Perjuangan Cinta Nona Ruth

Perjuangan Cinta Nona Ruth
Chapter 115. Menginginkan Dava Kembali


__ADS_3

Di dalam kamar, Dava terlihat sedang merangkai dasi di bantu oleh sang istri tercinta. "Dasimu terlihat sangat sedikit. Apa tidak ada dasi lain?" tanya Ruth memperhatikan dasi kerja suaminya yang hanya itu-itu saja.


Tangan Dava mengusap lembut rambut sang istri yang masih basah itu. "Semuanya aku tinggal di rumah. Tidak mungkin aku ke sana kan?" jawabnya kembali dengan pertanyaan.


"Nanti malam kita ke pergi beli dasi. Jam berapa kau pulang, Sayang?" tanya Ruth sembari tersenyum.


Kebahagiaan yang ciptakan suaminya dan anaknya pagi ini masih membekas di pikirannya. Sungguh pagi yang begitu indah untuk Ruth.


"Ini masih bagus. Beberapa dasi lainnya juga masih sangat bagus. Kita gunakan uang itu untuk lahiran anak kita nanti saja." terang Dava terdengar sangat menyedihkan.


Meski mereka saat ini tengah mengelolah perusahaan sendiri, namun bukan berarti mereka memiliki uang yang banyak seperti pemilik perusahaan pada umumnya.


Masih banyak modal yang harus mereka keluarkan kedepannya.


"Dav..." bujuk Ruth yang miris melihat sang suami.


Dava bekerja begitu keras tanpa upah. Tentu itu semua atas permintaannya sendiri. Sementara untuk biaya sehari-hari ia meminta sang istri yang memegangnya penuh.


Cup!


Dava mencium kening Ruth cukup lama. Ruth hanya menunjukkan wajah sedihnya melihat ketulusan sang suami padanya. Tanpa ia tahu, Dava tengah memberikan kekuatan pada dirinya sendiri saat ini.


Dava memejamkan mata, "Bagaimana aku bisa menjadikanmu adikku, Ruth? Hati ini begitu sakit menyangkal untuk tidak mencintaimu. Hati ini sakit..." jerit Dava menguatkan dirinya agar tidak menangis.


"Sudah. Sekarang ayo antar aku keluar." tuturnya tersenyum usai mengusap kedua matanya yang berkaca-kaca setelah terpejam cukup lama.


Namun sayang, Ruth sadar akan perubahan tatapan mata hitam itu. Ia menengadah dan menatap dengan dalam. "Dav, kau menangis?" ucapnya dengan bertanya penuh keyakinan.


"Tidak. Siapa yang menangis?" kilah Dava tersenyum secerah mungkin.


"Benar, kau menangis. Dav, aku mohon katakan ada apa?" tanya Ruth kembali menangkup wajah sang suami yang berusaha menghindar dari pandangannya.

__ADS_1


"Aku sakit, Ruth. Aku sangat sakit. Tubuhku lemah sekali, untuk berdiri pun aku sangat tidak kuat rasanya. Cepat atau lambat aku akan menjadi Sendi yang hanya bisa menangisimu tanpa bisa memelukmu seperti ini lagi. Apa kelak aku akan seperti Sendi yang hanya bisa menangis melihatmu bahagia dengan pria lain? Tidak. Tidak, Ruth. Aku sangat tidak sanggup jika itu benar terjadi. Aku tidak akan kuat."  Dava menatap sangat dalam netra cokelat yang menjadi penyemangatnya selama ini.


"Aku hanya bahagia memiliki keluarga saat ini, Sayang. Terlebih sebentar lagi akan ada baby ini di kehidupan kita."


"Entah dia akan memanggilku Ayah atau Paman? Aku sama sekali tidak rela hal itu terjadi." batin Dava usai mengatakan kebohongan pada sang istri.


"Ayo kita sarapan."


"Tapi, Dav-"


"Ssst...ayo. Tidak ada tapi-tapian. Aku harus segera ke kantor." ucap Dava menggandeng tangan sang istri menuju meja makan.


Di sana,  Putri tampak tersenyum lebar melihat kedatangan sang Mamah dan Ayah. Dava yang melihat ke arah rambut anaknya sangat tidak tega.


"Putri, sebaiknya biarkan Mbok Nan yang memperbaiki rambutmu. Itu sangat memalukan di depan teman-temanmu nanti." tutur Dava menyadari ketidak mampuannya dalam berkreasi rambut.


