
Kepergian Sendi yang tak mengatakan sepatah katapun tak membuat wanita yang terbaring lemah kini merasa penasaran. Rasa rindu pada sang suaminya, membuat ia ingin menutup mata dan telinga tentang siapa pun di luar sana termasuk Sendi, kakaknya sendiri.
Kini keduanya saling terdiam. Manik mata cokelat milik Ruth menatap penuh harap pada sang suami yang kini berbaring memeluknya di atas tempat tidur pasien yang berukuran sangat kecil.
"Sayang..." lirih Dava mengelus kepala sang istri yang memeluknya erat saat ini.
Ruth menengadah menatapnya. "Hem?" ucapnya.
"Aku ingin membersihkan tubuh lebih dulu." jawab Dava pelan.
Tubuhnya terasa sangat panas berdekatan dengan wanita yang menjadikan debaran jantungan berpacu dua kali lebih cepat dari biasanya.
"Dav, nanti saja. Aku masih merindukanmu. Hem..." Bibir mungil berwarna merah muda segar itu bergerak mencicipi bibir merah milik sang suami yang terkesan sangat seksi itu.
Dava terpejam saat mendapatkan sentuhan dari sang istri, ia sadar di bagian bawah tubuhnya ada sesuatu yang menegang kini.
Perasaan ingin melampiaskan lebih jauh membuatnya kesulitan mengontrol napasnya. "Ehem..." dehemnya menyadarkan kembali birahi yang sudah semakin memuncak.
Dava buru-buru melepaskan pelukan tangan yang memeluknya. Ia menggelengkan kepalanya pelan.
"Biarkan aku mandi dulu. Okey?" Dengan berat hati Ruth mengerucutkan bibirnya.
Ia sudah ingin melakukan lebih jauh lagi saat ini. Entah mengapa perasaan akan kebutuhan batinnya jauh lebih tinggi dari biasanya.
"Baiklah, segeralah kembali." jawabnya dengan wajah kecewa yang ia tutup dengan senyuman.
Dava mengangguk dan membawa tubuhnya untuk turun dari tempat tidur itu.
Di sini, di dalam kamar mandi. Pria tampan yang sedari tadi mencoba untuk terlihat baik-baik saja baru mengeluarkan apa yang ia berusaha tahan beberapa saat yang lalu.
Matanya sudah kembali memerah, ia berdiri memegang tembok pembatas kamar mandi. Wajahnya menunduk meratapi setiap rintikan air shower yang membasahi tubuhnya.
Memikirkan apa yang harus ia lakukan? apa yang harus ia katakan pada sang adik? Bagaimana dan kapan ia harus berterus terang? Semuanya membuat pikiran pria itu tidak bisa berpikir dengan tenang seperti biasanya.
"Mengapa Tuhan? Mengapa harus istriku yang menjadi adikku? Mengapa?!" jeritan dalam batin Dava membuatnya tak mampu menahan kemarahan dalam hatinya. Ia menangis untuk beberapa saat hingga akhirnya terdengarlah suara ketukan pintu dari luar kamar mandi tersebut.
Tok Tok Tok
__ADS_1
"Dav..." Suara wanita yang paling membuat Dava patah hati dan juga bersemangat untuk tetap berdiri kini menarik kembali pikiran kalutnya.
Dava menoleh ke arah sumber suara. Ia mengusap wajahnya yang basah air dan air mata sesegera mungkin. Tangannya buru-buru meraih shampo, sabun, dan juga sikat gigi yang masih terbungkus rapir di atas wastafel.
"Sebentar lagi, Sayang." serunya berteriak dari dalam kamar mandi.
Di luar Ruth memegangi kepalanya yang terasa berdenyut kembali saat memaksakan untuk berdiri mendekati kamar mandi.
"Aduh...kepalaku." rintihnya memegang dan memijit keningnya yang terasa berputar saat itu juga.
"Dav...Dava! Kepalaku sakit sekali." Ruth terperosok hingga duduk di lantai dengan botol infus yang ia genggam sedari tadi.
Matanya terlihat sudah tidak bisa terbuka dengan sempurna. Ia meneteskan air mata mengingat betapa menderitanya ketika seorang wanita menjalani proses kehamilan.
Sementara dirinya, sampai saat ini tidak bisa memberikan apa pun pada sang Bunda. Kepergian Bundanya, menyadarkan akan semua kekurang Ruth sebagai anak.
"Tunggu sebentar, Sayang!" teriak Dava segera menyelesaikan aktifitas mandinya saat mendengar teriakan sang istri.
