Perjuangan Cinta Nona Ruth

Perjuangan Cinta Nona Ruth
Chapter 38. Satu Rajang Bertiga


__ADS_3

Hangatnya mentari yang menyapa pagi ini terlihat melahirkan suasana baru. Kilauan cahaya yang kekuningan membuat sosok wanita bermata cokelat terbangun dari tidurnya yang singkat.


Di tatapnya wajah yang masih berpose sedari malam tadi. Satu kata yang di ucapkan, "Tampan,"


Senyuman terlukis di wajahnya. "Mungkin ini cara Tuhan memberiku jodoh. Dengan memberiku banyak masalah dan kau datang sebagai pahlawanku, Dava." tuturnya dalam tatapan mata yang begitu dalam kali ini.


"Putri,"


"Mbok, Putri mau ketemu Mamah sama Paman, Mbok."


"Tapi, Putri. Mamah Ruth masih harus istirahat sayang. Nanti saja yah? tunggu Mamah sembuh dulu."


Ruth tersadar akan lamunannya kala mendengar perdebatan di luar kamar rawatnya.


"Putri," lirihnya kemudian bergegas menjauh dari sang suami.


Tangannya ia usap kala memaksa melepas infusan di punggung tangan itu. Pintu terbuka dan ia melihat wajah cantik sang anak.


Ruth tersenyum. "Putri, ayo Mamah temani di kamar Putri. Paman masih istirahat di dalam. Kita jangan ribut yah."


"Non Ruth, anda harus istirahat, Non." Mbok Nan tidak membiarkan Ruth pergi begitu saja.


"Tidak, Mbok. Saya sudah sehat. Biarkan saya bersama Putri dulu yah, Mbok?" ucapnya dengan memeluk sang anak.


Meski Ruth sadar akan tenaganya yang memang masih belum begitu pulih. Sedari ia berdiri dari tempat tidurpun pandangannya masih terasa berputar.


"Mamah, Putli kangen Mamah." Putri membalas pelukan sang Mamah dengan eratnya.


"Ehem," Suara khas pria membuyarkan kemesraan anak dan mamah saat itu juga.


"Paman," Senyuman lebar terbit di wajah mungil Putri.


Sedangkan Ruth menoleh ke belakangnya. Wajah tampan yang tidak habis-habisnya ia kagumi itu semakin membuat dadanya berdebar tak menentu kali ini.


Terlebih Dava saat ini melengkungkan bibirnya dengan senyuman yang begitu pas di wajahnya.


"Kalian berdua yah sama-sama bandel. Ayo sekarang biar Paman yang bawa kalian istirahat."


Dava meggendong dua tubuh sekaligus. Ruth berteriak begitu juga dengan Putri.


"Dava, apa yang kau lakukan?" teriaknya memberontak dalam gendongan sang suami.


"Paman, nanti kita jatuh ahahaha." Putri terkekeh dengan hebohnya.

__ADS_1


Mbok Nan tertawa seraya menggelengkan kepalanya. Matanya hanya bergerak mengikuti arah pergerakan tiga manusia yang menjadi satu kala itu.


"Kalian Paman hukum pkoknya. Tidak boleh turun dari sini sampai sembuh. Okey?" Dava meletakkan dua tubuh itu sekaligus di atas ranjang pasien.


Ruth tersenyum malu-malu. "Kamu ini apa-apaan sih?" tanyanya tak habis pikir dengan sang suami yang beraninya menggendong mereka tanpa bertanya apa pun dulu.


"Sssst. Jangan ngomong dulu. Kalian juga di hukum tidak boleh bicara, kecuali Paman yang berbicara. Okey?"


"Oke. Tapi Paman juga harus temani kami tidur di sini. Bagaimana?" Kini Putri yang bersuara dengan senangnya melihat kehangatan yang Dava berikan padanya.


Dava berpikir sejenak. "Oke siapa takut. Paman akan dua puluh empat jam di tempat tidur ini. Asal...kalian sembuh."


Ruth yang mendengarnya langsung menggelengkan kepalanya. "Putri, jangan begitu sayang, Paman harus bekerja di kantornya." ucapnya mengingat siapa sosok Dava.


Jika ia seenaknya tidak bekerja, bisa saja kemarahan sang ayah akan kembali di tuduhkan padanya. Ruth lah penyebab semuanya menjadi berantakan, Dan ia tidak mungkin menginginkan hal itu terjadi, pikirnya.


"Tidak, Ruth. Jangan pikirkan apapun. Yang utama adalah kesehatan kalian berdua. Aku bisa mengatasi semuanya. Tenanglah." Lagi-lagi ucapan Dava membuat Ruth tak bisa menyangkalnya.


Pria yang menjadi suaminya sangat dan sangatlah baik. Andai hubungan pernikahan mereka terjalin karena cinta mungkin saat ini ia ingin sekali langsung memeluk sang suami karena merasa begitu di cintai. Tapi Dava bukanlah orang yang ia cintai. Bagaimana mungkin ia bisa secepat itu akan melepaskan kepercayaannya pada pria yang kali ini berhasil mencuri hatinya?


