Perjuangan Cinta Nona Ruth

Perjuangan Cinta Nona Ruth
Chapter 113. Kepulangan Sendi dan Dina


__ADS_3

Malam yang sunyi kini membuat kedua orang yang tampak baru saja usai menikmati makan malam mereka segera meninggalkan restauran yang hampi tutup itu.


"Ayo," ajak Sendi menarik tangan Dina selesai ia membayar tagihan makanan.


Dina menatapnya tanpa mau melangkah.


Sendi pun menghentikan langkahnya dan segera menoleh ke belakang melihat sang istri. Cukup lama ia ragu untuk mengatakannya.


"Kita pulang ke rumah. Aku akan tinggal bersamamu." tuturnya dengan ekspresi seriusnya.


Lagi lagi Dina tercengang tak percaya. Bagaimana mungkin Tuhan sebaik ini padanya. Sungguh kejutan yang tidak pernah terduga sebelumnya.


Wajah terkejut tampak menahan senyuman bahagia. Dina tak bisa menahan lagi air mata kebahagiaan di sana. Ia meneteskan air mata hingga tak sadar lagi menghambur tubuhnya memeluk sang suami.


"Terimakasih. Terimakasih, Sendi. Terimakasih mau menerimaku kembali. Aku benar-benar berterimakasih atas kesempatan ini. Aku bahagia. Aku mohon jangan meninggalkanku lagi." tangisnya terisak di dalam pelukan sang suami.


Sendi tak mengatakan apa-apa lagi. Ia berdiam dan perlahan tangan yang ragu itu bergerak membalas pelukan sang istri.


Keduanya saling berpelukan. Sampai tak menyadari tatapan iri para pekerja di restauran itu.


"Sudah cukup. Ayo kita pulang angin malam sangat tidak baik." tutur Sendi menggandeng hangat tangan sang istri menuju mobil.

__ADS_1


Malam ini dan seterusnya ia memilih untuk tidur satu rumah dengan Dina, dibandingan tidur di rumah sang adik yang selalu membuatnya luka.


Mungkin memang benar. Lebih baik menata kedepan dari pada harus memandang ke belakang terus menerus. Jika saja ada harapan untuk cinta itu...mungkin aku tak kan mundur.


Tapi kusadari, kekuatan ikatan darah tidak akan bisa terkalahkan oleh apapun itu, termasuk cinta.


Ruth, kali ini aku mundur. Tetapi bukan karena tidak sanggup mempertahankan cinta kita.


Aku mundur, karena aku lelah dan yakin semuanya tidak akan bisa lagi bersatu.


I love you...


Seiring langkah kaki yang pelan itu, Sendi terus mengungkapkan isi hatinya. Ia menatap ke depan dengan tatapan optimis.


Dina dan Sendi masuk ke dalam mobil untuk pulang ke rumah yang tidak begitu luas. Di sana ada ibunya dan juga ibu dari Dava.


Di sisi lain, malam yang sangat gelap dan menampakkan kilatan petir membuat dua wanita paruh baya itu menatap ke luar rumah bergantian.


"Ada apa, Wuri? Apa Dina belum juga pulang?" tanya Sarah yang menyusul langkah sahabatnya itu menuju teras kecil rumah mereka.


Wuri pun menoleh dan mengangguk. "Iya, Sarah. Aku khawatir dengannya. Keadaannya belum sepenuhnya sehat tapi dia terlalu bekerja keras di luar sana." terangnya dengan memeluk tubuhnya sendiri karena hembusan angin yang begitu dingin.

__ADS_1


Sarah pun mendekat padanya. "Sudah kau tenanglah. Dia anak yang pandai. Tidak mungkin tidak tahu porsi tenaga tubuhnya. Ayo kita masuk, mungkin sebentar lagi akan pulang. Aku akan mencoba menghubunginya." tuturnya dengan menatap wajah sang sahabat yang tampak penuh kecemasan.


Keduanya saling bersitatap lalu menatap ke luar halaman lagi. Rintik hujan pun mulai terlihat berjatuhan samar-samar.


"Ya Allah Dina, dimana kamu Nak? Ponsel pun tidak aktif." batin Wuri mengerutkan kelopak matanya.


Setelah memutuskan untuk masuk, keduanya pun menuju ruang tengah dan duduk di sofa. Menutup pintu rumah adalah cara aman untuk menghindari udara yang sangat dingin di tambah hembusan angin yang begitu kencang.


Heningnya malam di tambah suara petir mulai bersahut-sahutan membuat suasana rumah semakin mencekam. Tak ada percakapan atau pun suara televisi yang memecah keheningan.


Tin! Tin! Tin!


Suara klakson mobil terdengar nyaring di kala keduanya menahan rasa kantuk mereka yang teramat berat.


Wuri sontak membulatkan matanya. Ia menatap jam dinding yang menunjukkan pukul 11.30 malam.


"Apa itu Dina?" Sarah menatap Wuri dengan wajah penuh tanya.


Wuri tak menjawabnya dan langsung segera berdiri dan berjalan menuju pintu. Di bukanya pintu rumah dan benar, disana Dina turun dari mobil bersama seorang pria yang sangat mereka kenal. Sendi.


"Dina? Sendi?" Wuri bersuara dengan lirih.

__ADS_1


Apa yang terjadi dengan anaknya malam ini sampai Sendi yang datang mengantarkannya pulang? Apakah Dina melakukan kesalahan lagi pada Sendi? itulah yang di pikirkan Wuri saat ini.


__ADS_2