
Sirine mobil polisi terdengar riuh saat jam hampir berpindah pada angka lima. Subuh yang sudah sebentar lagi akan berganti menjadi pagi yang cerah benar-benar membuat mata pria yang ada di sana terjaga semalaman.
"Sialan! Dava! Apa yang kau lakukan?" teriakan Tuan Iwan yang benar-benar marah karena harus segera pergi dari kantor itu tanpa bisa mendapatkan sang anak.
"Puji Tuhan, terimakasih engkau maha baik." Dava mengusap dadanya lega karena berhasil menghindar dari sang ayah.
Di tatapnya kepergian banyaknya pria dari gedung itu dengan cepat. "Ayo Tuan, bahaya!" Salah satu anggota menarik lengan pria paruh baya itu untuk ikut bersamanya.
"Ruth, aku akan menyelesaikan semuanya hari ini, Sayang." ucapnya tersenyum lega.
Kini Dava melangkah keluar dari tempat persembunyiannya.
"Selamat pagi, Tuan Dava." sapa seorang polisi.
"Hem. Selamat pagi. Pak tolong kita periksa ke dalam. Mereka biarkan saja pergi. Di dalam dua teman saya masih belum keluar." Dava meminta di kawal demi keamanan dirinya dan anggotanya, serta berkas yang bersamanya saat ini.
"Hanzel! Tegar!" Teriak Dava menelusuri ruangan demi ruangan.
Semua lampu telah di nyalakan oleh pihak keamanan kantor saat itu. Kini Dava dan para polisi bisa dengan mudah mencari keberadaan dua pria yang di cari.
"Tu-aaan." Indera pendengar Dava yang sangat tajam langsung membawanya ke suatu rooftop perusahaan.
"Hanzel!" Mata Dava membulat saat melihat sosok Hanzel yang terikat di tiang yang menjuntai ke luar gedung.
"Cepat bantu lepaskan dia!" teriak salah satu komandan yang memimpin para anggota polisi saat itu.
"Siap, Dan." jawab mereka dengan serentak bergegas membantu Hanzel lepas dari ikatan di tiang itu.
"Tegar. Yah dia pasti di ruangan Ayah." Dava segera berlari menuju ruangan tujuan utama mereka tadi.
Di lihatnya Tegar yang sudah tidak sadarkan diri dengan wajah penuh luka dan muntahan darah segar dari mulutnya.
"Tegar. Tegar! Bertahanlah." Dava membantu tubuh yang sudah tak bergerak itu untuk keluar dari gedung yang benar-benar kacau saat itu.
Kini dua pria yang membantu Dava segera di larikan ke rumah sakit terdekat. Yaitu rumah sakit tempat Ruth masih di rawat hingga kini.
Kelajuan mobil tak lagi bisa di cegah oleh pihak kepolisian. Terlebih, di dalam mobil itu komandan mereka juga tengah menenami sosok Dava yang benar-benar menggila.
Beberapa mobil pagi itu beriring-iringan menuju rumah sakit. Demi keamanan, mereka akan terus memantau sampai selesai semuanya.
Dan kali ini, Dava tanpa mau membuang-buang waktu ia langsung menyerahkan sisa bukti yang ia punya.
__ADS_1
"Pak, ini bukti yang saya punya satu-satunya. Tolong anda proses. Saya percaya dengan anda." ucap Dava menyerahkan satu map yang berisi beberapa kertas di dalamnya.
"Hehehe...Dava. Saat ini hanya kita berdua. Berhenti bicara seserius itu. Tenanglah. Aku yang akan langsung turun tangan sendiri kali ini. Jangan khawatir."
Dava tersenyum mendengar ucapan polisi di hadapannya. "Terimakasih, Raf."
Polisi tampan di depannya bernama Rafael. Pria itu adalah polisi yang sering membantunya menyelidiki mafia yang berusaha memasuki akses perusahaan Nata Hensana selama ini.
Dan berkat hutang budi yang Rafael terima, kala Dava membantunya menemukan sang anak yang hampir saja kecelakaan, membuatnya sampai saat ini tak bisa berhenti untuk menolong sosok Dava.
"Dav, aku merasa pernah mengingat hal ini." tuturnya saat menatap lembaran kertas di depannya dengan kening mengekerut begitu dalam.
Dava terdiam. Antusias ingin mendengar kata selanjutnya.
"Paman!" teriakan sosok bocah menghentikan percakapan keduanya.
Dava dan Rafael menatap ke arah sumber suara.
Senyuman lebar terbit di wajah bocah itu. Ia menampilkan deretan gigi yang beberapa terlihat keropos.
"Raf, saya kesana. Tolong beri kabar saya tentang perkembangannya yah? Secepatnya saya akan ke kantor membuat laporan." Dava menepuk pundah temannya yang memakai seragam kebesarannya.
"Oke, Dav. Pergilah. Segera ke kantor jika sudah selesai. Beberapa anggota akan ku tinggal untuk mengamankan perjalananmu nanti." tambah Rafael.
