
Jika semua menginginkan waktu yang nyaman dan damai untuk menikmati masa tua, berbeda dengan sosok Iwan Sandronata yang di usianya saat ini masih harus berjuang memajukan perusahaan miliknya.
Bahkan tengah malam sekali pun ia akan tetap bergegas menuju ke perusahaan miliknya saat mendengar kabar terjadi sesuatu pada ruang kerjanya.
Bagaimana bisa semua penjaga keamanan yang di yakin ketat di perusahaan miliknya bisa dengan mudah di masuki dengan orang asing.
Andai ia tahu, mereka bukanlah orang asing. Semua pengawal yang beraksi termasuk orang-orang kepercayaan sang anak. Sementara Ruth, kepala pemimpin dari aksi tersebut adalah menantunya sendiri.
"Mari, Tuan." ucap pria yang berdiri di dekatnya saat itu.
Iwan melirik sekilas dengan tatapan penuh amarah pada pria tersebut. Jelas terlihat di wajah security itu beberapa bekas membiru.
"Cepat bawa rekaman cctv padaku." pintahnya tanpa banyak bertanya. Iwan lalu melangkah menuju ruang kerjanya di ikuti beberapa keamanan lainnya.
Manik mata yang terus menatap setiap sudut ruang kerjanya tampak menyipit. "Apa yang mereka cari di ruanganku?" tanyanya penasaran.
"Dokumen itu..." Iwan melangkah dengan cepat ke arah lemari yang tampak berantakan.
Tangannya bergerak membongkar setiap isi di lemari. Matanya membulat.
"Brengs*k!!" pekiknya menyadari benar berkas yang ia cari tidak ada.
Wajah putihnya memerah. Seluruh tubuhnya terasa begitu memanas.
Tok Tok Tok
Terdengar suara ketukan di ambang pintu ruangan kerja Tuan Iwan yang sudah terbuka sejak tadi.
"Ini Tuan rekamannya..." pria bertubuh tegap itu memberikan sebuah laptop yang ia bawa dan sang Tuan langsung menerimanya dengan cepat.
Jemari yang tampak berkeriput bergerak membuka rekaman video di depannya. Satu orang wanita dan lima orang pria bergerak terus menghamburkan segala berkas yang tersusun rapi di rak buku.
"Ruth! Kau benar-benar mencari masalah. Beraninya wanita itu."
"Arghhhh!!!"
Brak!!
Laptop yang ia dudukkan di atas meja terhampas seketika di lantai ruangan kerja miliknya.
Beberapa keamanan di kantor tersebut terkejut mendengar suara benda keras pecah. Namun tidak satu pun dari mereka berani masuk untuk melihat apa yang terjadi.
***
Malam yang tampak penuh dengan banyaknya lika-liku masalah kini terlewati dengan cepat. Suara hentakan sepatu dan lantai terus terdengar bergantian memenuhi setiap koridor rumah sakit.
Pagi yang cerah tampak memberikan semangat baru pada jiwa-jiwa yang tengah berjuang melawan setiap penyakitnya.
Semua gorden yang bernuansa putih pun terlihat memberikan celah untuk mentari memancarkan sinar indahnya di setiap ruangan yang baru saja di buka oleh seorang suster cantik nan ramah.
"Permisi, ini untuk sarapan pasien saya letakkan di sini." ucap sang suster setelah memastikan keadaan sang pasien.
"Terimakasih, Suster." ucap Roy yang bertugas jaga pagi ini. Sedangkan keempat temannya masih membagi tugas untuk mengambilkan pakaian Ruth maupun membersihkan tubuh mereka masing-masing.
Semalam, setelah memastikan Ruth tenang. Sang dokter langsung memindahkannya ke ruang rawat karena melihat tekanan darah sang pasien begitu rendah.
Pagi ini, wajah pucat meski masih terlihat cantik begitu sangat menyedihkan. Baru beberapa jam saja Ruth tertidur dan menghentikan ngigaunya memanggil pria yang bernama Berson.
Tok Tok Tok
__ADS_1
"Assalamualaikum..." ucap seorang wanita di balik pintu.
Roy berjalan membukakan pintu.
"Silahkan, Mbok."
