Perjuangan Cinta Nona Ruth

Perjuangan Cinta Nona Ruth
Chapter 226. Tiket Honeymoon


__ADS_3

Jika hari sebelumnya, Ruth yang kesulitan makan sebab menggendong sang bayi, kini hal itu berganti di rasakan oleh pasangan pengantin lama, yaitu Sendi dan juga Dina.


"Sebelum makan, Ayah akan memimpin doa, berhubung kita semua sudah bersatu dalam jalanNya tidak ada salahnya Jeff harus belajar melaui kehidupan sehari-hari." tutur Tuan Wilson.


Dava turut senang mendengarnya, karena sang ayah turut membantunya dalam proses belajar. "Terimakasih banyak, Ayah."


Semua mulai mengangkat kedua tangan mereka seraya mengikuti doa yang di lantunkan kepala keluarga itu. Dava juga sama, ia merapatkan kedua tangan dalam diamnya.


"Amin." seru semuanya saat doa itu usai.


Di saat yang bersamaan, terdengarlah suara klakson mobil dari arah luar. Dengan sigap ketiga pelayan baru di rumah itu berlari untuk menyambut tamu yang datang.


"Itu pasti mereka, Sya." ujar Tuan Wilson yang bisa menduga siapa yang datang.

__ADS_1


Seperti yang di ketahui, pagi ini Tuan Fredi dan sang istri akan kembali berkunjung ke rumahnya sebelum mereka akan kembali ke Kota Bandung.


"Assalamualaikum..." Nyonya Hana terlihat dengan senyuman yang sangat ramah menyapa keluarga Nicolas di ikuti pula dengan Tuan Fredi.


Usai sambutan yang hangat mereka dapatkan, semuanya kembali duduk di kursi meja makan dengan baik. Pun dengan sepasang suami istri lanjut usia itu.


"Ini, Pi. Mami suka sekali makan udang seperti ini." tunjuk Nyonya Hana pada lauk yang ada di dalam sendok makannya.


"Kalian ini...benar-benar mengalahkan pesona pengantin baru yah? lihat mereka saja masih cuek seperti itu." Tuan Wilson menunjuk Dava dan Ruth yang makan masing-masing tanpa percakapan.


"Sepertinya mereka harus banyak belajar dari kalian hahaha." lanjut Tuan Wilson terkekeh puas.


"Ayah...jangan seperti itu dong." ujar sang istri yang melihat ekspresi datar kedua pengantin baru di depannya.

__ADS_1


"Ehem...ini makanannya sudah seperti di restauran mahal sekali, yah Pi? Kita sudah keliling restaurant, yah seperti ini rasanya. Malah bikin nagih loh. Siapa yang masak?" celetuk Nyonya Hana sembari memejamkan mata menikmati nikmatnya makanan di mulutnya saat ini.


"Tentu Shandy yang memasaknya. Pagi ini kita makan menu yang tidak kalah spesialnya dari hasil tangan Mbok Nan." puji Tarisya yang memang mengakui masakan Mbok Nan dan juga anak perempuannya benar-benar nikmat.


Perbincangan hangat terus tercipta saat sarapan pagi di meja makan besar itu, hingga kini semuanya pun telah selesai dengan makan siangnya.


"Hem, rasanya saya dan istri tidak ingin pulang ke rumah setelah merasakan ramainya di sini, Wil," Tuan Fredi begitu senang dengan ramainya anak-anak sang sahabat. Sudah sangat lama ia tidak merasakan kehangatan berkumpul dengan sang keluarga.


Selama ini ia dan sang istri hanya sibuk bekerja lalu menghabiskan waktu untuk berlibur ke mana pun yang mereka inginkan.


"Tinggallah sedikit lebih lama di sini, Fredi. Kami akan sangat senang apa lagi jika kau dan Hana menginap di sini. Lihat kamar di sini masih banyak yang kosong. Kalian tinggal memilihnya saja." ujar Tuan Wilson menawarkan pada sang sahabat.


"Ah kau ini ada saja jawabanmu. Sudahlah, ini kami mau menyampaikan ini untuk pengantin baru yang masih segar ini. Shandy, Jeff, ini tiket honeymoon untuk kalian. Kembalilah dengan satu baby lagi," Nyonya Hana yang mendengar ucapan sang suami tersenyum dan menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


__ADS_2