Perjuangan Cinta Nona Ruth

Perjuangan Cinta Nona Ruth
Chapter 108. Debaran Jantung


__ADS_3

Tanpa terasa pikiran yang begitu membuatnya sedih, membawanya ke dalam situasi drop.


Seketika wajah segar itu kembali terlihat pucat, bahkan air mata sudah tak bisa di hentikan lagi. "Non! Non Ruth!" panggil Mbok Nan menggoyangkan tubuh Ruth.


"Ruth!" teriak Dava.


"Mamah!" tangis Putri yang ketakutan melihat sang Ibu sudah memejamkan matanya dengan deraian air mata di kedua pipinya.


"Ruth, hei bangun!" Sendi juga ikut mendekati sang adik saat itu.


Ia sangat takut melihat kedaan Ruth saat ini.


"Sendi, tolong siapkan mobil. Aku akan menggendongnya. Kita ke rumah sakit sekarang." Dava memerintah Sendi dengan sigap.


Suasana sedih di kamar, kini mendadak berubah menjadi sangat menegangkan. Baru saja tiba di rumah, kini Ruth harus di bawa kembali ke rumah sakit.


"Mamah..." Putri sudah menangis di peluk Mbok Nan.


"Sayang, sudah jangan menangis lagi. Mamah hanya di kasih vitamin sama dokter di rumah sakit kok. Ayo sekarang Putri harus ganti baju dulu." Mbok Nan berusaha membujuk bocah kecil itu.


"Enggak mau. Putli mau ikut Mamah, Mbok. Putli mau jagain Mamah, Mbok." tolaknya meronta ingin mengejar Ruth yang kini sudah berada di dalam mobil bersama dua pria.


"Eits...Putri nggak boleh marah begitu. Mamah sedang pingsan karena ada dedek bayi di perutnya. Putri nggak boleh loh ikut ke rumah sakit. Nanti mamah marah sama Putri gimana? Kasihan kan Mamah sudah sakit masih harus marah lagi karena takut Putri nangis terus." tutur Mbok Nan yang tak kehabisan akal saat itu.


Putri masih terdengar sesenggukan menahan tangisannya. "Tapi Putli kasihan sama Mamah, Mbok. Putli takut Mamah di jahatin olang di sana." bibir mungil dan polos itu sungguh berkata sagat manis. Mbok Nan pun menyadari betapa cintanya Putri pada Ruth selama ini.


"Iya, Sayang. Mbok tahu itu. Tapi...Putri jangan lupa, di sana ada Ayah dan Om yang akan jagain Mamah Ruth. Sekarang Putri harus pintar di rumah sama Mbok Nan. Biar Mamah nggak makin sakit mikirin Putri. Okey?" tuturnya mencolek ujung hidup si bocah menggemaskan tersebut.


Tangan keriput itu mengusap air matanya dengan lembut. "Ayo, sekarang Mbok temanin ke kamar. Ganti baju, makan siang baru bobo siang."


Meski terasa malas, namun Putri akhirnya bergerak untuk menuruti perintah sang Mbok.


Sementara di sini.


Dava dan Sendi sudah berada di depan rumah sakit.

__ADS_1


"Em...Dav." panggil Ruth dengan suara lirihnya.


Matanya terasa sangat berat saat ingin membukanya. Remang-remang hingga perlahan tatapan mata itu mulai terlihat jelas.


"Iya, Sayang. Jangan banyak bergerak. Kita segera tiba di rumah sakit sebentar lagi." ucap Dava mengusap lembut kening sang istri.


"Sendi, cepat lajukan mobilnya." pintahnya kembali.


"Rumah sakit?" tanya Ruth sontak kaget.


"Iya, Sayang. Kau harus di tangani dokter yang baik. Aku tidak ingin terjadi apa-apa denganmu dan juga anak kita." tutur Dava kembali menjawab pertanyaan sang istri dengan penuh perhatian.


