Perjuangan Cinta Nona Ruth

Perjuangan Cinta Nona Ruth
Chapter 296. Kepulangan Dua Pria Tampan Bekerja


__ADS_3

Hari yang cukup melelahkan pasti setelah mulai pagi mata, pikiran, dan tangan fokus pada komputer dan juga kertas putih yang mengisi ruang kerja seorang pria berkedudukan tinggi di perusahaan D Group.


Namun, semua rasa penat itu hilang seketika terbawa hembusan angin sore yang begitu menyejukkan kala Dava memijakkan sepasang kaki jenjang miliknya di halaman rumah megah.


"Ye...Ayah sudah pulang sayang." Ruth bersorak melambaikan tangan sang baby yang ia gendong saat ini.


Keduanya pun memilih mendekat pada pria yang begitu mereka rindukan kehadirannya. "Putri mana, Sayang?" tanya Dava yang tak melihat keberadaan sang anak tercinta.


Tangannya di raih oleh sang istri dan mendapatkan satu kecupan di punggung tangan besar itu. "Nanti aku akan cerita, sini tasnya." Ruth enggan membicarakan hal yang tidak tepat dengan kepulangan sang suami.


"Assalamualaikum, Ayah, Bunda." sapanya dengan senyum hangat yang tentunya mendapatkan sambutan hangat dari pihak kelurga.


"Kak, Sendi belum pulang?" tanya Dina yang baru saja keluar dari rumah ingin menyambut kedatangan sang suami kala mendengar suara mobil terparkir di halaman rumah.


"Iya, Jeff. Dimana Berson? apa dia ada lembur?" sambung sang bunda tidak melihat kehadiran sang anak kedua.


Sekalipun Dava bukanlah anak kandung mereka, tapi tetap saja Tuan William tidak akan merubah apa yang sudah mereka jalankan sedari awal di perusahaan. Ketiga anak mereka akan tetap menjadi pemilik perusahaan itu bersama. Namun, untuk kedudukan ia menyerahkan pada anak-anak.

__ADS_1


Dan tentu saja dengan sikap dewasa yang di miliki ketiganya, mereka yakin dengan kemampuan Dava sebagai pemimpin perusahaan.


"Dia masih di mobil. Sebaiknya bangunkan saja dia suruh pindah ke kamar." tutur Dava pada Dina yang begitu terkejut mendengar sang suami tertidur di mobil.


"Baik, Ka." Dina pun meninggalkan semua keluarga yang tengah menikmati suasana di halaman rumah mereka.


Halaman dengan taman cukup luas dan juga beberapa kursi yang di sediakan khusus untuk berkumpul sore atau pun pagi hari.


"Nak, bawa suamimu ke dalam. Biar Rava dengan Bunda saja. Sini cucu Nenek." Tarisya mengambil baby Rava dari gendongan sang ibu.


Tertinggal sepasang suami istri yang sangat tua di kursi taman itu bersama sang cucu tampan mereka.


"Sya, biarkan Rava bermain di bawah. Tubuhmu sudah sangat tua tidak baik menanggung beban terlalu berat. Lihat badan cucu kita sudah sangat besar." ujar Tuan William yang menyadari waktu begitu sangat cepat terlewatkan.


"Lun mau lun." suara kecil Rava meronta ingin turun dari gendongan sang nenek sembari menunjuk ke arah bawah.


"Rava, Nenek masih ingin menggendongmu, Cu. Ayolah sayang."

__ADS_1


Tuan William yang melihat aksi berontak sang cucu dan wajah sedih sang istri hanya bisa menghela napas kasar. Istrinya begitu sangat keras kepala masih sama seperti dulu saat mereka zaman pacaran.


Di sudut lainnya, kini Dina membuka pintu mobil bagian tengah.


"Sen, hei."


"Sayang, bangunlah." Di elusnya pipi pria yang tengah menikmati jok empuk mobil itu.


"Sayang," panggilnya sekali lagi.


Namun sayang, Sendi masih saja enggan tersadar dari tidur lelapnya.


Dina merasa bingung, hanya helaan nafas kasar yang bisa ia keluarkan.


Tiba-tiba saja muncul ide jahil dalam benaknya kali ini untuk membangunkan Sendi.


Senyum Dina mengembang. "Hehe maafkan aku, Sen."

__ADS_1


__ADS_2