Ia meraih handuk dan keluar tanpa mengenakan pakaian bawah. Hanya kaos putih polos yang menempel di tubuhnya saat ini.
"Ruth, bangun Sayang. Ruth, ada apa?" Dava panik saat melihat sang istri sudah terbaring di depan pintu.
Wajah ayu yang terlihat sangat pucat, selan infus yang sudah terisi dengan cairan warna merah membuat mata hitam Dava membulat sempurna.
"Ruth! Ruth! Jangan membuatku khawatir." Dava meraih tubuh sang istri dan menggendongnya kembali ke atas tempat tidur.
Kepanikan dalam dirinya tak membuatnya sadar akan penampilannya saat ini. Dava berlari keluar ruangan rawat untuk memanggil siapa pun yang bisa membantunya. Bahkan tombol di kamar rawat itupun tidak sempat membuatnya teringat fungsinya.
"Dokter! Suster!"
"Dokter!"
"Suster! Sus, tolong istri saya." Dava berteriak di depan pintu ruangan rawat sang istri.
"Mari, Bapak." Suster yang lewat di lorong tersebut segera mengikuti langkah Dava masuk ke dalam ruangan.
"Sus, tolongin istri saya. I-itu kenapa selangnya sampai berwarna merah seperti itu, Sus? Apa kalian memberikan perawatan buruk pada istri saya? Ada apa ini Suster? Saya tidak mau tahu sembuhkan istri saya, Sus. Tolong!" Dava terus berteriak tanpa bisa mengendalikan dirinya lagi.
__ADS_1
Keringat di dahinya menyatu dengan air mandi yang belum sempat ia usap. "Maaf Bapak, tolong anda tenang lebih dulu. Biarkan saya memanggil Dokter. Sebentar lagi selang infusnya akan kembali normal, Pak." Suster tersebut menenangkan Dava dengan gerakan tangannya yang memeriksa keadaan pasien di depannya saat ini.
"Permisi," sapa seorang Dokter yang baru saja masuk ke dalam ruangan.
"Dokter, tolong istri saya. Tolong Dokter. Jangan sampai kandungannya kenapa-kenapa." Dava sampai memegang lengan sang Dokter tanpa sadar.
Ia tak perduli dengan tatapan dokter tersebut dan juga suster yang melihat ke arah tubuh bagian bawahnya.
"Dokter, tolong cepat lakukan!" Dava sampai berteriak dengan nada bicara yang tinggi saat itu.
"Em...ba-baik Pak. Harap tenang." tutur sang Dokter dengan wajah seriusnya memeriksa keadaan Ruth.
Dava diam menunggu hasil dari pemeriksaan yang di lakukan oleh Dokter tersebut.
"Bagaimana, Dok?" tanya Dava kembali setelah memeriksa kondisi Ruth.
"Keadaannya janinnya sangat baik, Bapak. Hanya saja tekanan daranya memang cukup buruk." tutur sang Dokter membaca hasil periksaannya.
Dava tertunduk meratapi wajah pucat sang istri. "Apa ada yang lain, Dokter?" tanya Dava kembali.
"Tidak, Pak. Semuanya baik-baik saja. Jika keadaan tekanan darah istri Bapak sudah normal semuanya akan baik-baik saja." terang Dokter dengan tersenyum ramah. Meski matanya beberapa kali lepas kontrol untuk melirik ke arah bawah Dava.
Handuk mini yang melilit di pinggangnya mencuri perhatian dua wanita cantik berseragam kesehatan tersebut.
"Baik. Kalau begitu kami permisi, Pak. Semoga istri anda segera membaik. Saran saya untuk menjaga pikiran dan aktifitas yang berat di awal kehamilan."
Dava mengangguk patuh lalu tersenyum hangat. "Terimakasih, Dokter." ucapnya mempersilahkan dua wanita itu untuk keluar.
"Ada apa dengan mereka?" tanyanya dengan kening yang berkerut memperhatikan dua wanita tersebut berlari cepat untuk keluar dari ruangan sang istri.
Ceklek!" Suara pintu terdengar tertutup.
"Haaahhh...Gila wajahnya bikin meleleh, yah sus."
"Iya, Dok. Apalagi otot perutnya yang sispek itu, beuh...bikin ileran sumpah. Bisa bikin tidur saya nggak nyenyang entar malam nih."
Keduanya terus bergosip ria sepanjang jalan tanpa malu-malu lagi. Kehadiran Dava di rumah sakit mereka, sunggu mencuri perhatian mereka dengan wajah tampan dan senyuman yang meneduhkan. Terlebih suara lembut khas milik Dava terus membuat pendengarnya berandai untuk di perhatikan.
__ADS_1