"Mamah!" Putri sudah berteriak histeris kala matanya tertuju pada ranjang pasien yang memperlihatkan sang Mamah tengah menjalani perawatan.
Tak perduli dengan tubuhnya yang lemah, bocah mungil itu memeluk tubuh yang terbaring tak berdaya. Kemudian di susul oleh Mbok Nan yang ikut memegang lengan sang majikan.
"Non...apa yang terjadi, Non? Ya Allah Non Ruth kenapa bisa sampai seperti ini, Non?"
Suasana sedih di ruangan rawat itu membuat Roy bergegas keluar demi memberikan ruang untuk ketiga wanita tersebut.
"Putri...sudah sayang. Jangan menangis terus. Nanti kamu makin drop. Kasihan Mamah Ruth lihat kamu sakit terus kan? Yah...Putri sayang kan sama Mamah?"
Putri mengangguk. "Iya Mbok. Putli sayang banget cama Mamah Ruth." jawabnya menahan isak tangis namun tangannya masih melingkar di perut rata sang Mamah.
"Ya Allah bantu keluarga hamba kali ini. Ya Allah hamba mohon berikan jalan untuk kami semua, Ya Rabb." Mbok Nan sampai menitihkan air matanya berdoa dalam hati.
Tak kuasa melihat dua wajah wanita cantik yang sama-sama pucat di depannya saat ini.
"Ya Allah...jika hamba boleh meminta. Berikan hamba umur lebih panjang lagi. Kasihan Non Ruth dan Putri Ya Allah. Siapa yang mengurus mereka jika hamba sudah berpulang kepada-Mu? Kasihanilah anak yatim piatu ini, Ya Allah...Hamba rela Ya Rabb...jika harus mengabdi seumur hidup dengan keluarga Nicolas. Hamba iklhas..."
Kebaikan tak selamanya berupa materi. Begitu pula balas budi, tak selamanya mendapatkan hasil yang sama. Terkadang balasan akan jauh lebih besar di bandingkan apa yang kita berikan kepada oranglain. Begitulah yang di dapatkan keluarga Nicolas.
Kebaikannya pada Mbok Nan dahulu benar-benar menjadi sangat bermanfaat saat ini untuk anaknya yang tersisa hanya satu.
Sejenak wanita tua renta itu menggelengkan kepalanya kala mendengar suara mungil menyapanya. "Mbok,"
"Putli lapel Mbok. Mamah juga pasti lapel kan mulai cemalam Mamah cakit." tuturnya seraya memegangi perutnya yang entah sejak kapan keroncongan.
Tubuh yang berisi nan montok itu memang paling sulit dalam hal menahan lapar. Sesedih apapun pikirannya tetap akan perduli dengan perutnya.
Mbok Nan tersenyum mengusap pipi gembul sang bocah. "Tunggu di sini sebentar yah. Mbok kasih tahu pak penjaganya buat beli makan."
Putri mengangguk kemudian Mbok Nan keluar ruang rawat untuk menemui Roy.
Ceklek.
Pintu terbuka.
"Astagafirullahaladzim..." Mbok Nan terlihat mengusap dadanya karena terkejut.
Kini bukan hanya pria yang bernama Roy saja yang berdiri di sana. Namun kelima pria yang berbadan tinggi besar dan berpenampilan rapi berdiri di depannya.
"Ada apa, Mbok?" tanya Hanzel yang lebih dekat dengannya.
"Ah...i-itu anu...Putri mau minta makan. Boleh Mbok minta tolong dengan kalian sebentar?"
"Baik. Silahkan kembali ke dalam Mbok." pintah Hanzel kemudian langsung bergerak cepat membelikan makanan.
Sementara di ruangan kerja pagi ini, Iwan masih saja duduk termenung. Kepalanya sejak malam begitu pusing memikirkan berkas yang sudah ada di tangan Ruth.
Kursi singgasana terus mengayun mengikuti gerakan tubuh yang berusaha tenang itu. Bahkan tatapan matanya terus bergerak tanpa arah karena bingung.
"Kalau Deni sampai tahu...semua akan kacau. Bagaimana aku bisa mengatasi ini semua. Isi berkas itu sudah bocor. Arghhhh!!!"
