Perjuangan Cinta Nona Ruth

Perjuangan Cinta Nona Ruth
Chapter 196. Suasana Pagi Di Rumah Sakit


__ADS_3

Malam yang semakin larut membuat suasana di kediaman Nicolas tampak sunyi. Setelah kepulangan Sendi dari rumah sakit, mereka semua memutuskan untuk segera beristirahat usai makan bersama.


Di sini, sepasang suami istri yang masih terlihat asing itu tidur dengan posisi seperti biasa. Saling memunggungi tanpa ada percakapan untuk pengantar tidurnya.


Dalam hati yang terdalam, Sendi tentu menyadari raut wajah sang istri yang tidak seperti biasanya padanya.


"Mengapa sangat sulit sekali hati ini untuk melihat ke arahnya?" batin Sendi memejamkan mata.


Hati kecil dan tubuhnya seakan tengah berperang di dalam sana. Ada rasa ingin menyentuh dan mengatakan permintaan maaf yang sangat dalam, namun ada juga perasaan jika tubuhnya sangat menolak perlakuan itu. Sendi sangat dilema malam ini.


Di arah yang berbeda, Dina meneteskan air matanya. Ini adalah konsekuensi dirinya yang sejak awal sudah ia tahu. Sampai kapan pun pria yang menjadi suaminya itu tidak akan mudah mengubah nama wanita yang ada di dalam hatinya.


Ruth, satu-satunya wanita yang ia cintai dan tak akan pernah terganti.


Sedangkan dirinya, hanya wanita mandul yang tidak akan pernah bisa menjadi wanita sempurna untuk Sendi. Dan saat ini, ia hanya bisa menjadi istri yang baik untuk sang suami. Itulah satu-satunya jalan untuk membuatnya menjadi wanita berguna di dunia ini.


"Kau begitu beruntung Kak Ruth. Dua pria tampan sangat mencintaimu. Meski kau tidak bisa memiliki mereka salah satunya, tetapi hidupmu sangat di perdulikan oleh mereka. Tidak di acuhkan sepertiku." satu tetesan air mata jatuh saat itu juga mengantarnya untuk terlelap panjang dengan segala hal yang begitu menyedihkan hari ini.


Meski dua mata itu terpejam, tidak dengan hati dan pikiran. Dalam tidur pun ia terus memikirkan nasibnya yang menjadi istri tak di anggap.


Sungguh miris, namun pecayalah. Semua yang terjadi tidak akan terjadi begitu saja tanpa adanya sebab. Mungkin saat ini, Dina merasakan akibat dari apa yang orangtuanya perbuat di masa lalu. Begitu juga dengan dirinya yang turut bersikap semena-mena.


Perubahan seseorang tidak akan secara instan mendapatkan jalan yang mudah. Untuk menjadi kupu-kupu harus terlebih dahulu menjadi kepompong. Begitulah proses mengajarkan setiap perubahan akan melewati masa-masanya dahulu.


***


Gelapnya malam dan dinginnya udara malam itu kini berganti seiring bergesernya bulan yang perlahan tak terlihat lagi berganti dengan terangnya sinar mentari yang muncul di ufuk timur.


Samar-samar kedua kelopak mata yang terpejam dalam waktu panjang kini bergerak berusaha menetralkan penglihatan yang terasa begitu silau.

__ADS_1


Sungguh indah netra cokelat itu tampak tersinar kilauan matahari pagi yang berwarna kuning cerah itu.


Ruth baru saja sadar dari tidur panjangnya. Tubuhnya begitu nyaman saat merasakan waktu istirahat yang sangat lelap. Tak biasanya ia bisa tidur dengan tenang sepanjang malam. Itu semua bukan tanpa sebab. Malam ini Dava telah memeluknya hingga pagi menjelang pun mereka tak melepaskan pelukan itu.


Dengkuran napas yang terdengar teratur membuatnya menatap ke arah atas kepalanya. Ia begitu bahagia saat bari membuka mata yang ia lihat adalah wajah tampan sang mantan suami. Begitu besar rasa cintanya sampai saat ini. Tidak berkurang sama sekali bahkan jauh lebih bertambah besar rasa cinta itu.


Ada senyuman tipis di bibirnya, sungguh wajah ini yang selalu ingin ia lihat setiap pagi dan setiap malam saat ingin memejamkan mata.


Ruth mengangkat tangannya pelan, sangat pelan. Agar Dava tak merasakan sentuhannya. Di elusnya lembut rambut yang berantakan itu. Aroma tubuh Dava masih jelas tercium di hidung mancungnya.