"Sudahlah. Jangan menolak. Ikuti saja ucapanku. Demi istrimu hehehe."
Dava hanya menggelengkan kepala mendengar ucapan temannya tersebut. Keduanya pun berpisah dengan arah yang berbeda.
"Hap." Dava langsung menggendong tubuh mungil Putri dan menghujani ciuman di beberapa bagian wajahnya.
"Paman, geli!" teriaknya menggeliat merasakan sensai geli kala bulu-bulu halus di wajah Dava menusuk pipinya yang lembut.
"Bagaimana keadaan Mamah, Sayang?" tanyanya sembari melangkah menuju ruangan sang istri di rawat.
Karena tadi Putri berada di luar rumah sakit bersama dua pria yang menjaga Ruth. Bocah itu merasa bosan di ruangan sempit dan ingin bermain di sekitar taman rumah sakit. Alhasil dua pria itu terpaksa menemani Putri untuk bermain.
"Em...Mamah katanya sangat kangen dengan Paman." serunya terkekeh memeluk tubuh pria yang terasa seperti ayah kandungnya itu.
"Hem...benarkah? Putri berbohong dengan Paman. Ayo kita tanya Mamah." Dava terkekeh mendengar celotehan tumpis bocah tengil itu.
"Benel Paman. Kata Mamah tadi gini. 'kapan yah Paman pulang, Sayang. Kan Mamah nggak bisa tidul. Putli juga kangen kan? nanti kalo Paman datang jangan bolehin pelgi yah, Nak.' Gitu Paman."
__ADS_1
Dava dan dua pria yang mendengarnya terkekeh melihat wajah yang penuh ekspresi menjiwai sosok Ruth saat berbicara di peragakan oleh Putri. Bocah yang berusia jalan enam tahun itu.
Ceklek! Suara pintu terbuka.
"Dari mana saja?" Pertanyaan ketus itu sontak membuat Dava terdiam dan menurunkan tubuh mungil Putri.
Ruth menatapnya tajam. Dava tersenyum, ia bahkan belum bisa menjelaskan semuanya saat ini karena masih sedang dalam proses.
"Bagaimana keadaanmu?" tanyanya tanpa menjawab pertanyaan sang istri barusan. "Tuh kan, Mamah kangen." ucap Putri berbisik pada dua pria yang masuk bersamanya barusan. Namun, Ruth dan lainnya masih mampu mendengar bisikan sang bocah.
"Aku ingin pulang." Ruth berucap dengan wajah dinginnya.
Pikirannya benar-benar kacau saat mendapati sang suami tidak ada bersamanya.
Dava mengusap kening istrinya dan mendaratkan sentuhan bibir itu di kening yang sudah tak lagi pucat. "I love you."
Di peluknya sang istri yang terdiam. "Aku menyelesaikan semua yang harus ku selesaikan." terangnya sembari menatap dalam mata sang istri.
"Bukan untuk menemuinya?" pertanyaan Ruth yang tak tahu menuju ke siapa membuat Dava mengerutkan keningnya bingung.
Bahkan saat ini, manik mata yang kecoklatan itu tampak berembun. Ia jelas menahan tangisnya saat ini.
Entah mengapa rasa takut kehilangan itu tiba-tiba muncul kala melihat sesosok wanita yang dengan tegasnya mengatakan jika Dava adalah miliknya. Dan dialah yang datang di tengah-tengah hubungan mereka lalu merusak semuanya.
"Ruth, dia siapa?" tanya Dava menggenggam kedua lengan sang istri.
"Alana..."
Alana...Alana...Alana...
Kata-kata itu langsung terngiang-ngiang di kepala Dava. Ia bahkan langsung menjauhkan tubuhnya dari tubuh sang istri yang sedari tadi di dekatinya.
Matanya tergerak kesana-kemari tanpa berucap satu kata pun. Dan hal itu membuat Ruth semakin takut hingga tak mampu lagi menahan air matanya.
"Alana, katamu? Untuk apa wanita itu kemari? Apa yang dia lakukan, Ruth? Apa dia berbicara sesuatu denganmu?" tanya Dava menyelidik.
"Jadi benar, Dava? Dia Alanamu? Dia wanitamu?" tanya Ruth tak menyangka jika suaminya mengenal wanita itu.
Awalnya ia hanya berpikir jika ini adalah salah satu trik dari orang di luar sana yang tidak menyukai hubungannya dengan sang suami. Dan berniat untuk menghancurkan hubungan mereka.
__ADS_1
Dava memeluknya kembali. "Jangan memikirkan hal buruk dulu. Aku suamimu. Dia bukan siapa-siapaku. Aku tidak akan mencari hal dalam pernikahan kita, Ruth." Pelukan hangat itu membuat Ruth terdiam.
Ia masih menunggu kata demi kata yang suaminya ucapkan untuk menjelaskan apa yang mereka jalani selama ini? sejauh apa hubungan mereka.