
"Tuan..."
"Jalan, Pak." ucap Dava sudah duduk di kursi belakang sembari memejamkan matanya yang lelah.
Satu hari penuh berhadapan dengan pekerjaan, tentu membuat tubuhnya letih. Namun, menjadi pewaris tunggal perusahaan Nata Hensana membuatnya harus tetap kuat tanpa kenal lelah.
Mobil melaju memecah keramaian kota malam itu. Langit yang gelap tampak indah bertabur bintang.
Di teras rumah tampak dua wanita berbeda generasi tengah menikmati pemandangan di langit.
"Ayo Putri, kita masuk. Mamah Ruth pasti sudah di perjalanan, Sayang." ajak Mbok Nan yang merasa kedinginan karena hembusan angin malam itu begitu menusuk hingga ke pori-pori tubuhnya.
Putri menggeleng sembari menangkup wajahnya dengan kedua tangan mungilnya. "Putri mau nunggu Mamah Ruth, Mbok. Pasti sebentar lagi sampai. Mbok masuk saja dulu."
"Huuuuh..." helaan nafas Mbok Nan tampak pasrah terdengar.
"Yasudah, Mbok temani Putri saja deh." ucap Mbok Nan menyerah.
Keduanya saling berpelukan menatap rembulan yang terang di atas sana.
Tin Tin...
Dua wajah itu tampak terkejut dan tersenyum. Namun di detik berikutnya, Mbok Nan bersamaan dengan Putri mengernyitkan dahi mereka.
"Mbok...itu bukan Mamah."
"Iya Putri, itu bukan Mamah Ruth sepertinya. Tapi...siapa yah?" ucap keduanya saling bertanya.
Langkah kecil Putri mendekati arah mobil yang baru terparkir di depan rumah sang Mamah.
Brak! Suara mobil terbuka kemudian tertutup kembali.
Putri tersenyum begitu bahagia. "Paman ganteng..." serunya berlari menyambut kedatangan pria gagah di ambang pintu mobil mewah itu.
Dava tersenyum dan berjongkok demi mensejajarkan tubuh pada bocah kecil itu. "Sini peluk Paman." ucapnya kala melihat langkah Putri berhenti di depannya tanpa mau mendekat lebih lagi.
Putri menatap Dava, lalu menoleh ke belakang menatap Mbok Nan.
"Pergilah, Nak." ucap Mbok Nan menitihkan air matanya. Entah mengapa rasanya bahagia sekali melihat ada sosok pria yang begitu terasa tulus mencintai Putri.
Putri masuk ke dalam pelukan Dava. "Hem... hangat sekali pelukan Putri."
"Hehehe...Paman ternyata benelan yah mau datang ke lumah Putli lagi..."
"Iya dong, Sayang... kan Paman sudah janji."
"Tuan, ayo mari masuk ke rumah. Biar Mbok buatkan minum dulu." ajak Mbok Nan kemudian melangkah di ikuti oleh Dava dan Putri.
"Ayo Paman..." Putri menarik tangan Dava setelah melepas pelukannya.
"Iya, Sayang."
Hup...
__ADS_1
"Hehehe..." Putri tertawa mendapatkan gendongan mendadak.
Keduanya duduk di sofa ruang tamu, "Ini Paman ada hadiah buat Putri. Putri suka Barbie?"
"Wah...Paman ganteng. Barbienya cantik sekali. Putli suka Paman...hehehe."
"Terimakasih yah Paman ganteng." pelukan bocah kecil tampak membuat Dava merasakan ketenangan yang benar-benar menghilangkan letihnya.
"Sama-sama sayang."
Keduanya terus saling bercerita. Bahkan Putri terus mengembangkan senyumannya sembari bercerita.
Mbok Nan tampak ikut tersenyum melihat kebahagiaan di wajah Putri yang polos. Wajah mungil, bibir tumpis sangat meneduhkan hati seorang Dava.
Jelas terlihat Putri sangat antusias bercerita dan Dava sebagai pendengarnya dengan baik.
"Assalamualaikum..." Tiba-tiba suara wanita terdengar di ambang pintu.
"Walaikumsalam," ucap Putri, Dava, dan Mbok Nan bersamaan kemudian menoleh ke arah sumber suara sepatu heels yang beralun merdu.
Hanya sahutan itu saja yang terdengar.
"Terimakasih, Mbok." usap Ruth yang menyerahkan tas kerja miliknya pada Mbok Nan. Namun mata indahnya tertuju pada sang anak yang tampak acuh padanya.
Di sofa, Putri terlihat terus bercerita tentang beberapa film Barbie pada Dava.
"Ehem..." Deheman Ruth terdengar jelas kala itu.
Dava menoleh dan menatapnya. "Putri, itu ada Mamah datang." ucapnya.
"Ehm..." Dava menatap jam di pergelangan tangannya.
"Putri, Paman pulang dulu yah? sudah malam. Besok-besok kita ketemu dan bermain lagi." Dava mengusap kepala Putri dan mencium puncak kepala bocah itu.