Di depan, Sendi hanya bisa menjadi pendengar setia dan susah payah ia meneguk salivahnya mendengar panggilan sayang berulang kali di sebut Dava pada wanita yang ia cintai.


Ruth menggelengkan kepalanya cepat. "Tidak, Dav. Tidak. Aku tidak mau ke rumah sakit lagi. Kepalaku semakin sakit mencium bau obat."


"Hei, dengar Ruth. Keadaanmu saat ini tidak baik. Kita harus waspada." Dava memeluk tubuh sang istri dengan sangat erat.


"Dav, aku mohon kita pulang ke rumah. Aku tidak ingin ke rumah sakit lagi. Aku mohon." Ruth memelaskan wajahnya hingga air mata yang baru saja mengering kembali berjatuhan di kedua pipinya.


Sendi dengan sigap langsung melajukan mobil dan memutar haluan di arah yang tidak jauh. Mobil kini sudah kembali mengarah ke rumah mereka.


Ruth tersenyum lega dan memeluk tubuh suaminya erat. Ia berkali-kali menghujani Dava dengan ciuman lembut itu. Tak ada respon apa pun dari prianya kali ini.


"Sayang," panggil Ruth dengan kesal.


"Ada apa? Hem? apa ada yang sakit?" tanya Dava cepat.


"Ini." Ruth membawa tangan Dava pada bagian hatinya.


"Apa aku ada salah? Mengapa bersikap dingin sekali padaku?" Dava terdiam melihat mimik kesal sang istri.


Cup


Di ciumnya kening Ruth beberapa detik. Tidak ada kata-kata yang bisa Dava katakan pada sang istri kali ini. Ia tidak bisa mengatakan apa pun selain hanya perhatian yang bisa ia berikan. Hatinya selalu sakit jika terus bersuara.

__ADS_1


" I love you..." Ruth tersenyum lembut.


Dava hanya bisa mengembangkan senyumannya kali ini.


"Jangan lupa, dua minggu lagi sidang akan di laksanakan. Oh iya, kemarin saat sidang mereka mengatakan jika pihak kepolisian menemukan dua orang korban..." Sendi berucap dengan lugas. Ia tidak ingin Dava menyembunyikan hal apa pun pada Ruth.


Deg.


Dava terdiam meneguk kasar salivahnya. Matanya membulat mendengar penuturan sang adik.


"Dua orang korban? Siapa Kak? Apa mereka adalah Ayah atau Ibu atau kakak kita?" Ruth begitu antusias ingin mengetahuinya.


"Em, sayang. Sudah jangan memikirkan hal lain dulu. Biarkan semuanya aku yang mengatasinya. Okey?" tutur Dava mencegah perbincangan keduanya untuk berlanjut.


"Tapi, Dav..."


"Sssst. Jangan membantah."


"Dav, Ruth wajib tahu. Mereka adalah keluarganya." Sendi dengan cepat menyangkal Dava.


"Sendi, tolong saat ini lihat keadaan Ruth." Dava sudah meninggikan suaranya.


Ia sangat takut jika keadaan saat ini bisa menjadi ancaman bagi kesehatan sang istri dan juga keselamatan sang anak.


"Ruth, aku siapa?" tanya Dava sebelum wanita di depannya memohon dengan wajah penuh kesedihannya.


"Suamiku." jawab Ruth pelan.


"Kau percaya padaku?" tutur Dava menunjuk dirinya sendiri.


Ruth pun mengangguk cepat. "Baik. Kita bicarakan ini semua saat keadaanmu sudah membaik. Sekarang, biarkan aku yang mengurusnya. Semuanya!" Ia menegaskan kata semuanya agar Sendi tidak melewati batas berbicara pada sang istri.


Mata hitam Dava pun menajam ke arah spion mobil yang saat ini juga di tatapn oleh Sendi.


"Ada apa dengan Dava? Mengapa dia seperti aneh sekali sekarang. Ada yang tidak beres ini pasti. Yah, aku yakin." batin Sendi bermonolog dengan rasa penuh curiga.

__ADS_1


__ADS_2