 


Mbok Nan yang sedari tadi hanya menjadi penonton merasa bingung harus melakukan apa. "Em...Non Ruth, Tuan Dava, Mbok keluar dulu carikan sarapan untuk kalian yah. Kalian bertiga istirahat saja."


Mbok Nan justru merasa tidak enak hati mendengarnya. "Tapi Tuan-"


"Mbok, pulanglah. Dan mampir ke resotran untuk sarapan. Ruth, bolehkan?" Dava berucap kemudian bertanya pada sang istri.


Ruth yang sedari tadi tercengang langsung segera menganggukkan kepalanya cepat. "I-iya, Mbok. Pulanglah beristirahat. Mbok sudah capek selama ini mengurus saya bahkan Putri. Sekarang waktunya Mbok tenang di rumah yah." tutur Ruth sembari tersenyum meski dalam hatinya ia gugup jika kembali bersama Dava dan Putri tanpa adanya orang lain di satu ruangan. Bukan, lebih tepatnya satu ranjang yang sangat kecil ini.


"Baik, Non. Tuan, saya permisi dulu." Mbok Nan menganggukkan kepalanya lalu membungkuk untuk undur diri.


Di sini terjadilah keheningan.


Ruth menoleh ke samping melihat wajah tampan yang menatapnya juga.


Sedangkan si bocah Putri hanya menengadah melihat dua wajah yang lebih tinggi darinya saling pandang memandang. Ia terkik geli di tengah-tengah.


"Mamah, Putli kan kangen. Putli juga kangeeeen banget sama Paman ganteng." Dava dan Ruth langsung mengalihkan pandangan mereka.


"Ada apa, Sayang?" tanyanya serempak.


"Hehehehe..." Putri menampilkan deretan giginya yang terlihat beberapa sudah kropos di sana.

__ADS_1


"Putli pengen di cium. Kayak di tv-tv itu loh. Papahnya yang sebelah sini." Putri menunjuk pipi sebelah kirinya. "Dan Mamahnya yang sebelah sini." Putri menunjuk pipi sebelah kanan.


"Em..." Dava dan Ruth bingung menjawabnya.


Tentu mereka berdua tahu perasaan seorang bocah yang begitu mengininkan kasih sayang dari kedua orang tuanya.


Dava dan Ruth juga merasakan hal seperti itu, itulah sebabnya mereka tidak ingin hal yang sama juga Putri rasakan.


 


"Putli hitung yah? satu...dua...ti...ga!" Suara lantang itu sukses membuat Putri memundurkan kepalanya dan tertawa cekikikan saat menyaksikan misinya berhasil.


"Emmmpp!" Dava dan Ruth saling membungkam bibir lawannya. Kedua pasang mata mereka pun membulat sempurna.


Wajah yang sama-sama putih seketika memerah saat itu juga.


Di bawah sini, Putri terlihat menangkup pipi gembulnya sembari menatap pemandangan patung hidup di depannya yang tak bergerak beberapa detik itu.


"Em...maaf." Dava memundurkan kepalanya.


Ruth hanya menunduk malu.


"Putri, lain kali nggak boleh begitu, Sayang." Ruth mengalihkan pandangan dan mencari topik pembicaraan pada sang anak.


"Ruth, jangan memarahinya." Dava membela Putri dan memeluk bocah itu.


"Ayo kita istirahat lagi. Semalam kita belum cukup tidur bukan?" Dava mencoba mencairkan kembali suasana di ruangan itu.


Tatapan Ruth masih tak berani terarah pada pria di depannya. "Ya Allah...Putri! Mamah benar-benar malu kamu kerjain begitu." batinnya.


"Paman, Putli kejepit kalo di cini." ucapnya saat membaringkan tubuhnya di tengah-tengah sang Mamah dan Pamannya.


"Hap!" Dava tak banyak bicara. Tangan kekar itu langsung membawa tubuh mungil Putri ke atas dadanya.


"Bagaimana? nyaman tidak tidur di sini? Lebih empuk bukan?" tanyanya seraya memeluk sang anak.


Putri tersenyum dan mengangguk. "Ehem...empuk sekali Paman. Putli senang deh bobok begini." Bocah itu membalas pelukan Dava dan mendaratkan satu sentuhan bibir mungilnya di kening pria itu.


Ruth yang berbaring di sebelah Dava tersenyum senang. Matanya terasa memanas manahan air yang ingin jatuh saat itu juga.


"Ya Allah...sudah cukup semuanya. Bolehkah aku egois? bolehkah aku meminta mereka tetap seperti ini selamanya bersamaku? Aku sudah bahagia dengan keluarga kecilku ini, Ya Allah..."


Sedarah bukan berarti sejalan. Begitu pun sebaliknya, tidak sedarah bukan berarti tidak sejalan. Terkadang memang rasa asing itu jauh bisa menciptakan rasa nyaman lambat laun. Di bandingkan dengan rasa nyaman yang begitu cepat di rasakan namun penuh dengan kepalsuan.

__ADS_1


Ketulusan yang kita berikan pada orang yang membutuhkan atau yang kita cintai, perlahan-lahan akan menembus jiwa yang keras. Selagi kita yakin, akan ada kebahagiaan setelah perjuangan.


__ADS_2