Manik mata Ruth tertuju pada kehangatan di depannya. Matanya yang sendu mendadak berair.
Benar, baru kali ini ia melihat ada sosok pria yang terlihat tulus pada sang anak. Bahkan Dava sama sekali tidak ada ikatan hubungan dengannya. Murni hanya dengan sang anak.
"Ruth, saya pulang dulu." Dava melangkah mendekat pada Ruth dan tersenyum.
"Hem..." ucap Ruth tanpa kata.
"Sayang, peluk Paman sini...aduuuh lelah Paman rasanya hilang." Dava mengeratkan pelukannya. "Istirahat yah setelah ini."
"Iya, Paman. Terimakasih."
Putri melangkah ke arah Dava hendak mengantarnya. "Putri, masuk ke kamar. Mamah yang antar Paman ke depan." sahut Ruth dengan wajah datarnya.
Langkah kaki bocah itu pun terhenti seketika. "Iya, Mamah." ucapnya.
Putri masuk ke dalam kamar, sementara Dava dan Ruth melangkah ke arah depan rumah.
"Boleh saya minta untuk anda tidak perlu lagi datang ke rumah saya, Tuan?" Ruth menatap dingin pada wajah pria yang ada di hadapannya saat ini.
__ADS_1
"Untuk soal malam itu, saya ucapkan terimakasih banyak telah menolong. Tapi saya minta jangan berharap hal lebih."
Dava menggeleng pelan dan menghela napas kasar. Ia tersenyum kecut namun langkah kaki itu bergerak mendekat pada sosok Ruth.
"Hei...anda mau apa?" tanya Ruth begitu terkejut. Kakinya melangkah mundur perlahan demi menghindari sosok pria misterius di depannya.
"Apa kau takut jatuh cinta denganku? Hem...?" senyuman licik Dava tampak jelas membuat seluruh tubuh Ruth merinding.
"Apa-apaan ini? menjauh dariku! atau kau-"
"Atau apa?" tanyanya Dava memotong ucapan Ruth seketika.
"Huuuh!" Tiupan nafas terasa jelas tercium di wajah Ruth kala pria itu meniup rambut di kening Ruth.
"Aku menyukai Putri, dan kau...juga harus menyukaiku, Ruth." ucap Dava menghilangkan senyuman di wajahnya.
Benar-benar pria gila. Dia pikir seenak itu memutar haluan perasaan pada orang? terlebih dirinya itu siapa? hanya orang asing bagi Ruth, bukan?
Dava berbalik dan melangkah ke arah mobil yang sudah siap mengantarkan kepulangannya ke rumah.
Manik mata Ruth menatap kesal padanya. "Pria gila! Pergilah dan jangan kembali lagi." Ia terus berteriak hingga mobil sedan hitam melesat pergi dari halaman rumah yang tampak sunyi itu.
"Pak Landu," panggil Dava pelan.
"Iya, Tuan? apa anda memerlukan sesuatu?" tanya sang supir dengan antusias.
"Apa sebelumnya kita pernah ke kawasan ini? mengapa saya sangat menyukai kawasan di sekitar rumah itu?" tanya Dava menduga-duga.
"Em...seingat saya belum pernah, Tuan. Dan ini adalah kedua kali kita berkunjung ke rumah Nona cantik itu."
"Huuuuh...bukan itu yang saya maksud, Pak. Saya hanya merasa tidak asing dengan jalanan ini." terang Dava merasa terus penasaran dengan ketertarikan yang ia rasakan saat ini.
"Mungkin anda hanya Dejavu, Tuan."
"Em... sepertinya benar kata Bapak. Baiklah."
Setelah percakapan keduanya, akhirnya Dava memejamkan matanya menikmati perjalanan yang melelahkan. Meski hatinya terasa terhibur setelah bertemu dengan sosok Putri.
Berbeda halnya dengan suasana di kamar yang masih tampak terang benderang.
Ruth menangis memeluk tubuhnya sendiri dengan erat. Matanya terus menatap wajah Sendi yang berdiri kokoh di dalam sebuah lukisan yang terpasang di dinding kamarnya.
"Kamu jahat, Sendi. Kamu benar-benar penipu!" teriaknya meraih bingkai lukisan itu dan membantingnya ke lantai.
Hancur berkeping-keping kaca bingkai itu. Sehancur perasaan Ruth malam ini. Senyuman hangat sosok Sendi terus terlintas di ingatannya.
Bahkan gambaran pria berjas hitam dengan wanita bergaun putih seakan seperti kaset yang terus berputar di benaknya.
Malam ini adalah malam di mana Sendi melangsungkan pernikahan dengan sang istri.
"Sayang," suara lemah lembut seiring tarian jemari lentik yang bergerak di bagian bahu pria itu benar-benar sangat menggoda malam itu.
Suasana kamar yang sudah tampak indah bertabur kelopak mawar merah dan cahaya lilin yang remang-remang menambah kesan romantis.
__ADS_1
"Ada apa? aku belum siap melakukannya." tolak Sendi enggan menatap wajah cantik di belakangnya.