__ADS_1
Sejak semalam pun ia tidak pulang ke rumah dan memilih berdiam diri di ruang kerjanya. Pekerjaan semua pun ia tinggalkan pagi ini begitu juga dengan rapat penting yang seharusnya ia pimpin.
Baju yang berseragam piyama, wajah yang kurang tidur tidak membuatnya goyah sekali pun untuk pulang hingga waktu berjalan cepat. Kini jam di dinding sudah menunjukkan pukul 12.00 yang artinya waktu jam makan siang dan istirahat bagi pekerja di perusahaan Nata Hensana.
Tak perduli jika di sini sang istri tengah mencemaskannya.
"Kemana sih Papi? jam segini masih belum pulang juga...Hari ini Mami kan rencana mau jenguk Dava?" tutur Sarah yang sejak tadi mondar mandir di depan meja makan.
Matanya sesekali melirik antara hidangan makanan yang mulai dingin dan ambang pintu yang terbuka dengan lebarnya.
"Bibi," panggilnya.
"Iya Nyonya..." jawab si Bibi dengan menunduk.
"Kalau Papinya Dava sudah pulang hubungi saya yah? Saya mau ke kantor polisi dulu sebentar. Mana rantangan buat Dava?"
"Baik, Nyonya. Ini Nyonya. Semoga Tuan Dava segera bebas yah, Nyonya."
Sarah mengangguk. "Terimakasih yah, Bi."
Pak Landu sebagai sopir mobil pun kini sudah melajukan mobilnya ke arah yang di tuju sang Nyonya. Terlihat jelas gurat kesedihan di wajah cantik yang tak lagi muda itu.
"Tuan Dava, ada yang ingin membesuk anda." suara seorang petugas kepolisian yang menjaga terdengar saat Nyonya Sarah baru saja tiba di ruang besuk sembari membuka gembok sel tempat Dava berada.
Dava tersenyum mendengarnya. Entah mengapa rasanya sungguh menyenangkan jika waktu yang ia tunggu-tunggu telah tiba. Jadwal besuk dan makan masakan sang istri.
"Apa ini rindu, Ruth?" ucapnya bertanya dalam hati. Dava melangkah dengan wajah yang terus tersenyum sembari memegangi dadanya yang berdetak begitu tak karuan.
"Mami," Wajah Dava yang tersenyum hangat seketika berubah kala melihat siapa yang datang kali ini menjengukanya. Langkah kakinya pun menjadi pelan setiba di ruangan besuk.
"Dava," Sarah bergegas mendekat dan memeluk tubuh sang anak.
Gurat kesedihan terlihat jelas di wajah cantik itu. Dava pun merasa sedih melihat tangisan sang Mami. Ia membalas sesegera mungkin pelukan yang sangat ia rindukan.
Namun wajah tak bisa berbohong, kali ini Dava merasakan ada yang kurang. Bukan kasih sayang dari Sarah, melainkan kehadiran sang istri yang membawakannya makananlah yang ia tunggu-tunggu.
"Mi, jangan menangis." ucap Dava hangat.
Isak tangis Sarah terus terdengar hingga tubuhnya pun bergetar. Ibu mana yang tidak menangis melihat putra satu-satunya mendekam di penjara. Dan semua permasalahan bahkan dari perusahaannya sendiri.
Ibarat kata, ibu manapun tidak akan ada yang rela anaknya di marahi sekali pun oleh ayahnya. Karena dirinya lah yang telah berjuang selama sembilan bulan mengandung. Merasakan apa yang ibunya rasakan. Hanya anaklah yang benar-benar murni hidup bersama sang ibu. Sementara suami, mereka hanyalah pria asing yang belajar hidup bersamanya dengan pertemuan yang tidak begitu lama.
"Papi kamu keterlaluan, Dava. Mami benar-benar tidak habis pikir dengan jalan pikiran Papi kamu? hiks hiks hiks."
***
"Tuan Deni!" teriak seorang wanita yang berwajah tak berdaya terus berteriak hendak masuk ke dalam rumah megah.
"Nona, hentikan."
"Nona, jangan gegabah." beberapa orang pria terus mencegahnya untuk masuk.
__ADS_1