
Beberapa hari usai menjani perawatan di rumah sakit, kini sampailah Dava bersama sang istri tercinta di rumah yang mereka sangat rindukan. Wajah pucat itu berubah menjadi ceria saat mendapatkan apa yang ia inginkan beberapa hari belakangan ini.
"Sayang, terimakasih." Ruth memeluk sang suami saat keduanya berdiri di depan pintu utama rumah mereka.
Dava tersenyum kaku. Wajahnya yang hangat dan penuh cinta itu menggambarkan mimik yang berbeda saat ini.
"Maafkan aku, Tuhan. Maafkan aku, Ruth. Aku tahu ini adalah dosa yang terbesar karena lagi-lagi aku membiarkan semuanya terjadi tanpa sanggup mencegahnya." Dava tertunduk meratapi kesalahannya saat malam sebelum mereka kembali.
Ruth meminta haknya kembali sebagai seorang istri. Ia sudah tidak bisa lagi di kendalikan. Dava sadar mungkin selain alasan rindu, sang istri juga terpengaruh oleh keadaan hormon yang sedang hamil saat ini.
Malam penuh gairah mereka lewatkan di rumah sakit. Sungguh, Dava tak bisa melakukan apa pun. Ia lemah jika di hadapkan pada cobaan dari sang istri.
Ruth bergelayut manja memeluk sang suami, sementara Dava sedang membuka pintu rumah mereka.
"Mbok Nan sama Putri pasti masih di sekolah jam segini. Sekarang kamu beristirahatlah, Sayang. Ayo aku antar." Dava menuntun sang istri yang terus menatapnya penuh cinta.
"Hehehe...ada apa dengan jantung suamiku?" Ruth terkekeh menyadari kegugupan Dava saat ia menatapnya.
Dava pun menoleh saat mendengarnya. "Sudah, ayo. Jangan terus menggodaku." tuturnya mengusap pucuk kepala sang adik.
Semangat dalam dirinya rasanya sudah sirna saat ini.
"Apa hari ini kau akan ke kantor?" tanya Ruth yang memeluk dan menyandarkan wajahnya pada dada bidang sang suami saat mereka telah berada di dalam kamar.
"Iya, Sayang. Ada apa?" tanya Dava menatap wajah sang istri yang bersandar padanya.
"Um...aku masih kangen. Besok-besok saja yah ke kantor." Ruth mengeratkan pelukannya pada sang suami.
Ia bermimik manja ingin mendapatkan perhatian dari sang suami.
__ADS_1
"Aku harus ke kantor, Sayang. Jika seperti ini terus bagaimana aku bisa tahan untuk tidak menyentuhmu." batin Dava bermonolog.
"Dav..." panggil Ruth menarik kembali lamunan sang suami.
"Please...jangan pergi." Ruth kembali memohon padanya.
Dava hanya tersenyum tak berdaya. Ia tidak akan bisa menolak permintaan sang istri jika sudah bermimik menyedihkan seperti itu.
"Iya, Sayang." Tangannya menyisir rambut panjang sang istri dengan jemari besarnya perlahan.
"Aku tidak akan pergi. Tapi besok aku harus tetap bekerja. Okey?" Dava pun mengalah dan memejamkan matanya. Menyembunyikan wajanya pada ceruk leher sang istri.
Di sisi yang berbeda.
Suasana sunyi kini menjadi saksi seorang wanita yang tengah mengusap keringatnya tampak menyedihkan. Tatapan mata yang selalu tampak bahagia berubah kala melihat dirinya dan sekelilingnya.
Wajah penuh dengan tetesan peluh dan tubuh yang terasa sangat letih, Dina berdiri menatap sedih keadaannya saat ini.
"Ayah...lihat keadaanku saat ini. Hanya ini pekerjaan yang mampu aku dapatkan. Apa kau tidak menyesali semuanya saat ini?" batinnya sangat menyedihkan.
Pekerjaan sebagai cleaning service terpaksa ia ambil demi memenuhi keberlangsungan hidupnya bersama sang Ibu yang hanya mendapatkan bantuan tempat tinggal dari sang suami. Tepatnya adalah calon mantan suami.
"Hiks hiks hiks," Dina menangis dan mendudukkan bokongnya di pinggiran lantai.
"Aku tidak akan menyesal menjadi seperti sekarang ini. Aku melakukan hal baik. Tapi yang menjadi sesalku...mengapa Tuhan memberikan jalan hidupku dengan keluarga yang hancur berantakan seperti ini? Ayah...kau satu-satunya pahlawan untukku. Tapi mengapa kau memilih jalan yang sangat suram untuk putrimu ini."
