Perjuangan Cinta Nona Ruth

Perjuangan Cinta Nona Ruth
Chapter 15. Perbedaan Agama


__ADS_3

Pelangi hanya akan terjadi saat hujan turun, ketabahan hanya terbentuk saat luka menusuk jiwa. Begitu halnya denganmu. Jika kesedihan akan terjadi kala hati yang begitu berbunga seketika hancur hanya karena cinta. Jika mungkin terlalu sulit untuk memulai semua...yakinlah semua kekecewaan yang datang hanya salah satu cara Tuhan untuk mengatakan 'Aku punya sesuatu yang lebih baik.'  Sabar dan jalani hidup.


"Aku sudah mengucapkan terimakasih untukmu yang sudah singgah lalu pergi. Setidaknya, aku pernah merasakan bahagia walau sesaat." ucapan Ruth begitu pilu. Bahkan dua netra indah miliknya tengah berusaha keras menahan bendungan air mata saat menatap dua bola mata pria yang sampai detik ini pun tidak sanggup ia benci.


"Ruth, semua salahku. Kita bisa memperbaiki hubungan kita semua dari awal. Aku tahu sebenarnya apa yang terjadi. Ini semua karena Ayah...aku minta maaf, Sayang." ucap Sendi menitihkan air matanya sembari meraih dan menggenggam jemari tangan yang sangat lama tak pernah lagi ia hangatkan.


"Aku mohon, putuskan hubunganmu dengannya, Sayang. Ruth, kau mencintaiku. Sampai kapan pun akan seperti itu. Kita segera menikah. Oke?" Kini Sendi menangkup wajah cantik Ruth tanpa memperdulikan sosok Dava di antara mereka berdua.


"Tuan  Sendi yang terhormat. Tidak cukup kah satu tamparanku tadi? apa perlu aku memperjelas semuanya lagi?"


Jika mungkin hati yang sakit dapat di tata kembali, tidak dengan kehancuran harapan Ruth kala mengingat bagaimana dirinya terhina di depan Tuan Deni dan kekasihnya saat itu. Bagaimana pun juga, ia sangat mengingat sosok Sendi yang bukannya membela, justru ia meninggalkan dengan sejuta amarah tanpa kepercayaan sedikit pun.


Lalu apa kali ini? ia kembali untuk meminta semuanya berlanjut? tanpa merasa malu dengan dirinya sendiri yang ikut tidak percaya. Tidak semudah itu. Hati yang hancur tidak akan mudah untuk kembali baik-baik saja.


"Ruth, kau tidak boleh seperti ini-"


"Mengapa?" Ruth terdengar berteriak histeris di depan wajah Sendi. "Mengapa aku tidak boleh seperti ini? apa kau lupa siapa yang sudah meninggalkan saat itu? Apa kau lupa siapa yang tidak percaya denganku? Tolong, pergi dari rumahku." ucapnya lirih setengah menahan amarah.


Mata yang sejak tadi menahan  air mata mendadak menjatuhkan buliran bening tanpa henti. "Dava adalah kekasihku. dan kami akan segera menikah. Jadi tolong jangan ganggu kami." Tangan wanita itu bergerak melingkar di lengan Dava tanpa permisi.


"Lagi pula, ingat dengan pernikahanmu dengan Dina. Pertahankan pernikahan kalian."


Sendi terdiam kala ia tersadar akan ucapan Ruth saat itu juga. Bagaimana bisa ia nekat ingin membawa Ruth bersamanya lalu menikah? sedangkan dirinya saja masih sah menjadi seorang suami.


Ruth mendorong tubuh Sendi dan menutupkan pintu pria itu tanpa mau menatap wajah sendu itu. Ia tahu jika Sendi masih begitu berpengaruh melemahkan hatinya sampai saat ini.


Sakit sekali jika bayangan kala itu teringat kembali di benaknya. Ruth yang menjadi omonga satu kantor tampak begitu di rendahkan. Tapi apa yang di lakukan Sendi? justru pria itu meninggalkannya tanpa pembelaan sedikit pun.


Pintu yang kini sudah tertutup rapat meninggalkan kesedihan yang mendalam pada sosok wanita yang tampak bersandar dengan tatapan nanar tanpa suara maupun isak tangis.


Cukup sudah penderitaan pada dirinya selama ini, "Aku tidak akan menangisinya lagi. Ruth, kau wanita kuat." ucapnya dalam hati memberi kekuatan pada dirinya sendiri.

__ADS_1


"Tolong urus segala keperluan pernikahan saya dengan Nona Ruth..." Suara pria yang sangat familiar mendadak terdengar mengejutkan Ruth saat itu.


Matanya bergerak mengarah sumber suara. Di sana Dava tengah memegang ponselnya dengan posisi tubuh berdiri sebelah tangannya berada di saku celana. Benar, meski dari posisi belakang ia sangat tampan. Postur tubuh yang sangat indah tentunya untuk di pandang sekali pun berbalut jas mewah.


"Baik, terimakasih. Pastikan semuanya secepatnya. Dan siapkan semua acaranya." ucapnya begitu jelas terdengar.


