Perjuangan Cinta Nona Ruth

Perjuangan Cinta Nona Ruth
Chapter 93. Kecemburuan Sang Istri


__ADS_3

Di dalam kamar tepatnya di sebuah kapal, kini tiga orang tampak saling diam. Ruth, Dava dan juga sang Dokter. Sesuai dengan praduga, Dokter tersebut curiga ada yang janggal dengan pasiennya kali ini.


"Sebenarnya ada apa dengan istri saya Dokter?" tanya Dava tak sabar menunggu hasil pemeriksaan.


"Em...begini, Tuan. Ada kemungkinan jika istri anda sedang hamil..."


"Ha-hamil, Dokter?" Dava membulatkan matanya tanpa mau menunggu kelanjutan dari sang dokter. Ia tersenyum melebarkan pandangannya ke arah sang istri yang juga terkejut dan tersenyum bahagia.


"Maaf, Tuan, Nona. Itu masih dugaan saya. Ada baiknya jika kalian melakukan tes kehamilan terlebih dahulu untuk memastikan ke akuratannya." lanjutnya tidak ingin memberikan informasi yang salah.


Kehamilan yang sangat dini membuatnya tidak begitu berani memastikan hal itu. Lagipula, ia juga bukan dokter kandungan. Tentu tidak begitu yakin dengan analisanya.


"Dimana? Dimana saya harus melakukannya, Dokter?" Dava sudah bergerak cepat ingin membawa sang istri setelah memeluknya sejenak.


"Iya, Dokter. Dimana kami melakukannya?" imbuh Ruth antusias.


Ia memeluk erat tubuh sang suami karena terlalu merasa sangat bahagia kali ini.


"Jika tidak menemui dokter kandungan, anda bisa membeli alat tes kehamilan di apotek terdekat, Tuan. Tapi saya rasa di sini tidak ada." ujarnya melihat keadaan mereka saat ini di atas laut dan sangat jauh dari pemukiman warga setempat.


"Baik. Ayo sayang. Kita pulang sekarang juga." Dava tak lagi mengingat jika saat ini adalah masa bulan madu mereka. Baginya kehadiran sang buah hati jauh lebih berarti untuk pernikahan mereka dan pelengkap kebahagiaan mereka.


"Iya, Sayang." Ruth bergerak ingin turun dari tempat tidur saat sang suami ingin meninggalkannya mengantar sang dokter.


"Ayo Dokter." ajak Dava mengajak keluar namun terkesan mengusir dengan halus.


"Ruth, mau kemana kau?" tanya Dava berhenti dari langkahnya saat melihat sebelah kaki sang istri turun dari tempat tidurnya.

__ADS_1


"Dav, aku ingin segera beberes pakaian." jawabnya dengan wajah tersenyum lebar.


Akhirnya, setelah sekian lama ia akan menjadi seorang ibu dari darah dagingnya sendiri. Hatinya begitu sangat bahagia, kini Tuhan telah mengirimkan pelengkap kebahagiaan untuknya, yaitu anak.


"Tidak. Berdiamlah di situ. Aku akan segera kembali." sahut Dava menatap tajam sang istri.


Melihat tatapan tajam sang suami, Ruth mengerucutkan bibirnya tak berani melanjutkan gerakan kaki itu menyentuh lantai.


"Hem...ada-ada saja pasangan ini." batin sang Dokter menggelengkan kepala geli.


"Ayo Dokter." Dava membuka pintu dan segera membawa Dokter itu keluar dari kamarnya.


Di luar, beberapa tim kesehatan sudah bergabung untuk pergi bersama sang Dokter. Sedangkan Dava, ia kembali masuk ke dalam kamar menemui sang istri.


"Dav..." panggil Ruth manja.


"Anak kita?" Ruth menatap jengah sang suami. Hatinya mendadak layu mendengar kata itu.


Matanya berair dan sukses jatuh begitu saja. "Apa kau hanya mencemaskan keaadannya saja?" tanyanya dengan wajah sedih.


Selama ini, dirinya begitu kesepian. Menemukan orang yang benar-benar membuatnya nyaman dari sikap perduli seakan merubah sikap dewasa sosok Ruth menjadi rasa takut akan terus kehilangan kasih sayang itu.


Saat ini, dirinya akan mengandung, atau bahkan sudah mengandung. Dan tentu saja perhatian sang suami akan terbagi pada sang anak.


"Ada apa, Ruth? Apa ada yang salah?" Dava menatap dalam mata sang istri yang sudah menampakkan wajah penuh kesedihan.


Ruth memeluk sang suami dengan menahan dada yang sesak. Ia sangat takut jika kehilangan perhatian dari pria yang membuatnya sangat bahagia ini.

__ADS_1


Tetapi, di sisi lain ia juga sangat ingin menjadi seorang ibu dan mencintai darah dagingnya sendiri.


"Apa kau sudah tidak perduli dan khawatir padaku?" tanyanya lirih dan memaksa terus mengeratkan pelukannya agar Dava tak melihat tetesan air mata yang jatuh di kedua pipinya saat ini.


"Ruth," Sontak Dava merasa ada yang aneh, ia mengerutkan keningnya.


Sadar jika ia telah melukai hati sang istri, tentu saja Ruth akan jauh lebih sensitif mengenai perhatian darinya. Pasalnya ia tahu bagaimana  perjuangan sang istri selama ini.


"Aku sangat mencemaskanmu, istriku. Tapi kita harus mengetahui keadaan anak kita. Apa benar kau hamil atau tidak?" Dava berucap dengan tutur kata yang sangat lembut seraya mengusap kepala sang istri.


Ruth pun mengangguk pelan. Ia menengadah menatap wajah sang suami yang masih ia peluk saat ini. "Ayo..." ajaknya.


"Ada apa denganmu? Apa kau khawatir jika aku tidak akan mengkhawatirkanmu lagi?" tanya Dava melihat rona kesedihan di wajah sang istri tercintanya.


Perlahan Ruth mengangguk ragu.


Cup!


Dava mengecup keningnya, ia bahagia memiliki istri yang sangat bergantung akan cintanya kali ini.


"Tidak. Itu tidak akan terjadi. Bagaimana aku mencintai Putri dan kau bersamaan, begitulah yang akan ku lakukan pada anak kita kelak. Kalian, tiga wanita yang akan menjadi cintaku sepenuhnya." Ada kelegaan tersendiri di dalam hati Ruth saat mendengar dan meyakini bagaimana sang suami selama ini berlaku padanya dan juga Putri.


Sama-sama besar perhatian dan cintanya, Tidak ada satupun yang ia bedakan. Dan kali ini, Ruth merasa telah buta hati. Bagaimana ia lupa dengan sikap bijaksana sang suami. Selama ini, Dava selalu perhatian dengan Putri, meski bocah itu bukanlah siapa-siapa darinya.


"I love you, Dav..." lirihnya memeluk sang suami.


"I love you too, istriku." Dava melepaskan pelukan itu dan tersenyum seraya mengusap wajah basah sang istri.

__ADS_1


"Tunggu di sini. Aku akan bersiap." pintahnya dan Ruth mengangguk setuju mendengar titah sang suami.


__ADS_2