"Bahkan pria yang kau pilihkan untukku pun tidak sudi untuk melihat lagi ke arahku, Ayah..." Dina menangis melihat betapa menyedihkan dirinya menjadi seorang cleaning servis, hidup bersama sang Ibu bekerja keras demi sesuap nasi.
Dari arah sudut lain, tampak sepasang mata menatap pilu pada sosok wanita cantik yang sangat berpenampilan kusam. Berbeda dari biasanya. Penampilan mewah dan wajah fresh kini tak lagi terlihat di sana selain buliran keringat yang membasahi wajahnya.
__ADS_1
Perlahan-lahan ia melangkah mendekati sang putri. Dia adalah Wuri, satu-satunya keluarga yang tersisa untuk Dina saat ini.
"Sayang," sapa Wuri meraih kedua bahu sang anak yang terduduk menangis.
Dina menengadah menatap wajah di depannya saat ini. Seragam yang sama dengannya. "Ibu..." tangisnya menjadi lebih sakit melihat kehadiran sang Ibu saat ini.
Wuri memeluk Dina begitu juga sebaliknya. Dina memeluknya dengan menyandarkan kepala di dada sang Ibu. "Ibu, maafkan Dina. Maafkan Dina yang tidak bisa membuat Ibu tenang di rumah. Dina benar-benar tidak berguna." keluhnya melihat dirinya yang memang selalu mendapatkan perlakuan manja dari sang Ayah.
Deni benar-benar membuatnya tidak bisa melakukan hal apapun tanpa kekayaan sang Ayah. Dan semuanya sudah terjadi saat ini.
Wuri menggelengkan kepala mendengar penyesalan sang putri. Ia tahu betapa kesalahan fatal yang di lakukan suaminya, namun semua sudah berlalu. Tidak akan ada gunanya menyesali terus menerus tanpa melakukan hal baik untuk ke depannya dan tetap fokus menata diri kembali.
"Sudah sayang. Jangan menangis seperti ini. Semuanya sudah terjadi. Kita sedang bekerja saat ini. Fokuslah untuk makan kita, jangan memikirkan hal lain di luar pekerjaan. Okey?" Di tatapnya penuh dukungan dua manik mata yang berkaca-kaca kini.
Dina meneteskan air matanya. "Dina akan berusaha yang terbaik untuk Ibu." ucapnya dengan wajah percaya diri.
Mendengar hal itu, Wuri tersenyum mengangguk. "Iya, Sayang. Lakukan yang terbaik. Tetapi bukan hanya untuk Ibu, melainkan juga untuk dirimu. Perjalananmu masih panjang, Dina. Jadilah wanita yang baik. Kelak, Allah tidak akan membiarkan wanita yang baik menjadi sia-sia di dunia ini." Tangannya bergerak mengusap air mata di kedua pipi sang anak.
Di bawanya tubuh mungil itu ke dalam dekapan hangatnya. Dina merasakan ketulusan kasih sayang dari sang Ibu yang tidak pernah ia rasakan saat ini. Matanya terpejam untuk beberapa saat.
Saat tangisan itu terhenti, kini berbalik. Justru Wuri yang menangis usai mendengarkan semua ketulusan sang anak untuknya.
"Bukan kamu yang salah, Nak. Ibu jauh lebih bersalah karena tidak bisa melawan ayahmu saat itu. Andai Ibu melawan, mungkin semua tidak akan menjadi seperti ini. Kamu akan tumbuh dengan didikan Ibumu sendiri dengan kasih sayang. Bukan dengan kasih uang ayahmu yang menjadikan dirimu seperti ini, Dina..." jeritan Wuri merasakan dadanya begitu sesak menyesali perlakuannya yang terlalu menjadi wanita penurut pada sang suami hingga menelantarkan anaknya sendiri dan merawat anak orang lain, Sendi.
Kini mentari yang masih malu-malu muncul tanpa di sadari sudah berada di atas kepala. Terik yang sangat menyengat membuat para penduduk bumi menghentikan aktifitas mereka dengan beristirahat dalam segala kerjaan yang melelahkan.
Berbeda dengan sosok bocah mungil yang berlari kegirangan dari arah kelasnya. "Yeee...Putli pulang. Mbok ayo cepat pulang, Putli nggak sabal ketemu Ayah dan Mamah." ajaknya menarik cepat tangan tua yang sudah berkeriput itu.
"Eh...sabar Putri. Mbok nggak kuat lari ngikutin kamu loh." ucap Mbok Nan menahan sekuat tenaga langkah cepat si bocah tersebut.
__ADS_1
"Ayo, Mbok. Putli mau cepet-cepet sampe lumah. Putli kangen banget sama Mamah." serunya dengan wajah yang begitu ceria.