"Menikah? denganku? tidak. Ini tidak mungkin. Dia pasti sudah gila." Ruth berkata pada dirinya sendiri sembari merasa tidak percaya apa yang baru saja ia dengar.


Di sudut ruangan tamu, Dava baru saja mengakhiri panggilannya dengan seseorang yang entah siapa. Hanya dirinya yang tahu akan hal itu.


"Aku harap kau tidak gila, Tuan? Kau bercanda kan?" tanya Ruth to the point.


Dava tampak tersenyum kecil. Justru senyuman itu yang tanpa sadar membuat hati Ruth mendadak berdebar aneh.


"Aku serius. Mungkin hanya satu ini yang mampu aku lakukan untuk membantumu. Membantu ibu dari anak yang aku sayang seperti anakku sendiri. Kau tidak perlu besar kepala. Aku melakukan ini semua hanya murni untuk membantu." terangnya tanpa mengakui apa yang sebenarnya menjadi tujuan utama pernikahan itu.


"Tidak, ini tidak mungkin. Kau pikir aku akan memohon pertolonganmu? dan mengemis cinta darimu? tidak. Itu tidak akan pernah terjadi. Ingat Tuan-"


Bagaimana mungkin Dava selancar itu menjabarkan orang-orang yang akan terlibat dalam kehidupan Ruth kedepannya jika tidak mencari tahu semuanya terlebih dahulu?


"Heh...apa itu cinta? aku bahkan tidak mengerti arti cinta. Aku benci kata itu. Dan aku tidak akan pernah mencintai dan tidak pernah sekalipun mencintai pria sepertinya." sahut Ruth tersenyum miris. Mungkin dalam ucapannya kata-kata itu benar-benar jelas terdengar. Namun tidak dalam hatinya.


Luka yang di torehkan Sendi padanya benar-benar dalam dan membekas.


 


***


Dan setelah malam itu, keputusan dua belah pihak dengan alasan yang berbeda dan tujuan yang berbeda juga tentunya.


Hari ini, pagi ini, pukul 09.00 tepat Ruth Surya Dinata, gadis berusia 21 tahun resmi menjadi istri seorang Dava Sandronata.

__ADS_1


"Ehem..." Suara deheman seorang pria berwajah dingin tampak membuat tubuh si kecil Putri bergetar ketakutan.


Jemari mungil itu menggenggam tangan sang Mamah yang berpakaian anggun kala acara pemberkatan berlangsung dengan baik.


Mata yang seharusnya berbinar, kini tampak berair dan sembab. Lagi dan lagi, tangis yang harus Ruth lalui. Agama yang selama ini ia pegang teguh yaitu islam terpaksa harus ia tinggalkan demi kelangsungan hidupnya bersama Dava Sandronata. Pria yang berpegang teguh dengan agama kristen.


"Duduklah di sini. Aku berbicara dengan Ayahku sebentar." ucap Dava terkesan lembut dari pada biasanya pada Ruth. Manik matanya bisa menangkan aura kesedihan yang teramat mendalam di wajah anggun Ruth.


"Putri, Paman titip Mamah kamu yah. Paman kesana sebentar."


"Iya Paman," sahut Putri tersenyum lembut meski dalam benaknya bertanya-tanya apa yang terjadi pada sang Mamah? mengapa sejak awal acara selalu menitihkan air mata. Tapi entah mengapa hati bocah kecil itu seakan lebih tenang melihat sang Mamah bersama dengan Paman gantengnya dari pada bersama dengan Om Sendi.


"Mamah, kenapa menangis? Paman ganteng baik kok, Mamah. Malah Putli takut kalau Mamah sama Om Sendi." ucapnya begitu lugu dan polos.


"Hiks...hiks...hiks..." Ruth tanpa sanggung berkata apa-apa lagi langsung memeluk tubuh kecil Putri.


"Sayang...hiks hiks hiks." tangisnya semakin menjadi kala keduanya berada di kamar yang tampak beberapa penghias tengah bersiap mengganti make up dan pakaian pengantin wanita tersebut.


"Putri, Mamah tidak tahu harus berbicara apa lagi saat ini? Mamah benar-benar merasa hancur, Nak. Mamah sudah pindah agama bukan dari hati Mamah. Semua hanya karena pernikahan. Mama manusia tidak beragama, Sayang. Mamah wanita yang hancur. mamah wanita hina!" Ruth bahkan tak mampu berucap satu kata pun.


Tubuhnya begitu sakit terasa tertusuk dari dasar hati yang paling dalam rasanya.


Tok Tok Tok


Suara ketukan pintu kembali terdengar membuyarkan pelukan pilu dua wanita berbeda generasi itu. Ruth melepaskan pelukan dan mengusap air matanya.


Pintu terbuka perlahan. Tampaklah sosok wajah Mbok Nan yang selama ini menjadi Ibu sosok Ruth.


"Non Ruth," Mbok Nan tampak menitihkan air matanya melihat wajah sembab sang majikan yang sangat ia sayangi saat ini.


Wajah Ruth semakin memerah, kedua alisnya berkerut. "Mbok," ucapnya lirih sembari berlari memeluk tubuh renta itu.

__ADS_1


__ADS_2