
Jika terkadang kita jatuh terpuruk kala merasakan penderitaan yang teramat sangat, janganlah sesekali mengeluh terlebih mengatakan jika sang kuasa begitu tidak adil. Nyatanya di luaran sana begitu banyak yang mengalami ujian yang jauh lebih sakit dari kita.
Semua Tuhan berikan tentu karena ia tahu batasan yang mampu dan tidak untuk kita hadapi. Dan semua terjadi bahkan mampu menyadarkan pada diri kita sendiri.
Jika kita tak boleh sekali pun mengutuk kehidupan kita yang menyedihkan. Bersyukur, satu-satunya cara untuk kita bisa saling menghidupkan semangat pada diri sendiri.
Itulah yang Ruth rasakan saat ini. Matanya terasa panas saat menahan air mata kesedihan setelah melihat berita yang baru saja terlihat di ponsel milik sang suami.
"Dav, kasihan beliau." tuturnya tak bisa sampai hati melihat wajah pilu Nyonya Wuri yang terpampang di berita saat merentangkan kedua tangannya menghalangi untuk masuk ke dalam rumah miliknya.
"Ini semua sudah jalannya, Sayang. Ini hukuman yang pantas untuk mereka dapatkan. Semua yang mereka miliki adalah hakmu dan Sendi. Bagaimana mereka bisa bersenang-senang selama belasan tahun di atas penderitaan kalian?" ujar Dava sembari mengelus pipi sang istri yang terasa panas menahan kesedihannya.
Ruth sangat paham melihat kondisi wanita yang menangis di dalam berita itu. Hidup yang selalu galmour penuh dengan hura-hura, mendadak tidak memiliki selembar uang kertas pun.
Itu tentu sangat menyakitinya, terlebih suaminya saat ini sama sekali tidak bisa berdiri di sampingnya menghadapi kenyataan hidup pahit bersama.
__ADS_1
"Apa saat ini kita benar? mengambil semuanya dari mereka, Dav?" Hati lembut Ruth seketika meronta ingin merubah semua alur yang ia susun dengan rapi bersama sang suami.
Dava yang mendengar penuturan sang istri mendadak langsung menggelengkan kepalanya cepat. "Tidak, Ruth." ucapnya menolak keras lalu menangkup wajah sang istri dengan kedua tangannya.
Ruth mengikuti pergerakan tangan sang suami untuk menatap wajah tampan itu.
"Jangan menjadi wanita lemah, Sayang. Come on Ruth. Ini semua demi masa depan perusahaan D Group." Dava kembali mengingatkan perusahaan peninggalan sang mertua.
"Are you okay?" Dava sangat paham, istrinya sangat sulit meneguhkan hati jika sudah melihat penderitaan orang lain.
"Aku sungguh tidak tega, Dav. Aku benar-benar merasakan apa yang di rasakan mereka. Itu sangat menyakitkan rasanya."
Dava mengangguk paham mendengar penuturan sang istri. "Rasanya aku ingin memeluknya memberi kekuatan untuk mereka. Tapi, itu tidak mungkin..." ucap Ruth kembali melanjutkan ucapannya.
"Yuk..." Dava menarik cepat tangan sang istri keluar dari ruang kerja mereka berdua.
__ADS_1
Ruth berlari mengikuti langkah lebar sang suami. "Dav, mau kemana?" tanyanya terus berlari kecil.
Dava sama sekali tidak menjawabnya. Ia terus menarik tangan istrinya bahkan saat melewati Sendi yang baru saja keluar dari ruangan kerjanya.
"Kak..." panggil Ruth namun sudah menghilang di telan lift.
"Apa yang harus ku lakukan, Ruth? Mengikhlaskanmu...rasanya itu terlalu munafik." Sendi tertawa kecut melihat dirinya yang saat ini tidak berdaya.
Tring Tring Tring
Dering ponsel membuat Sendi kembali tertarik dari lamunannya. Ia merogoh ponsel dalam saku celananya.
"Ibu," lirihnya melihat nama yang menelpon dirinya saat ini.
Jemarinya bergerak mengangkat panggilan. "Sendi! Tolong Ibu, Nak. Tolong Ibu, Sendi." Di seberang telepon Sendi bisa mendengar dengan jelas suara tangisan sang Ibu yang sangat histeris.
__ADS_1
"Bu...Ibu kenapa, Bu?" tanyanya cemas. Bagaimana pun sang Ibu selama ini sudah membesarkannya tanpa berlaku sekasar sang ayah.