"Aku tidak tahu, Dav. Sampai kapan hidupku hancur seperti ini? Bahkan untuk membenci mu pun aku tidak bisa melakukannya. Bagaimana bisa aku melanjutkan hidupku, Dav? Aku ingin, ingin sekali bisa memiliki kehidupan yang baik-baik saja seperti yang lainnya. Aku lelah terus terpuruk seperti ini. Tapi sampai kapan? Sampai kapan aku bisa merasakan hidup sesakit ini dan memilih bertahan untuk tetap menghadapinya?" Ruth sungguh rapuh ia bahkan berpikir jika harus pergi dari negaranya demi menghindari pria di depannya ini.


Mungkin dengan menjauh, dirinya bisa lebih kuat menerima kenyataan jika ia tidak bisa bersatu lagi dan akan memulai semuanya sendiri. Tapi bagaimana mungkin ia meninggalkan keluarga yang sudah sangat perduli padanya? Tidak, Ruth tidak akan bisa seegois itu pada keluarga meski bukan keluarga kandung.


Seketika, Dava mengerjap dan menggeliatkan tubuhnya. Namun pergerakan itu bukannya meregangkan pelukan pada Ruth, tetapi justru semakin mengeratkan pelukannya. Dava membuka matanya pelan. Ia melihat sepasang bola mata cokelat yang sudah menatapnya nanar.


"Sssst...pagi-pagi pantang mengeluarkan air mata." tutur Dava pelan dan meraih pipi Ruth.


Lagi-lagi ucapan Dava seolah membuatnya tak sanggup berkata apa pun. Ruth meleleh mendengar sapaan penuh cinta dari pria di depannya kini.


"Dav, ku mohon hentikan drama ini." Ruth berusaha melepaskan pelukan itu namun sekuat tenaga Dava mengeratkan pelukannya. Bahkan kedua kaki jenjang miliknya ikut serta melingkar di tubuh Ruth yang sudah besar itu.


Tubuh yang dulu sangat langsing bak model kini sudah menjadi tubuh yang berbentuk seperti pegunungan.


"Berikan aku waktu...jangan memintaku untuk pergi atau pun memaksa untuk acuh padamu. Di sini..." Tangan besar Dava mengusap perut buncit itu dan Ruth juga menatapnya.


"Ada anak yang kita tunggu-tunggu. Biarkan aku menikmati detik-detik saat aku akan menjadi seorang Ayah." Ruth tak sanggup berkata-kata lagi.


Apa kurangnya pria di depannya kini? Dava selalu bersikap baik dan hangat. Penuh perhatian dan begitu cintanya ia pada wanita dan juga calon bayinya. Cinta yang ia berikan tak pernah ada sebab, hanya ada cinta yang sangat besar untuk dua manusia yang paling berarti dalam hidupnya.

__ADS_1


Hanya saja takdir sedang menguji kebesaran cinta itu...


Tok Tok Tok


Tiba-tiba saja terdengar suara ketukan pintu dari luar. Mendengar suara tersebut, sontak Ruth sekuat tenaga mendorong pria yang berusaha mengurung tubuhnya sejak tadi.


Dava yang kebetulan sedang lengah karena mendengar suara ketukan pintu seketika berteriak mengadu. "Argh!!!"


Sembari memegangi bokongnya yang terasa begitu sakit, ia meringis dengan kuat.


"Dav, maafkan aku." Ruth sampai menutup mulutnya tak tega melihat Dava sudah terhempas pada lantai marmer rumah sakit.


"Shandy? Jeff? Ada apa, Nak?" Tarisya yang begitu terkejut saat membuka pintu menatap syok pada dua manusia yang ada di dalam ruangan rawat itu.


"Bunda..." tutur Dava dan Ruth bersamaan.


"Ah...aduh..." Dava masih merintih saat susah payah ia berusaha bangkit dari tempat ia terduduk saat ini.


"Ayo Bunda bantu, Nak. Kau baik-baik saja?" Tarisya yang keadaannya memang tidak begitu kuat akhirnya justru menambah masalah.


"Aduh...aduh..." ia merintih beberapa kali saat posisi tubuhnya sedang membungkuk.


"Bunda..." Sendi dan Dina yang baru menyusul segera memapah tubuh wanita tua itu.


"Aduh...Berson, Bunda rasa pinggang Bunda sakit sekali." Tarisya berjalan dengan posisi membungkuk karena kesakitan. Sedangkan Dava yang juga masih tak tertolong  merintih kesakitan.


"Bunda," Ruth menatap cemas sang bunda dan juga Dava.


"Ayo," Sedangkan Sendi mengulurkan tangannya untuk membantu Dava.

__ADS_1


Matanya menatap Dava dan juga Ruth secara bergantian. Bisa terlihat jelas wajah Dava yang masih baru bangun tidur menjelaskan jika mereka berdua pasti baru saja terbangun. Dan selanjutnya sebagai seorang yang matang, Sendi tentu tahu apa yang terjadi pada mereka berdua.


"Aduh...pinggang Bunda sepertinya encok, Dina."


__ADS_2