"Ayah, ini akan sangat bagus. Mbok Nan juga melakukan seperti ini setiap harinya. Nanti Putri akan pamer sama teman-teman di sekolah. Mana ada mereka punya ayah sehebat Ayah Putri. Iya kan, Mbok?" celetuk si bocah dengan melanjutkan kembali sarapannya.


"Iya saja deh. Dari pada panjang urusannya." batin Mbok Nan mencari jalur aman kali ini.


Semuanya mulai duduk di kursi meja makan, terkecuali Ruth. Mata cokelatnya menatap ke sekeliling menyadari sosok yang sudah tidak pernah ia temui belakangan ini.


"Mbok, apa Kak Berson belum juga pulang?" tanyanya dengan wajah khawatir.


"Em, sepertinya belum Non. Semalam Tuan Sendi tidak pulang. Kalau biasanya dia pasti pulang biarpun hanya mandi subuh dan ke kantor lagi. Tapi malam ini sama sekali tidak pulang." terang Mbok Nan yang menyadari Sendi sama sekali tidak membangunkannya malam ini untuk membuka pintu.


"Baiklah Mbok. Saya akan menghubunginya sendiri." ujar Ruth ingin mencari ponselnya ke kamar. Namun Dava segera mencegahnya.


"Sayang, sarapan dulu. Ayo." Dava menarik cepat tangan Ruth dan memintanya untuk duduk di sampingnya.


Akhirnya dengan keraguan, Ruth ikut sarapan bersama dengan yang lainnya.

__ADS_1


"Ini susunya, di minum dulu." pintah Dava memberikan segelas susu hamil untuk sang istri.


Sementara di rumah yang berbeda...


"Syukurlah, Sendi. Ibu sangat senang dengan keputusanmu kali ini, Nak. Maafkan Ayah dan Ibu yah?" Wuri menggenggam tangan Sendi di atas meja makan.


Dina yang terlihat tidak sehat setelah kejadian semalam di perintah oleh Sendi untuk istirahat khusus hari ini.


Di meja makan inilah, Sarah dan Wuri mendengarkan penjelasan Sendi saat usai sarapan pagi bersama.


"Sudahlah, Bu. Jangan membahas semuanya lagi. Aku tidak ingin mengingatnya lagi. Sudah cukup aku terluka, kali ini biarkan aku melupakan kenangan pahit itu dan memulai semuanya dari awal." tutur Sendi menatap sang Ibu penuh permohonan.


Wuri mengangguk. "Iya, Sayang. Ibu tidak akan membahasnya lagi. Sekarang pergilah ke kantor. Ibu akan membersihkan kamar kalian berdua. Setidaknya malam ini kalian bisa tidur dengan tenang di kamar yang bersih." ucapnya merasa kasihan karena semalam Sendi terpaksa tidur di kamar yang menjadi gudang rumah itu.


Sementara kamar satunya di tempati Sarah, Wuri dan juga Dina bertiga.


"Baiklah. Sendi pergi dulu, Bu." ujarnya mencium punggung tangan Wuri dan juga Sarah.


Dua wanita itu memilih untuk pergi kerja di jam yang agak siang. Mereka sudah menghubungi pihak kantor sebelumnya untuk mengganti shift kerja mereka.


"Wuri, kamu beruntung yah bisa kembali bersama anak kamu..." Sarah menatap pilu kepergian Sendi dari pintu rumah mereka.


Saat ini, dirinya hanya bisa tinggal bersama dengan Wuri tanpa merasakan kehidupan bersama keluarganya sendiri.


Mendengar penuturan itu, Wuri merasa sadar akan nasib temannya yang sama dengannya sebelumnya.


"Kamu yang sabar yah? Dava anak yang sangat baik. Bahkan sikapnya jauh lebih dewasa dari pada Sendi. Aku yakin kelak dia akan membawamu juga bersamanya..." Wuri merangkul bahu Sarah yang menunduk sedih di sampingnya.


Sarah tak bisa mengatakan apa-apa lagi. Ia hanya terisak dalam diamnya kali ini.


"Aku tidak bisa berharap apa-apa lagi, Wuri. Aku sadar semuanya yang kami lakukan tidak ada yang baik untuk Dava. Wajar dia tidak mengingatku sama sekali saat ini. Kami adalah orangtua yang pantas di lupakan. Bahkan hubungannya dengan Ruth pun sangat di tentang oleh suamiku...hiks hiks hiks."

__ADS_1


"Sar, kau tidak pantas mengatakan seperti itu. Apa yang kalian lakukan sama dengan apa yang kami lakukan. Sekarang saatnya kita memantaskan diri untuk mereka. Okey?"


__ADS_2