Perjuangan Cinta Nona Ruth

Perjuangan Cinta Nona Ruth
Chapter 192. Anjani Syif


__ADS_3

Pagi berganti siang, siang berganti senja. Di sinilah saat ini sosok pria tampan yang tengah meratapi jalan takdirnya. Di pantulan cahaya senja kala itu ia duduk menyandarkan tubuh yang lemah pada batu besar yang terletak di tepi pantai itu.


Indera mata yang begitu indah terlihat sangat mempesona saat merekam pergerakan lambat mentari di ufuk barat yang mampu membuat siapa pun takjub akan warna jingga yang ia ciptakan setiap senja itu. Indah memang, namun tentu saja tak seindah kisah hidup sosok pria yang tengah memandangnya dengan tatapan hampa.


Lelah, keputusasaan, hingga rasa sakit yang benar-benar mendalami jiwa Dava saat ini. Ia sendiri bahkan tak mampu mengatakan apa pun pada hidupnya. Semua terasa seperti kisah yang sangat rumit di novel hingga tidak bisa lagi menemukan jalan keluar menuju happy ending.


Dalam benak ia bertanya, apakah kisahnya akan menjadi salah satu kisah seperti di novel yang harus berakhir dengan sad ending?


Terpaan angin laut yang beriringan dengan suara ombak yang saling bersahutan membuat tempat itu perlahan-lahan tampak semakin sunyi.


"Tidak baik di waktu senja berada di luar seperti ini..." suara seseorang yang begitu asing tiba-tiba mengejutkan Dava.


Ia terperanjat dan menatap wajah cantik nan lembut di depannya. Kening milik Dava berkerut dalam, ia bertaya-tanya siapa wanita di depannya ini?


"Maaf, aku tidak mengenalmu." tutur Dava yang hendak pergi meninggalkan wanita dengan senyuman sejuta keindahan terpancar di bibirnya.


"Hei, tunggu." sepasang mata hitam legam milik Dava menatap ke arah tangan yang menggenggam lengannya.


Segera wanita itu melepaskan genggamannya dan berkata dengan lirih. "Maaf."


Ia sadar dirinya telah lancang  menyentuh seorang pria yang bahkan tidak ia kenal sama sekali.


"Aku tidak berniat mengganggumu. Tetapi...aku hanya mengingatkanmu jika saat ini sudah sore hampir gelap." tuturnya dengan lemah.


Ia sadar keadaan pria di depannya saat ini sedang tidak baik, oleh sebab itu ia mengkhawatirkan pria tampan yang sejak tadi selalu melamun seorang diri.


"Oh baik, terimakasih kalau begitu." Dava pun berucap tulus karena ia merasa telah melupakan tempat yang saat ini ia pijak.


Tempat yang begitu jauh dari pusat kota dan tentu sangat sepi jika di malam hari.


"Em." wanita itu tersenyum dan mengangguk tulus.


"Baiklah, sekarang kau bisa pergi. Aku akan segera pulang juga." tutur Dava mempersilahkan dengan sopan. Ia melihat keadaan di sekelilingnya memang sangat sunyi dan hanya tersisa mereka berdua.

__ADS_1


Dava sengaja memilih tempat ini karena memang tidak seramai pantai yang ada di dekat kota.


Melihat gelagat dari wanita itu, Dava menatap penuh tanya dengannya. Ia melihat jelas wanita itu menggigit bibirnya kecil seakan menahan diri untuk mengatakan sesuatu.


"Katakan." pintah Dava yang memalingkan pandangannya saat ini dari wanita yang berdiri bergerak kekiri dan kekanan itu.


Di ulurkan tangan kecilnya dan tersenyum. "Namaku...Anjani Syif. Kau bisa memanggilku Anjani atau apa pun yang kau suka." bibirnya terlihat tersenyum polos namun Dava masih tak menyambut uluran tangan tanda perkenalan itu.


"Apa kau masih ingin tetap di sini? Aku harus segera pulang." Dava melangkah ingin pergi meninggalkannya namun lagi-lagi wanita itu mencegah Dava untuk pergi.


"Hei...tunggu. Kau mau meninggalkan ku sendirian? Aku tidak bisa kembali ke kota sendirian." Anjani pun berteriak lantang menghentikan langkah Dava yang hampir saja menjauh.


Seketika, Dava menghentikan langkah dan menoleh ke belakang. "Aku bisa ikut pulang denganmu?" tanyanya dengan senyuman kecil yang di buat selucu mungkin meski penuh dengan permohonan.


"Pelase...aku tidak tahu harus pulang naik apa. Tadi aku pesan taksi online untuk datang kemari. Tapi...setelah ingin pulang, aku memesan taksi lagi tidak ada yang mau menerima orderanku." ia menangkupkan kedua tangannya penuh permohonan.


Terlihat Dava menghela napas kasar. "Cepat. Ayo ikutlah." ia berjalan meninggalkan wanita itu yang berlari kecil mengejarnya.


