Perjuangan Cinta Nona Ruth

Perjuangan Cinta Nona Ruth
Chapter 223. Tamu Spesial


__ADS_3

Aluanan musik masih jelas terdengar dengan pasangan-pasangan yang saling menikmati acara pernikahan itu.


Hanya ada beberapa tamu yang tidak bisa ikut berdansa karena memang tidak memiliki pasangan untuk berdansa.


Sedangkan pasangan utama yang kini masih terlihat saling menatap perlahan mulai semakin dekat, Dava mampu mengikis jaraknya dengan sang istri.


"Biaiklah. Sekalipun tidak bisa melakukan itu, tapi aku ingin merasakan ini." Di kecupnya lembut bibir sang istri dengan penuh perasaan.


"Putri!!" Tiba-tiba saja semua terkejut kala mendengarkan suara teriakan yang tertuju pada sepasang bocah di sana.


Musik sendu pun terhenti begitu saja. Sang nenek tampak berjalan cepat membelah keramaian sembari mengeratkan gendongannya pada sang cucu. Semua mata pun tertuju pada wanita tua itu. Termasuk kedua anak angkatnya yang bau saja melepaskan bibir mereka karena ikut terkejut.


"Nenek?" suara Putri menyapa sang nenek dengan senyum tanpa dosanya.


"Putri, tidak ada dalam catatan Putri berciuman, Nak." Tarisya segera menarik sang cucu agar melepaskan diri dari pasangan dansanya.


"Nenek, Putri ikutin Mamah dan Ayah tadi." tuturnya dengan sangat polos.


Tak lama, Ruth dan Dava pun segera datang menghampiri sang bunda. "Bunda, ada apa?" tanya Dava penasaran ulah apalagi yang di perbuat oleh sang anak.


Tarisya yang tak habis pikir dengan pendengarannya hanya bisa menghela napas kasar dan menggelengkan kepalanya. "Anak kalian ini sudah membuat jantung Bunda hampir copot." jawab Tarista masih menimbulkan tanya pada anak-anaknya.


"Ayah, Mamah, Putri cuma ikutin Mamah sama Ayah saja. Enggak ngapa-ngapain kok." Bocah kecil tersebut terlihat menyengir polos.

__ADS_1


"Ikutin yang mana maksudnya, Bunda?" tanya Ruth yang masih ingin memastikan lagi.


"Memangnya yang mana lagi kalau bukan aksi bibir itu? Hah kepala Bunda mau pecah rasanya lihat anak dewasa kalian ini." tutur sang Bunda yang memilih membawa Putri pergi dari sana.


Jika biasanya anak kecil akan merasa sedih usai di tegur, berbeda halnya dengan Putri. Wajahnya sama sekali menunjukkan kesedihannya. Bahkan ia tersenyum lebar dan melambaikan tangannya ke arah bocah laki-laki yang menjadi pasangan dansanya barusan.


"Dada..." begitu ucapan dari bibir mungil Putri yang hanya terlihat dari gerakan mulutnya saat jarak mereka sudah semakin menjauh.


"Dava, Ruth, pergilah ke depan. Para tamu sudah saatnya untuk bersalaman dengan kalian." pintah Sendi sembari menggenggam tangan Dina.


Kedua mempelai itu pun menurut. "Baiklah." jawab Dava dengan wajah tanpa ekspresi.


Setelah usai kekacauan yang di buat sosok Putri, kini musik kembali terdengar sangat tenang. Musik yang perlahan menggiring para tamu undangan berjalan menuju ke pelaminan.


"Selamat Tuan Dava dan Nona Ruth. Semoga kebahagiaan terus menyertai kalian."


Tak henti-hentinya Dava dan Ruth mendapatkan ucapan dan doa tersebut. Senyuman di wajah mereka terus merekah kala bersalaman pada seluruh tamu undangan.


"Dav, mengapa aku tidak melihat Ayah?" Ruth merasa heran kemana perginya sang ayah, sementara para tamu undangan begitu banyak yang bersalaman.


"Ayah di depan sedang menunggu seseorang." jawab Dava yang memang tahu siapa tamu spesial mereka malam ini.


"Seseorang?" Ruth tampak mengernyitkan keningnya heran mendengar.

__ADS_1


"Ruth, ini minumlah. Kau tidak boleh kekurangan cairan." Dengan penuh perhatiannya, Dina membawakan segelas air putih untuk adik iparnya.


"Terimakasih, Kak." jawab Ruth terdengar kaku saat memanggil Dina dengan panggilan kakak.


Dari arah yang berbeda, kini tampaklah seorang wanita setara dengan usia bunda Tarisya, ia berjalan beriringan dengan satu pria yang tengah mendorong kursi roda pria lainnya lagi. Jika di total, ada dua pria dengan generasi yang sama.


Kening Ruth mengernyit melihat sang ayah di dorong oleh orang asing. Tidak, lebih tepatnya oleh pengusaha sukses di Kota Bandung.


"Dav, Ayah mengenal Tyan Fredi?" tanyanya dengan antusias.


Pasalnya Ruth adalah tangan kanan Sendi sewaktu mereka bekerja untuk membuat kaya Tuan Deni. Dan kalangan atas maupun menengah dalam dunia bisnis tentu saja ia tahu meski tidak semuanya.


"Tunggu Ayah saja yang akan menjelaskan padamu." sahut Dava dengan raut wajah yang sangat tenang.


Di depan sana para tamu undangan saling bersatu dengan rekannya masing-masing. Meja bulat yang berisikan lebih dari empat kursi seakan bukan hanya menjadi tempat perjamuan makan malam pernikahan.


Melainkan pembahasan kerja yang belum usai di pertemuan sebelumnya.


"Ayo kita kesana," Dava menggenggam tangan wanitanya malam itu.


Ia melangkah menyambut kedatangan satu-satunya tamu spesial mereka.


***

__ADS_1


Author mau kasih pengumuman sedikit yah...


Untuk chapter 224, kalian bisa baca di bab novel ini yang paling atas yah. Author juga bingung sepertinya hari ini ada gangguan di nt atau author ada kesalahan saat publikasi. Jadi babnya berantakan gitu.


__ADS_2