan di sini, seluruh penghuni rumah terlihat sangat panik kala mendengar teriakan histeris dari dalam kamar.


"Ada apa, Bu?" Deni berlari setelah mendengar teriakan sang istri subuh itu.


Matanya terkejut melihat sang istri menangis histeris memangku kepala sang anak. Sendi di sana sudah terlihat kejang-kejang dan sangat pucat.


"Dasar anak bodoh. Apalagi kau yang kau pikirkan Sendi?" umpat Deni menyadari jika sang anak terlalu banyak beban yang di pikirkan.


"Ayah, jangan memarahi Sendi, yah. Sudah cukup pemyakitnya membuatnya menderita." tutur Wuri menangis sembari mengusap pelu di kening sang anak.


"Yasudah. kita bawa Sendi periksa sekarang juga." Deni bergegas meminta supir untuk membantunya.


Semua pelayan tampak panik. Ini bukanlah pertama kalinya Sendi mengalami hal seperti ini. Namun, rasanya sudah cukup lama pria itu terlihat baik-baik saja.


"Sendi, bangun sayang." Wuri tak hentinya menangis sepanjang perjalanan menuju rumah sakit.


Ia tak perduli dengan reaksi dingin sang suami yang begitu acuh pada anaknya.

__ADS_1


"Sendi baik-baik saja, Bu. Jangan berlebihan seperti itu. Bukankah hal ini sering terjadi?" tutur Deni dengan acuhnya.


Wajah yang tadi tampak panik kini berubah menjadi ekspresi penuh dengan berbagai rencana untuk sang anak.


"Aku tidak menyangka jika penyakit Epilepsi Simptomatik bisa membawa keberuntungan begitu jauh dalam keluargaku. Hehehe tenang Sendi, bagaimana pun caranya Ayah tidak akan menyembuhkan penyakit itu padamu. Itu semua demi kebaikanmu, bukan? Dan juga kebaikan keluarga kita." Deni tersenyum licik di sela-sela tangisan sang istri yang terus memeluk sang anak di pangkuannya.


Tubuh tak berdaya terus sesekali bergerak mengejang.


Epilepsi Simptomatik adalah penyakit yang di sebabkan oleh ganggaun atau kerusakan pada otak. Itulah yang menjadi penyebab Sendi kerap kali mengalami kejang-kejang hingga tak sadarkan diri.


"Setidaknya aku sudah berbaik hati bukan sampai saat ini? kalau saja aku tidak menyelamatkanmu saat kecelakaan itu, mungkin kau akan hidup di alam lain saat ini, Sendi. Yah sedikitnya aku bisa menjadi Ayah yang berhati baik karena menyelamatkanmu."


Deni mengingat masa silam saat dirinya membawa Sendi pertama kali hingga membuat sang Ibu begitu terkejut.


 


***


"Tuan, sepertinya pasien harus menjalani serangkaian pengobatan dahulu untuk pemulihan penyakitnya. Kamu akan memeriksa lebih lanjut setelah ini." ujar sang Dokter setelah baru saja selesai memeriksa keadaan Sendi.


"Terimakasih, Doter. Lakukan yang terbaik untuk anak kami, Dok." Wuri berucap dengan penuh harapnya. Namun, tak di sangka jika sang suami berucap yang mengejutkan dirinya.


"Tidak. Tidak perlu Dokter." sahut Deni lantang.


Wuri dan juga Dokter itu terkejut mendengarnya. "Ma-maksud saya, itu tidak perlu di lakukan di sini. Saya membawa kemari untuk meminta pertolongan pertama saja. Saya ingin membawa anak saya berobat langsung keluar negeri." terangnya kemudian.


Dokter menghela napas lega mendengarnya. "Baiklah, Tuan. Saya pikir itu akan jauh lebih baik. Kalau begitu saya akan menguruskan surat rujukan dari rumah sakit ini, Tuan." ucap sang Dokter ingin bergegas pergi dari ruangan pemeriksaan, lagi-lagi Deni mencegahnya.


"Tidak, Dokter. Kami sudah memiliki Dokter disana. Jadi tidak perlu repot-repot seperti itu." tolaknya dengan tegas.


"Ayah," Wuri merasa berat jika sang anak kembali di bawa ke luar negeri.


"Ibu mau ikut atau tidak terserah. Ayah akan membawanya kesana."


Mendengar tuntutan sang suami, ia hanya bisa menggelengkan kepalanya. "Sendi, apa yang harus Ibu lakukan? kasihan kamu, Nak. Maafkan Ayah dan Ibu, Sendi. Ibu tidak berani melawan ayahmu. Kamu yang kuat yah, Sayang."


"Ayah, tolong jangan buat Sendi semakin melupakan keluarganya, Yah. Sudah cukup ini semua, Ayah." tutur Wuri membujuk sang suami.

__ADS_1


"Wuri, jangan berani memerintahku sekali pun. Ingat! Aku yang berhak atas Sendi. Aku yang membawanya pada kita. Ini semua untuk Dina, Wuri."


__ADS_2