"Huh dasar tampan tapi cuek. Wajahnya dan suaranya saja yang seperti pria hangat. Tapi, perilakunya sangat dingin." terdengar gerutuan Anjani yang jelas saja membuat Dava memutar malas bola matanya.


"Aku hanya akan menjadi pria hangat pada Ruth, satu-satunya wanita yang ada di hatiku." sahut Dava menjawab meski hanya dalam hati.


Setelah beberapa saat, kini mereka sudah berada di perjalanan. Dimana Anjani duduk di samping Dava yang tengah fokus mengemudikan mobilnya.


Sesekali wanita itu menatap takjub dalam mobil Dava yang begitu menenangkan. Mobil yang terasa sangat terawat meski tidak terbilang barang mewah.


"Aromanya enak, sama seperti aroma tubuhmu. Aku tentu saja tahu itu adalah aroma bunga lily, bukan?" Anjani terus berceloteh tanpa henti.


Dava yang mendengar kata bunga lily kembali teringat dengan sosok wanita yang membuatnya hampir lupa dengan setiap jam yang terlewatkan hari ini.


"Ruth," ucapnya lirih namun masih bisa terdengar di telinga Anjani saat itu.


"Siapa itu? apakah dia wanita? Namanya seperti pria..." sahut Anjani kembali.

__ADS_1


Dava tak menjawab, dan ia melirik jam di pergelangan tangannya. "Astaga sudah hampir malam. Ya Tuhan..."


Dava sangat kesal lantaran melupakan wanita yang saat ini sedang di rawat di rumah sakit. Bagaimana ia bisa sampai melupakan mantan istrinya yang tengah tak berdaya itu.


"Huh aku berbicara dari tadi sama sekali tidak di sahutin juga." umpatnya kesal menatap Dava jengah.


Akhirnya dengan wajah cemberut, gadis mungil itu menghentakkan tubuhnya pada sandaran kursi mobil dan memilih untuk memejamkan matanya sejenak. Rasanya sungguh melelahkan setelah seharian bermain di pantai meski seorang diri.


Anjani Syif, gadis yang baru berusia dua puluh tahun. Berambut ikal berwarna cokelat dan masih bersifat sangat labil. Keceriaan yang ia miliki tentu membuat orang-orag di sekelilingnya merasa terhibur. Kecuali sosok Dava yang sungguh tidak akan tergoyahkan oleh wanita mana pun termasuk Anjani Syif.


Setelah perjalanan panjang, kini akhirnya mereka pun memasuki pusat kota yang begitu padat dengan kendaraan. Tanpa menoleh, Dava segera bertanya pada gadis itu.


"Dimana rumahmu?" tanya Dava dengan wajah yang tetap santai seperti biasa.


Mendengar suara yang sangat ia tunggu-tunggu sedari tadi, akhirnya Anjani langsung menegapkan tubuhnya dari sandaran kursi mobil Dava.


"Di jalan pangeran. Tapi...bisakah kau tidak mengantarkan ku kesana?" tuturnya dengan wajah yang langsung menatap Dava dengan ekspresi meminta belas kasih.


"Maksudmu? Lalu kau mau kemana jika tidak pulang kerumah?" Dava begitu terkejut mendengar ucapan gadis nakal di sampingnya ini.


"Bolehkah aku ikut denganmu untuk saat ini? Aku mohon..." ia berusaha membujuk Dava. Kedua tangannya pun sudah menyatu di depan wajahnya.


Mendengar ucapannya, sungguh Dava sangat terkejut. "Tidak. Kau harus ku antar ke rumahmu. Tidak mungkin aku harus membawamu pulang. Apa kata keluargaku? Kau wanita yang bukan siapa-siapaku." gerutu Dava enggan menuruti permintaan gadis kecil itu.


"Kak tolonglah aku. Aku tidak mau pulang ke rumah. Itulah sebabnya aku tidak membawa mobil pergi tadi. Karena mereka pasti dengan mudahnya menemukan keberadaanku. Please...kumohon, Kak. Aku sangat hancur saat ini. Biarkan aku tenang lebih dulu."  Kekerasan hati Dava seketika merasa lemah saat mendengar permohonan yang terasa sangat nyata saat ini.


Gadis di depannya yang sejak pertama ia melihat selalu tampak ceria kini berubah menjadi wanita yang menyedihkan. Kedua matanya bahkan terlihat berkaca-kaca menatap dirinya.


"Aku tidak pulang ke rumah. Tapi baiklah kalau kau membutuhkan tempat tinggal. Kau bisa tinggal malam ini bersama ibuku." akhirnya satu-satunya jalan, Dava akan menuju rumah sang ibu.


Mungkin hanya itulah jalan tercepat agar ia bisa segera kembali menemani Ruth di rumah sakit tanpa adanya gangguan dari gadis kecil itu, pikirnya.


Anjani pun tersenyum lebar. Ia tentu saja bisa menebak jika Dava adalah pria yang berhati baik. Tidak akan  mungkin tega menolaknya untuk ikut.

__ADS_1


__ADS_2