
Ruth terus menatap wajah tampan sang suami yang tengah fokus menyetir saat ini. Yah, pria itu tak lagi membawa supir seperti sebelum-sebelumnya. Dia bukanlah pewaris tunggal perusahaan Nata Hensana lagi. Tetapi sebagai suami dari pewaris perusahaan D Group.
"Aku merasa sakit di kepalaku juga sama seperti itu, Ruth. Aku bahkan sudah banyak membaca hal yang berkaitan dengan itu semua. Dan banyak yang aku rasa sama. Maka itu, aku tidak mau kau gegabah. Okey?"
Ruth terdiam mendengar ucapan suaminya. Apa selama ini Dava hanya berpura-pura kuat di depan semua orang tanpa memberi tahu apa yang ia rasakan? Ruth terdiam membisu. Mendadak hidungnya terasa masam kala genangan air mata yang tadinya sudah hampir kering kembali timbul.
Tak perduli dengan apa yang terjadi saat ini, Ruth tak lagi bisa menahan rasa takutnya kehilangan sang suami.
"Ruth," Dava menengok ke arah bahunya. Ia sangat terkejut melihat sang istri yang sudah memeluknya begitu erat dengan suara tangisan yang tertahan oleh dada bidangnya.
"Dav, aku mohon jangan tinggalkan aku." Isaknya di dalam pelukan sang suami.
Dava yang mendengar hal itu merasa sedih sekaligus tersenyum kecil. Tangannya bergerak mengusap pucuk kepala sang istri.
"Hey...ada apa? Are you okay?" tanyanya sembari perlahan menepikan kendaraan dan menghentikannya.
__ADS_1
Di balasnya pelukan erat itu. "Aku tidak akan meninggalkanmu, Ruth. Jangan menangis. Itu hal yang mustahil untuk ku lakukan. Kau adalah istriku, nyawaku yang akan tetap bersama dengan jiwaku selamanya. Aku mohon jangan menangis lagi." Dava mengusap air mata sang istri kemudian meninggalkan kecupan dalam di kening wanita itu.
Ruth menatap mata penuh cinta pada sang suami. Ia begitu takut kehilangan pria di depannya saat ini. Meski di awal pernikahan mereka hanya sebatas ikatan pernikahan, namun siapa sangka jika datangnya cinta begitu jelas terasa dalam waktu yang singkat.
"Dav, aku takut..." lirihnya memeluk dan menengadah menatap wajah sang suami yang masih mengusap air matanya.
"Ssstt...tidak. Itu tidak akan terjadi. Tenanglah, kita selamanya akan bersama, istriku. Aku janji itu."
Setelah usaha Dava berhasil menenangkan sang istri, kini waktunya ia melanjutkan perjalanan mobil menuju kantor milik sang istri.
"Siang," Kali ini Dava yang menjawab sapaan tersebut. Sedangkan langkahnya menuntun sang istri untuk masuk ke dalam lift menuju ruang kerja mereka berdua.
Di sini, Dava tetap bersikap semestinya. Bekerja keras tanpa mau memanfaatkan kepemilikan sang istri yang ia jalankan bersama Ruth.
Semua karyawan tampak hormat dengan santun. Tak ada terlihat gerakan yang berani bergosip tentang posisi Ruth maupun Dava.
__ADS_1
"Dav, aku tidak konsentrasi untuk bekerja hari ini." Ruth menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi kerja miliknya.
Di seberang sana, Dava yang baru saja membuka laptop di depannya tersenyum, berdiri dari kursi dan kembali mendekat pada sang istri.
"Ingatlah ini kantor milik Ayah dan Bundamu. Apa kau rela akan terbuang begitu saja hanya karena masalalu yang belum usai sampai saat ini?" tanyanya dengan lemah lembut.
Ruth bungkam, ia bahkan tak tahu harus menjawab apa ucapan sang suami. Memang benar, ini adalah satu-satunya cara untuk ia bisa melihat kenang-kenangan yang tersisa dari kedua orangtuanya.
Meski pikiran sedang kacau, Ruth menguatkan diri duduk tegap dan tersenyum. "Semangat istriku!" Dava mengepalkan tangannya ke udara.
Ruth tersenyum melihat support dari sang suami.
"Terimakasih, suamiku." tuturnya tersenyum tak lupa ikut mengepalkan tangannya di udara.
Keduanya mulai duduk di kursi masing-masing, saling pandang sesekali tersenyum dan kembali menatap laptop di depannya.
__ADS_1
Tampak jelas wajah tampan Dava menjadi moodboster wanita itu untuk bekerja menitih kembali perusahaan yang sudah lama tidak beroperasi. Semua bahkan di mulai dari nol.