Perjuangan Cinta Nona Ruth

Perjuangan Cinta Nona Ruth
Chapter 89. Kesalahpahaman


__ADS_3

Di sini, Dava dan Ruth baru saja tiba setelah perjalanan yang cukup memakan waktu kurang lebih dua jam dua puluh lima menit.


"Sayang, Ruth." Panggilnya membangunkan sang istri setibanya pesawat di bandara.


Sejak perjalan, wanita itu memilih untuk memejamkan mata dari pada harus berdebat dengan sang suami.  Dava meminta sang istri untuk tetap fokus pada honeymoon mereka selama dua hari ini saja. Akhirnya, demi menyelesaikan masa karantina tersebut, Ruth mau tidak mau harus mengalah.


Wajah teduh dan cantik itu membuat Dava tersenyum menatapnya. Selalu saja membuatnya tak bisa menahan diri ingin mencubit pipi dan bibir kerucut sang istri.


"Hem...apa sudah sampai?" Suara lembut nan serak milik Ruth terdengar di telinga sang suami. Matanya menyipit menatap silau ke arah jendela.


"Iya. Ayo turun. Dava membantunya untuk keluar dari pesawat.


Perjalanan yang memakan waktu cukup lama, membuat keduanya semakin mesra saja di dalam sebuah mobil yang sudah Dava pesan saat di bandara menjemputnya. Kini mereka menuju sebuah pulau, dimana terdapat sebuah kapal pesiar yang akan menjadi tempat mereka berbulan madu saat ini.


Yah, berbeda dengan kisah pengantin lainnya yang akan memilih tempat berbulan madu di luar negeri. Keduanya memilih tempat inilah yang akan mereka jadikan kenangan manis masa karantina sepasang suami istri.

__ADS_1


Dua pasang bola mata yang berbeda warna kini sama-sama tertuju pada mentari pagi yang begitu indah di tambah pantulan air laut di ujung sana yang berwarna biru.


Dava berdiri di ujung kapal pesiar itu, bersama sang istri. Ruth tampak menyandarkan kepalanya di bahu sang suami.


"Maaf." ucapan yang tiba-tiba terdengar di telinganya membuat Ruth mengubah arah pandanya ke samping dan berbangun dari sandaran ternyamannya.


"Apa? Maaf? Atas apa, Dav?" tanya Ruth menatap dalam sang suami yang masih tak berubah tatapannya pada mentari di ujung sana.


"Atas segala penderitaanmu..." Dava menghela napas dan kembali berucap.


"Aku bukan suami yang bisa menghidupimu dengan layak. Bahkan hanya untuk berbulan madu pun aku memakai tiket yang sisa dari karyawanku dulu."


"Dav, suamiku...dengar. Berjuta-juta kata maaf darimu, tidak akan bisa di bandingkan dengan kebahagiaan yang terlukis di hari-hariku semenjak bersamamu. Jadi, aku sama sekali tidak menerima kata maafmu itu. Aku mencintaimu dengan tulus. Tidak pernah membandingkan apa yang kau punya dan apa yang orang lain punya untuk istrinya. Bagiku, kau adalah suami yang paling tepat untukku, untuk kebahagiaanku juga. I love you."


Ruth memeluk sang suami dan Dava juga segera membalas pelukan itu dengan hangat. Ia tak bisa berpikir lagi bagaimana jika dirinya terpisah dari sang istri yang sangat ia cintai ini? Hatinya sudah benar-benar tertutup untuk wanita lain.

__ADS_1


"Dav! Dava!" Suara Ruth bahkan terdengar mencuri perhatian para wisatawan yang ada di kapal itu juga.


Dava sudah berjalan menggendong sang istri menuju tempat mereka tidur sejak sampai tadi malam. Wajah Ruth tampak memerah dan secepat kilat ia menyembunyikan wajahnya pada dada bidang sang suami.


Ceklek! Pintu terbuka dengan cepat saat keduanya baru tiba di kamar.


Dava menurunkan tubuh sang istri dari gendongannya. "Pergilah mandi." pintah Dava yang kini duduk di sisi tempat tidur itu.


"Hah?" Ruth tercengang kaget mendengar perintah sang suami.


"Ada apa?" tanya Dava menatap wajah sang istri.


"Kirain mau itu..." Dava mengerutkan keningnya mendengar penuturan sang istri yang absurd sembari menggigit kecil bibir bawahnya karena malu dan tidak berniat untuk mengatakan kelanjutan ucapannya barusan.


***

__ADS_1


"Bagaimana jika kalian tahu yang sebenarnya? jika kalian berdua adalah saudara kandung, sama sepertinya juga?" Pertanyaan yang terdengar benar-benar seperti sambaran petir saat itu juga terasa menghunus ke jantung yang paling dalam.


Wajah teduh yang selalu terlihat menyejukkan berubah menjadi merah panas, dua mata hitam legam itu membulat tak percaya. Ia menggelengkan kepalanya beberapa kali sembari terus diam berdiri mematung.


__ADS_2