Perjuangan Cinta Nona Ruth

Perjuangan Cinta Nona Ruth
Chapter 181. Sandaran Ternyaman


__ADS_3

Begitu sedihnya dan hancur hati Dava karena cinta begitu tega mempermainkan hatinya. Saat ini bukan lagi soal ikatan darah yang menjadi penghalang cintanya, tetapi hal yang pernah menjadi syarat pernikahannya bersama sang istrilah yang menjadi penghalang cinta mereka kembali.


Setelah ucapan sang bunda yang membuatnya benar-benar patah hati, kini Dava memilih untuk menyendiri.


"Maafkan Jeff, Bunda. Saat ini ingin sendiri dulu untuk istirahat." tuturnya lemah tanpa sanggup menatap wajah sang bunda lagi.


Tarisya pun tak kalah sedihnya. Jeff bukanlah Jeff yang sesungguhnya. Pria tampan di depannya ini bukanlah darah dagingnya. Tetapi sekian tahun ialah sosok yang menjadi perebut hati wanita beranak tiga ini untuk yang pertama kalinya.


Bagaimana pun kenyataannya, Jeff tetaplah anak yang paling ia anggap sosok malaikat kecil pertama di hidupnya sebelum ada Berson dan juga Shandy.


Dengan penuh pengertian, Tarisya mengusap air mata dan mengangguk pasrah. "Baiklah, Nak. Bunda akan keluar. Tetapi jika kau butuh sesuatu katakan pada Bunda segera." tangannya bergerak mengusap lembut kening sang anak.


Hanya ada jawaban air mata yang terjun di ujung pelupuk matanya. Dava sungguh sedih saat ini, hatinya ingin sekali bersorak gembira atas takdir yang mengubah jalannya, tetapi ia juga ingin menjerit di saat yang bersamaan karena perih yang tiada terkira lagi.


Pintu kamar pun akhirnya terdengar tertutup pelan. Kini Dava tinggallah seorang diri, ia menatap hampa sekitar kamarnya.

__ADS_1


Sakit di tubuhnya pun tidak sebanding dengan sakit di dadanya yang terasa sulit sekali untuk bernapas.


"Hatiku lemah, Ruth. Hatiku benar-benar lelah kali ini..." lirihnya tampak menandakan perjuangan yang mungkin akan berakhir saat ini juga.


Berbeda suasana saat ini di meja ruang keluarga.


Tarisya yang baru saja duduk di samping sang suami yang baru ia bantu pindah dari kursi roda. Ia menyandarkan kepalanya pada bahu sang suami.


Keningnya terasa begitu sakit karena terlalu lelah menangis. Ia memejamkan mata sejenak.


Meski masih terbata-bata, Tarisya masih bisa mendengarnya dengan baik.


Seketika ia tersenyum meski senyuman itu tak bisa terlihat oleh sang suami yang ia jadikan sandaran saat ini.


"Ini semua sudah terjadi, Ayah. Bunda baik-baik saja. Tapi anak-anak yang tidak baik-baik saja, Ayah..." keluhnya dengan tetesan air mata yang jatuh di baju sang suami.

__ADS_1


Ia benar-benar bingung harus berlaku apa saat ini, semuanya begitu sulit untuk di selesaikan dengan baik.


"Aku paham perasaanmu, istriku. Percayalah pada Allah. Yang maha mendengar dan maha pengasih. Jalan pasti akan terbuka di kemudian hari, kita sebagai hamba hanya perlu bersabar dan ikhlas untuk menjalaninya, Sya." Perlahan-lahan ucapan itu mulai semakin lancar tanpa hambatan.


"Aku tidak sanggup melihat anak-anak kita rapuh, Ayah. Hati ini ikut nyeri sekali rasanya." tunjuknya pada dadanya sendiri.


Sekuat tenaga, Tuan Wilson ingin sekali mengusap kepala sang istri. Namun sayang tangan itu masih tak bisa bergerak sebaik bibirnya. Hanya ada getaran yang terlihat di lengannya saat ini.


"Tidak. Aku tidak akan mengeluh di depan Tarisya. Dia akan semakin sedih dengan keluhanku pasti. Aku harus tetap tegar saat ini. Ya Allah...berikan kesembuhan untuk hamba. Agar hamba bisa menjadi imam yang baik untuk istri dan anak-anak hamba." batinnya dengan penuh permohonan yang tulus.


"Ayah, Bunda." sapa Sendi yang terkejut melihat kedua orangtuanya tampak berwajah sedih di depannya.


Tangan yang semula memegang bahu Ruth seketika ia lepaskan begitu saja. Ia tidak ingin menjadi topik nasihat dari kedua orangtuanya meski saat ini status mereka sudah menjadi adik dan kakak.


Begitu pula dengan Tarisya dan Wilson. Mereka berdua langsung menatap ke arah Sendi dan juga Ruth. Ada air mata yang di usap oleh tangan Tarisya.

__ADS_1


__ADS_2